Kontributor

Jumat, 26 Oktober 2018

SELEMBAR BULU MATA _30 Kisah Teladan 5


Tobat adalah yang dapat mengikis segala dosa. Tobat yang dimaksud adalah penyesalan untuk tidak mengulanginya kesalahan semula. Biasanya dikenal dengan taubatan nasuha. Artinya, kadang –kadang tidak hanya terucapkan dengan lisan, hanya bergema didalam jiwa. Karena Allah maha penyayang, tobat dengan cara itupun bisa diterima.
               Pernah seorang musyafir tersesat ditengah belantara. Ia mencari –cari jalan keluar tak dijumpainya. Maka dengan lemah lunglai ia beristrahat dibawah sebuah pohon rindang. Keledainya ditambatkan pada salah satu ranting yang menjulur ketanah. Ia tertidur. Ketika bangun, keledai itu sudah tidak berada ditempatnya. Sedangkan semua bekal perjalanannya, termasuk uang, selimut dan makanan serta minuman berada dipunggung keledai itu. Ia mencarinya kesana kemari sampai petang tidak ditemukanya. Ia terus mencari. Hingga jauh malam. Karena lelah dan mengantuk ditambah perutnya yang sudah kelaparan, ia terjatuh dibawah pohon dan setangah pingsan. Ia terasa ajalnya kian mendekat. Namun, ketika tiba –tiba agak siuman, tahu –tahu keledainya telah berdiri dimukanya. Alangkah gembiranya Musyafir itu. Seolah –olah ia telah hidup lagi setelah mati. Diciuminya keledai itu seraya berkata, “Ya Allah. Engkau adalah hambaku, dan aku adalah Tuhan-Mu.
              Telah terpelaset lidahnya tanpa sadar. Seharusnya ia mengatakan: “Ya Allah engakau adalah Tuhanku, dan aku adalah hamba –Mu.” Tetapi ucapan itu terbalik sama sekali saking meluapnya kegembiraan hatinya. Dan begitulah gambaran yang yang diperumpamakan Nabi SAW mengenai kegembiraan Allah menyambut hamba –Nya yang bertobat seperti Musyafir yang tersesat dan kehilangan keledainya namun ditemukannya kembali. Dan karena berkesengatan suka citanya ia hingga tersandung lidahnya mengucapkan kalimat yang terputar balik.

                 Itulah kemurahan Allah. Bahkan ada yang lebih hebat lagi. Konon pada hari pembalasan kelak, ada seorang hamba Allah yang diadili dihadapan Tuhan. Ia dituduh bersalah, menyia –nyiakan umurnya didunia untuk berbuat maksiat. Tetapi tetap bersikeras membantah.
“ Tidak, demi langit dan bumi sungguh tidak benar. Saya tidak melakukan semua itu. “
“Tetapi saksi –saksi mengatakan engkau betul –betul telah menjerumuskan dirimu sendiri kedalam dosa, jawab malaikat.
               Orang itu menoleh kekiri dan kekanan, lalu segenap penjuru. Tetapi anehnya, ia tidak menjumpai seorang saksi yang sedang berdiri. Disitu hanya dia sendirian. Makanya iapun menyanggah, manakah saksi –saksi yang kau maksudkan? Disini tidak ada siapa –siapa kecuali aku dan suaramu.”
“Inilah saksi –saksi itu,” ujar malaikat.
Tiba –tiba mata angkat bicara, “saya yang memandangi.”
Disusul oleh telinga, “saya yang mendengarnya.”
Hidung pun tidak ketinggalan. “Saya yang mencium.”
Bibir mengaku, “saya yang merayu.”
Lidah menambah, “ Saya yang menghisap.”
Tangan meneruskan, “saya yang meraba dan meremas.”
Kaki menyusul, “saya yang dipakai lari ketika ketahuan.”
            “ Nah, kalau kubiarkan , seluruuh anggota tubumu akan memberikan kesaksian tetang perbuatan aibmu itu,” ucap malaikat.
Orang itupun tidak dapat membuka sanggahannya lagi. Ia putus asa dan amat berduka karena sebentar lagi akan djobloskan kedalam Jahannam.
Padahal, rasa-rasanya ia telah terbebas dari tuduhan dosa itu.
Tatkala ia sedang dilanda kesedihan itu, sekonyong –konyong suara yang amat lembut dari selambar bulu matanya:
             “Saya pun ingin juga mengangkat sumpah sebagai saksi.”
“Silahkan,” kata malaikat
“ Terus terang saja, menjelang ajalnya, pada suatu tengah malam yang lengang, aku pernah dibasahinya dengan air mata ketika ia sedang menangis menyesali perbuatan buruknya. Bukankan Nabinya pernah berjanji. Bahwa apabila ada seorang hamba kemudian bertobat , walau selembar bulu matanya saja yang terbasahi air matanya, namun sudah diharamkan dirinya dari ancaman api neraka? Maka saya selembar bulu matanya, berani tampil sebagai saksi bahwa ia telah melakukan tobat sampai membasahi saya dengan air mata penyesalan.”
              Konon, dengan kesaksian selembar bulu mata itu, orang tersebut dibebaskan dari neraka dan diantarkan kesurga. Sampai terdengar suara bergaung kepada suara penghuni surga: “Lihatlah. Hamba Tuhan ini masuk surga karena pertolongan bulu mata.”
Sumber : 30 Kisah Teladan 5 “ K.H. Aburrahman Arrosi” hal. 91-94.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar