“Ia jatuh dilaut.”
“Oh.”
“Anak nakal.
Kerjanya hanya bergelantungan ditepi perahu. Untuk jurumudi
sigap. Ia langsung memutar haluan. Ketika, Kasim diangkat diatas
perahu, tubuhnya berwarna biru.”
Karsita menatap muka pamannya agak lama. Tidak sebuah perkataan pun
keluar dari mulutnya.
“Ini oleh –oleh untuk emakmu,” kata Pak Sapingi kemudian. Ia
menyorongkan enam ekor ikan tenggiri. Seudah itu dia membelok kekiri.
Masih lama Karsita memikirkan pengalaman Pak Liknya. Dan selama kakinya
melangkah maju diatas pasir yang panas, angan –angan mencoba
menggambarkan kejadian yang sebenarnya. Dalam hal ini ia gagal sebab ia
belum pernah pergi kelaut. Aneh sebetulnya tetapi itulah kenyataanya.
Setiap anak kampung Nelayan Eretan mengenal laut dan pernah pergi
kelaut. Hanya dirinya yang merupakan pengecualian. Ia mengluh panjang
dan melayangkan pandangannya kelaut. Pada saat matanya menangkap ombak
berkepala putih
yang bergulung-gulung dengan suara gemuruh kearah pantai, perutnya
terasa mulas. Rasa takut memenuhi dirinya, ia merasa seolah olah ada
tangan besar yang ingin menangkap dirinya. Dengan tubuh gemetaran ia
membelok kekiri menjauhi pantai. Ia tidak melihat ombak lagi. Ia tidak
mau ditangkap raksasa penguasa laut utara seperti yang selalu
diseritakan ibunya.
“Ada apa, Kar?” tanya sebuah suara dari sebalah kiri. Karsita tersirap
lalu menoleh” saya dikejar anjing,” jawabnya bohong. Dadanya turun naik
tak karuan.
“tentu anjing Pak Saman,” seru mustafa, anak yang besar.
“Memang kata Karsita lega,
“Ikut?” Karsita balik beranya.
“Mengail.”
“Dilaut?”
“Ya.”
“segan.”
Kedua temannya tertawa
“Mengapa kamu takut pergi kelaut, Ta?” tanya Mustafa polos.
Karsita tidak menyahut.
“ sebagai anak nelayan seharusnya kamu malu” tambah Ropingi
Temanya masih tetap bungkam
“Pada waktu kecil saya takut kepada air,” Kata Mustafa. “tetapi kini
seminggu saja tidak pergi kelaut, membuat saya panas dingin.”
Karsita merasa terpojok.
“Apakah nanti malam kalian ada dirumah ?”
Tanyanya mengalihkan pembicaraan.
“Ada apa?” Ropingi balik bertanya.
“Saya dengar Pak Susila menangkap Tarling.”
“Betul?” Ropingi menoleh kearah Mustafa.
“saya tidak tahu, jawab temannya.
“benar .” seru Karsita.
“Jika begitu kita harus melihat ,” ajak Ropingi.
“Bukankah besok kita sekolah ?” Tukas Mustafa.
“Alaaaa. Kita tidak akan lama berada disana. Disamping itu kita masuk
sore.”
“Lebih baik kita berangkat sekarang. Kemudian Mustafa menoleh kearah
Karsita. “jangan lupa mampir Dirumah saya nanti mala,” Tambahnya .
Karsita berjanji. Didalam hati ia merasa bersyukur bisa melopaskan diri
dari olok-olok temannya. Mengapa ia takut pergi kelaut? Ibunya selau
bercerita bahwaa ditengah laut bediam seorang raksasa jahat. Dan ia
percaya kepadanya. Bukan tidak sedikit nelayan yang tidak pulang kampung
halamannya? Saya harus cepat pulang katanya kemudian. Setelah melihat
letak matahari sebentar, dengan segera ia memperceat langkahnya. Ia tahu
ibunya memerlukan dirinya.