Kontributor

Kamis, 09 Agustus 2018

Puisi Cinta - Rahasia Rindu - Karya Uluan Sitorus

Rahasia Rindu
Oleh Uluan Sitorus
.
.
.
SORE sudah datang. Wajahnya merona indah
dengan semburatnya yang jingga, dan
semakin indah oleh paduan kicauan merdu
dari berbagai jenis burung-burung. Dengan
meriahnya, mereka bernyanyi-nyanyi sambil
mengantarkan sang raja siang ke bilik
peraduannya untuk melepaskan
kepenatannya. Diantara tingkah riang
burung-burung yang berloncatan kesana
kemari, langkahku segera bergegas ayun
meninggalkan ladang, tidak ingin
kemalaman di jalan, menghindari
sandungan oleh tajamnya bebatuan yang
berarak pongah.
.
Sesampainya di rumah, dengan agak malas-
malasan kurebahkan tubuhku diatas lantai.
Tidak berapa lama, rasa adem menyelimuti
sekujur tubuhku oleh belaian angin yang
menyeruak dari celah-celah lantai papan.
Maklum, rumah yang kutempati berbentuk
rumah panggung, peninggalan dari kakek
buyut, berratus tahun yang silam.
.
Dalam sebentar, pandanganku beredar
keseantero ruangan, kemudian terpaku ke
sepasang cecak yang sedang asyik berkejar-
kejaran di dinding. Nampaknya mereka
sedang berkasih-kasihan dengan mesranya,
seolah mengejek kesendirianku. Huh! atiku
terkesiap, jengah melihat tingkah polah
binatang merayap tersebut. Merasa tidak
kuat melihatnya, segera kupejamkan mataku
rapat-rapat. Pikiranku kubiarkan saja
kosong, sebab tidak sanggup lagi mengeja
satu-persatu kejadian-kejadian pahit yang
dengan piawinya telah meremas-remas
dinding kalbu. Tidak hanya itu saja,
kegagalan panen padi baru-baru ini, akibat
mewabahnya serangan hama dan penyakit,
yang juga dialami óleh para kawan-kawan
petani lainnya di desa ini serta di-desa-desa
sekitar, telah menambah jumlah garis-garis
kerinyit di kening. Bagaimana tidak? Semua
modal yang dituangkan hangus terbuang,
hanya menyisakan kesia-siaan belaka. "Ah!
Begini rupanya nasib petani kecil nan
miskin." gumanku lirih yang lalu disusul
terbangnya lamunanku, melayang jauh
entah singgah kemana.
.
.
*
.
"Pa! Pa! Buka pintunya, pa. Ini mama.
Buruan dong papa sayang. Mama
kedinginan nih," sebuah suara tiba-tiba
datang menyergap serta merobek
jantungku. Aku langsung diam terpatung
seraya menahan hentakan kesima, sebab
suara itu jelas-jelas berasal dari seorang
perempuan. Suara yang sangat kukenal.
"Loh! Bukankah itu suara isteriku yang telah
sepi semenjak beberapa bulan yang lalu?"
batinku terlonjak.
.
Menyadari hal itu, kakiku segera meloncat
tinggi-tinggi lalu melangkah panjang-
panjang hendak membukakan pintu.
.
"Pa! Mama kangen, pa." bisik isteriku, seraya
tangannya bergelayut di leherku.
.
"Papa juga. Bahkan hampir gila sejak mama
tidak berada disisiku." sahutku pelan.
Pelukanku langsung mengerat kuat-kuat,
setelah terlebih dulu menutupkan pintunya,
tidak mau melepaskannya lagi. Kami terdiam
cukup lama menikmati belaian gelinjang
rindu yang telah memasung sukma selama
waktu berbulan-bulan. Dan entah siapa yang
memulainya, kami segera terlibat dalam
permainan cinta yang menggila, hingga
tidak ada bagian-bagian dari tubuhnya yang
terlewati jamahan bibirku yang panas
berapi-api, melebihi panasnya lahar gunung
api yang paling panas. Sekian lama tubuh
kami meliuk-liuk dalam tarian asmara diatas
gelombang badainya yang bergelora buas,
sampai pada akhirnya terhempas dengan
lenguhan keras sebelum terseret ketepian
pantainya yang bening. Lantas terdiam
dalam pelukan mesra, menikmati sisa-sisa
deburannya yang masih menghentak-hent
ak semarak.
.
"Bagaimana keadaan papa selama ini?
Mama perhatikan dari tadi, papa sangat jauh
berubah, sepertinya jadi agak pendiam."
kata isteriku memecah kebisuan.
.
"Yaaah. Seperti yang mama bilang, papa jadi
orang pendiam, bahkan sangat pendiam.
Mulutku kelu kalau hendak berucap, sebab
tidak ada yang harus dikatakan lagi untuk
menyanggah berbagai sindiran dan ejekan
dari orang-orang." sahutku agak kaku.
.
"Mama tahu itu, pah. Tapi, biarkan saja, nanti
mereka akan diam dengan sendirinya.
Mereka hanya melihat atau mengetahui
bagian luarnya saja. Yang mengalami itukan
kita berdua? Eh, pa! Mama akan pergi lagi.
Jangan marah!"
.
"Loh?! Kenapa harus pergi? Mama sudah
berjanji, jika sudak kembali padaku, tidak
akan pergi lagi dari sisiku."
.
"Sabar, pah. Akan ada waktunya mama
kembali untuk papa dan tidak akan pergi
lagi, sehingga kita tidak akan terpisahkan
oleh siapapun jua. Tuh, suara ayam
berkokok, menjelang subuh. Daah, papa
sayang, muaach,"
.
Belum sempat memprotes ucapan isteriku,
tiba-tiba aku terjaga oleh suara kokokan
ayam. Sangat keras di dekat telingaku. Ah!
Rupanya aku bermimpi. Kulirik henpon
bututku, ingin melihat jamnya. Eeh,
henponku mati, lupa mengisi batterynya.
Duh, perutkupun terasa sangat lapar. Aku
segera bangkit mengambilkan piring, lalu
menyendokkan nasi yang ternyata sudah
dingin. Sedikit saja, sekedar untuk
mengganjal perut.
.
"Makan yuk, ma. Sini papa suapin." ajakku
dalam hati. Kubiarkan airmataku yang
mengalir dipipi sampai akhirnya jatuh
kepinggiran piring. Suaranya sangat keras.
.
"TASS!" (Sekian)
.
.
Doloknagodang, Uluan, Sumut, Indonesia
Sabtu,04.08.2018~USD16
Salam SAHaBAT
.

Puisi Kemerdekaan - Terbanglah Indonesia -Karya Rayhandi

Terbanglah Indonesia
Karya: Rayhandi
Terbanglah indonesia
Terbang ke langit bebas
Gapai bintang hingga jauh melambung
Tunjukkan pada dunia merah putihmu
Terbanglah indonesia
Takkan ada yang bisa mengikatmu
Juga mengurungmu
Kita bukan jangkrik di dalam kotak
Kita bebas merdeka
Terbanglah indonesia
Terbanglah kemana kau ingin terbang
Lihatlah kemana kau ingin lihat
Cintailah apa yang kau ingini
Kebebasan bersandar di raga kita
Karena kita merdeka
Terbanglah indonesia
Dunia harus tahu indonesia bangsa yang
hebat
Bangsa yang menghargai perdamaian
Tapi bukan berarti bisa diam jika
kebebasan kita di renggut
Takkan kita biarkan hak kita di injak injak.
Terbanglah indonesia
Di ujung samudera kedamaian kita
memuncah
Berdiri di atas gunung
Kita jaga laut kita kita jaga bumi kita
Takkan kita biarkan indonesia hancur
kembali
Karenaindonesia sudah merdeka di tahun
empat lima.

Puisi Kemerdekaan

Kemerdekaan ini
Karya: Rayhandi
Kemerdekaan ini adalah usaha
Usaha tanpa menyerah para pahlawan
Kemerdekaan ini adalah keringat
Yang setia mencucur ruah hingga habis
Kemerdekaan ini adalah lelah
Lelah yang setia menghantu
Kemerdekaan ini adalah darah
Karena berjuta ton darah raib untuk
kemerdekaan, tergadai
Kemerdekaan ini adalah nyawa
Karena di indonesia ini beratus ratus tahun
silam nyawa melayang
Semuanya untuk indonesia
Semuanya untuk senyum anak indonesia
Semuanya untuk masa depan indonesia
yang lebih cerah.