Kontributor

Minggu, 05 Agustus 2018

Sejarah Semen

Semen dalam perkembangan
peradaban manusia khususnya dalam hal
bangunan, tentu kerap mendengar cerita
tentang kemampuan nenek moyang
merekatkan batu-batu raksasa hanya
dengan mengandalkan zat putih telur,
ketan atau lainnya. Alhasil, berdirilah
bangunan fenomenal, seperti Candi
Borobudur atau Candi Prambanan di
Indonesia ataupun jembatan di Cina yang
menurut legenda menggunakan ketan
sebagai perekat. Ataupun menggunakan
aspal alam sebagaimana peradaban di
Mahenjo Daro dan Harappa di India
ataupun bangunan kuno yang dijumpai di
Pulau Buton
Benar atau tidak, cerita, legenda tadi
menunjukkan dikenalnya fungsi semen
sejak zaman dahulu. Sebelum mencapai
bentuk seperti sekarang, perekat dan
penguat bangunan ini awalnya merupakan
hasil percampuran batu kapur dan abu
vulkanis. Pertama kali ditemukan di zaman
Kerajaan Romawi, tepatnya di Pozzuoli,
dekat teluk Napoli, Italia. Bubuk itu lantas
dinamai pozzuolana. Sedangkan kata
semen sendiri berasal dari caementum
(bahasa Latin), yang artinya kira-kira
"memotong menjadi bagian-bagian kecil
tak beraturan". Meski sempat populer di
zamannya, nenek moyang semen made in
Napoli ini tak berumur panjang. Menyusul
runtuhnya Kerajaan Romawi, sekitar abad
pertengahan (tahun 1100 - 1500 M) resep
ramuan pozzuolana sempat menghilang
dari peredaran.
Baru pada abad ke-18 (ada juga
sumber yang menyebut sekitar tahun 1700-
an M), John Smeaton - insinyur asal Inggris -
menemukan kembali ramuan kuno
berkhasiat luar biasa ini. Dia membuat
adonan dengan memanfaatkan campuran
batu kapur dan tanah liat saat membangun
menara suar Eddystone di lepas pantai
Cornwall, Inggris.
Ironisnya, bukan Smeaton yang
akhirnya mematenkan proses pembuatan
cikal bakal semen ini. Adalah Joseph Aspdin,
juga insinyur berkebangsaan Inggris, pada
1824 mengurus hak paten ramuan yang
kemudian dia sebut semen portland.
Dinamai begitu karena warna hasil akhir
olahannya mirip tanah liat Pulau Portland,
Inggris. Hasil rekayasa Aspdin inilah yang
sekarang banyak dipajang di toko-toko
bangunan.
Sebenarnya, adonan Aspdin tak beda
jauh dengan Smeaton. Dia tetap
mengandalkan dua bahan utama, batu
kapur (kaya akan kalsium karbonat) dan
tanah lempung yang banyak mengandung
silika (sejenis mineral berbentuk pasir),
aluminium oksida (alumina) serta oksida
besi. Bahan-bahan itu kemudian dihaluskan
dan dipanaskan pada suhu tinggi sampai
terbentuk campuran baru. Selama proses
pemanasan, terbentuklah campuran padat
yang mengandung zat besi. Nah, agar tak
mengeras seperti batu, ramuan diberi
bubuk gips dan dihaluskan hingga
berbentuk partikel-partikel kecil mirip
bedak.
Pengaduk semen sederhana.
Lazimnya, untuk mencapai kekuatan
tertentu, semen portland berkolaborasi
dengan bahan lain. Jika bertemu air (minus
bahan-bahan lain), misalnya, memunculkan
reaksi kimia yang sanggup mengubah
ramuan jadi sekeras batu. Jika ditambah
pasir, terciptalah perekat tembok nan
kokoh. Namun untuk membuat pondasi
bangunan, campuran tadi biasanya masih
ditambah dengan bongkahan batu atau
kerikil, biasa disebut concrete atau beton.
Beton bisa disebut sebagai mahakarya
semen yang tiada duanya di dunia. Nama
asingnya, concrete - dicomot dari
gabungan prefiks bahasa Latin com, yang
artinya bersama-sama, dan crescere
(tumbuh). Maksudnya kira-kira, kekuatan
yang tumbuh karena adanya campuran zat
tertentu. Dewasa ini, nyaris tak ada gedung
pencakar langit berdiri tanpa bantuan
beton.
Meski bahan bakunya sama, "dosis"
semen sebenarnya bisa disesuaikan
dengan beragam kebutuhan. Misalnya, jika
kadar aluminanya diperbanyak, kolaborasi
dengan bahan bangunan lainnya bisa
menghasilkan bahan tahan api. Ini karena
sifat alumina yang tahan terhadap suhu
tinggi. Ada juga semen yang cocok buat
mengecor karena campurannya bisa
mengisi pori-pori bagian yang hendak
diperkuat.