Kontributor

Sabtu, 27 Oktober 2018

Cerita_ Nelayan Eretan

“Ia jatuh dilaut.”
 “Oh.” 
“Anak nakal. 
     
      Kerjanya hanya bergelantungan ditepi perahu. Untuk jurumudi sigap. Ia langsung memutar haluan. Ketika, Kasim diangkat diatas perahu, tubuhnya berwarna biru.” Karsita menatap muka pamannya agak lama. Tidak sebuah perkataan pun keluar dari mulutnya. 
       “Ini oleh –oleh untuk emakmu,” kata Pak Sapingi kemudian. Ia menyorongkan enam ekor ikan tenggiri. Seudah itu dia membelok kekiri. Masih lama Karsita memikirkan pengalaman Pak Liknya. Dan selama kakinya melangkah maju diatas pasir yang panas, angan –angan mencoba menggambarkan kejadian yang sebenarnya. Dalam hal ini ia gagal sebab ia belum pernah pergi kelaut. Aneh sebetulnya tetapi itulah kenyataanya. Setiap anak kampung Nelayan Eretan mengenal laut dan pernah pergi kelaut. Hanya dirinya yang merupakan pengecualian. Ia mengluh panjang dan melayangkan pandangannya kelaut. Pada saat matanya menangkap ombak berkepala putih yang bergulung-gulung dengan suara gemuruh kearah pantai, perutnya terasa mulas. Rasa takut memenuhi dirinya, ia merasa seolah olah ada tangan besar yang ingin menangkap dirinya. Dengan tubuh gemetaran ia membelok kekiri menjauhi pantai. Ia tidak melihat ombak lagi. Ia tidak mau ditangkap raksasa penguasa laut utara seperti yang selalu diseritakan ibunya.
       
         “Ada apa, Kar?” tanya sebuah suara dari sebalah kiri. Karsita tersirap lalu menoleh” saya dikejar anjing,” jawabnya bohong. Dadanya turun naik tak karuan. “tentu anjing Pak Saman,” seru mustafa, anak yang besar. “Memang kata Karsita lega, “Ikut?” Karsita balik beranya. “Mengail.” “Dilaut?” “Ya.” “segan.” Kedua temannya tertawa 

         “Mengapa kamu takut pergi kelaut, Ta?” tanya Mustafa polos. Karsita tidak menyahut. “ sebagai anak nelayan seharusnya kamu malu” tambah Ropingi Temanya masih tetap bungkam “Pada waktu kecil saya takut kepada air,” Kata Mustafa. “tetapi kini seminggu saja tidak pergi kelaut, membuat saya panas dingin.” Karsita merasa terpojok. “Apakah nanti malam kalian ada dirumah ?” Tanyanya mengalihkan pembicaraan. “Ada apa?” Ropingi balik bertanya. “Saya dengar Pak Susila menangkap Tarling.” “Betul?” Ropingi menoleh kearah Mustafa. “saya tidak tahu, jawab temannya. “benar .” seru Karsita. “Jika begitu kita harus melihat ,” ajak Ropingi. “Bukankah besok kita sekolah ?” Tukas Mustafa. 

         “Alaaaa. Kita tidak akan lama berada disana. Disamping itu kita masuk sore.” “Lebih baik kita berangkat sekarang. Kemudian Mustafa menoleh kearah Karsita. “jangan lupa mampir Dirumah saya nanti mala,” Tambahnya . Karsita berjanji. Didalam hati ia merasa bersyukur bisa melopaskan diri dari olok-olok temannya. Mengapa ia takut pergi kelaut? Ibunya selau bercerita bahwaa ditengah laut bediam seorang raksasa jahat. Dan ia percaya kepadanya. Bukan tidak sedikit nelayan yang tidak pulang kampung halamannya? Saya harus cepat pulang katanya kemudian. Setelah melihat letak matahari sebentar, dengan segera ia memperceat langkahnya. Ia tahu ibunya memerlukan dirinya.

Cerita_ Nelayan Eretan

“Delapan belas ribu,” seru seorang laki –laki pendek berseragam itam. Sekali lagi Pak Somad melakukan tugasnya. Baru ketika seorang menawar sembilan belas ribu,” tidak ada seorang lain yang berani mengajkan tawaran lebih tinggi. 

       “Bayar harga ikan itu kepada kasir, Min,” kata Pak Somad kepada orang itu. Tidak lama kemudian ia menunjukan tumpukan ikan tongkol sebalah kiri. “milik Saleh,” teriaknya. “beratnya 52 kg. Dua puluh ribu rupiah.” Ia mulai menyebutkan sebuah harga. Apa yang terjadi kemudian merupakan ulangan apa yang terjadi sebelumnya. Harga makin lama makin tinggi. Sehingga pada suatu ketika tidak ada orang lain yang berani mengajukan tawaran. Dlam kedaan demikian penawar paling akhirnya yang menang. Ikan tongol itu terjual dengan harga Rp 40.000,- “Ta,”teriak Pak Somad suatu ketika. Sekali lagi Karsita maju kedepan “Ambilkan air teh saya.” Anak itu menurut.

        Karena pada pagi itu banyak ikan yang harus di jual, barulah satu setengah jam kemudian pelelangan usai. Pada waktu itu kemaja Pak Somad basah kuyup da mukanya berkeringat. Suaranya pun serak. Kini setiap pembeli berusaha untuk membawa ikannya keluar dari tempat pelelangan. “Ta,” panggil Bu Wirya yan gberdiri termangu –mangu didepan keranjang ikan ekor kuning. Karsita yang sedang melihat orang memilkul seekor ikan hiu besar dengan segera ia mendekat. “bawa ikan saya ke becak, Ta,” perintah Bu Wirya “ baik Bu,” jawab Karsita senang. Dengan segera ia mengangkat keranjang penuh ikan didepannya. Rupanya keranjang itu berat. Sebab beberapa kali ia meringis. Meskipun demikian, ketika Bu Wirya menyerongkan selembar uang ratusan mulutnya tersenyum kembali. Dan ini untuk sarapan dirumah,” kata Bu Wirya sambil menambahkan seekor ikan ekor kuning kecil. Tiga kali Karsita disuruh mengangkat keranjang serupa. Itulah sebabnya, ketika pelataran pelelangan kosong, didalam sakunya tersimpan uang sebanyak Rp.400. lumayan pikirnya senang sementara itu, sudut matanya melirik kearah dua ekor ikan ditangannya. 
 “Ta”’. 
         Seperti tersengat lebah Karsita membalik. “Lik,” serunya heran. Seorang laki –laki berumur sekitar 30 tahun dan mengenakan celana pendek serta kaos oblong tersenyum masam. Dengan segera ia menghampiri keponakannya. Apakah ayahmu tidak pergi kelaut?” tanyanya menyelidik. “Ayah sakit, Lik,”jawab Karsita. “Dari sebab itu, tadi malam saya tidak bertemu dengannya. “ “ Apakah biasanya Pak Lik bertemu dengan ayah ditengah laut?” Pak Sapingi mengiyakan. “Jika mencari ikan ayahmu tidak pernah berpindah temapat,” ujarnya sambil melihat kedepan tadi malam hampir mati, tambahnya geram. Mulut Karsita menganga. “Kasim?” tanyanya sambil menahan nafas. “Siapa lagi?” “Apa terjadi, Lik?” 
Baca selanjutnya.... 

Cerita _ Nelayan Eretan

           “Ta!” teriak Pak Somad tiba-tiba. Seorang laki –laki yang bertubuh ceking, berumur sekitar 12 tahun dan berwajah kehitam -hitaman maju kedepan. “ya, Pak ,” ujarnya begitu ia berdiri didepan juru lelang. “Dimana tongkat peninjuk saya?” Karsita melihat keliling sejenak. Sesaat kemudian ia membalik guna menorobos lingkaran orang. 
           Ketika kembali ditangannya ia membawa sebatang tongkat penjalin panjang. “ ini, Pak,’’ sambil menyorongkan benda tersebut kearah Pak Somad. Sekulum senyum menghias bibir orang itu. Sebentar kemudian ia memukul batang relnya kembali’ “teng, teng, teng, teng,” “Kita mulai.”teriaknya sesudah melihat jam tangannya. Beberapa orang yang tadinya berjongkok berdiri. Pak Somad menunjukkan sejumlah udang didepan. Udang ini milik Ramli. Beratnya 10,5 kg. Harganya Rp.10.000, - teriaknya nyaring. 

           Kemudian sambil melihat keliling ia terus merocos. Sepuluh ribu, sepuluh ribu, sepuluh ribu, sebelas ribu, sebelas ribu. Perlahan –lahan ia meningkatkan harganya. Tak seorang pun menjawab. Tiba –tiba ketika ia menyebut angka “enam belas ribu, seorang berteriak enam belas ribu limaratus.” Pak Somad menatap orang itu sebentar lalu meneruskan lelangnya. Enam belas ribu limaratus, enam belas ribu lima ratus, enam belas ribu lima ratus.” “tujuh belas ribu,” teriak seorang perempuan berbaju biru. Pak Somad mulai menyebutkan tawaran yang baru.
 Baca selanjutnya....