Kontributor

Sabtu, 27 Oktober 2018

Cerita_ Nelayan Eretan

“Delapan belas ribu,” seru seorang laki –laki pendek berseragam itam. Sekali lagi Pak Somad melakukan tugasnya. Baru ketika seorang menawar sembilan belas ribu,” tidak ada seorang lain yang berani mengajkan tawaran lebih tinggi. 

       “Bayar harga ikan itu kepada kasir, Min,” kata Pak Somad kepada orang itu. Tidak lama kemudian ia menunjukan tumpukan ikan tongkol sebalah kiri. “milik Saleh,” teriaknya. “beratnya 52 kg. Dua puluh ribu rupiah.” Ia mulai menyebutkan sebuah harga. Apa yang terjadi kemudian merupakan ulangan apa yang terjadi sebelumnya. Harga makin lama makin tinggi. Sehingga pada suatu ketika tidak ada orang lain yang berani mengajukan tawaran. Dlam kedaan demikian penawar paling akhirnya yang menang. Ikan tongol itu terjual dengan harga Rp 40.000,- “Ta,”teriak Pak Somad suatu ketika. Sekali lagi Karsita maju kedepan “Ambilkan air teh saya.” Anak itu menurut.

        Karena pada pagi itu banyak ikan yang harus di jual, barulah satu setengah jam kemudian pelelangan usai. Pada waktu itu kemaja Pak Somad basah kuyup da mukanya berkeringat. Suaranya pun serak. Kini setiap pembeli berusaha untuk membawa ikannya keluar dari tempat pelelangan. “Ta,” panggil Bu Wirya yan gberdiri termangu –mangu didepan keranjang ikan ekor kuning. Karsita yang sedang melihat orang memilkul seekor ikan hiu besar dengan segera ia mendekat. “bawa ikan saya ke becak, Ta,” perintah Bu Wirya “ baik Bu,” jawab Karsita senang. Dengan segera ia mengangkat keranjang penuh ikan didepannya. Rupanya keranjang itu berat. Sebab beberapa kali ia meringis. Meskipun demikian, ketika Bu Wirya menyerongkan selembar uang ratusan mulutnya tersenyum kembali. Dan ini untuk sarapan dirumah,” kata Bu Wirya sambil menambahkan seekor ikan ekor kuning kecil. Tiga kali Karsita disuruh mengangkat keranjang serupa. Itulah sebabnya, ketika pelataran pelelangan kosong, didalam sakunya tersimpan uang sebanyak Rp.400. lumayan pikirnya senang sementara itu, sudut matanya melirik kearah dua ekor ikan ditangannya. 
 “Ta”’. 
         Seperti tersengat lebah Karsita membalik. “Lik,” serunya heran. Seorang laki –laki berumur sekitar 30 tahun dan mengenakan celana pendek serta kaos oblong tersenyum masam. Dengan segera ia menghampiri keponakannya. Apakah ayahmu tidak pergi kelaut?” tanyanya menyelidik. “Ayah sakit, Lik,”jawab Karsita. “Dari sebab itu, tadi malam saya tidak bertemu dengannya. “ “ Apakah biasanya Pak Lik bertemu dengan ayah ditengah laut?” Pak Sapingi mengiyakan. “Jika mencari ikan ayahmu tidak pernah berpindah temapat,” ujarnya sambil melihat kedepan tadi malam hampir mati, tambahnya geram. Mulut Karsita menganga. “Kasim?” tanyanya sambil menahan nafas. “Siapa lagi?” “Apa terjadi, Lik?” 
Baca selanjutnya.... 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar