Please,
explain your position about the following issues:
1. There is
no relationship among nature, culture, and language.
2. Language
variation occurs by nature, not by cultural process.
3. Negative
face is better than positive face.
Jelaskan
posisi kamu (setuju atau tidak setuju) terhadap pernyataan-pernyataan di bawah
ini:
1. Tidak ada
hubungan antara alam, budaya, dan bahasa.
2. Variasi
bahasa terjadi karena kehendak alam (terjadi begitu saja), bukan karena proses
budaya.
3.
Wajah/kesantunan negatif itu lebih baik daripada wajah/kesantunan positif.
Jawab:
1. Tidak ada
hubungan antara alam, budaya, dan bahasa.
Saya tidak setuju sebab ada berbagai teori mengenai hubungan bahasa dan kebudayaan. Ada yang
mengatakan bahasa itu merupakan bagian dari kebudayaan, tetapi ada pula yang
mengatakan bahwa bahasa dan kebudayaan merupakan dua hal yang berbeda, namun
mempunyai hubungan yang sangat erat, sehingga tidak dapat dipisahkan.
Menurut Koentjaraningrat sebagaimana dikutip Abdul Chaer dan Leonie dalam
bukunya Sosiolinguistik bahwa bahasa bagian dari kebudayaan. Jadi, hubungan
antara bahasa dan kebudayaan merupakan hubungan yang subordinatif, di mana
bahasa berada dibawah lingkup kebudayaan.10 Namun pendapat lain ada yang
mengatakan bahwa bahasa dan kebudayaan mempunyai hubungan yang koordinatif,
yakni hubungan yang sederajat, yang kedudukannya sama tinggi.
Dengan demikian hubungan bahasa dan kebudayaan seperti anak kembar siam, du
buah fenomena sangat erat sekali bagaikan dua sisi mata uang, sisi yang satu
sebagai sistem kebahasaan dan sisi yang lain sebagai sistem kebudayaan.
Manusia memiliki peran utama bagi alam, budaya dan sejarah. Sejarah
memiliki peran untuk menjernihkan jiwa dan pemikiran manusia dalam menempuh
fase kehidupan menuju kearah yang lebih baik dan sempurna. Sejarah mengajarkan
manusia untuk berpikir arif dan bijaksana. Alam mengajarkan manusia untuk hidup
bertanggung jawab dan berkasih sayang. Sedangkan budaya mengajarkan manusia
untuk hidup berbudi, beradab, dan memiliki pengetahuan yang komprehensip dalam
menghadapi kehidupan yang penuh dengan lika-liku dan tantangan.
Demikian hubungan
antara alam, budaya, dan bahasa.
2. Variasi
bahasa terjadi karena kehendak alam (terjadi begitu saja), bukan karena proses
budaya.
Ini saya
juga tidak setuju, sebab Variasi Bahasa disebabkan oleh
adanya kegiatan interaksi sosial yang dilakukan oleh masyarakat atau kelompok yang sangat beragam dan
dikarenakan oleh para penuturnya yang tidak
homogen. Dalam hal variasi bahasa ini ada dua pandangan. Pertama, variasi itu
dilihat sebagai akibat adanya keragaman
sosial penutur bahasa itu dan keragaman fungsi bahasa itu. Jadi variasi bahasa itu terjadi sebagai akibat dari
adanya keragaman sosial dan keragaman fungsi
bahasa. Kedua, variasi bahasa itu sudah ada untuk memenuhi fungsinya sebagai
alat interaksi dalam kegiatan masyarakat
yang beraneka ragam. Kedua pandangan ini dapat saja diterima ataupun ditolak. Yang jelas, variasi bahasa
itu dapat diklasifikasikan berdasarkan adanya
keragaman sosial dan fungsi kegiatan didalam masyarakat sosial. Namun Halliday membedakan variasi bahasa berdasarkan pemakai
(dialek) dan pemakaian (register). Berikut ini akan dibicarakan variasi-variasi bahasa tersebut, dimulai dari segi
penutur ataupun dari segi penggunanya
Dari pemahaman diatas dapat di simpulkan bahwa
variasi bahasa terjadi karena proses budaya serta interaksi sosial yang
dilakukan oleh masyarakat atau kelompok yang sangat beragam dan dikarenakan oleh para penuturnya yang tidak homogen.
3.
Wajah/kesantunan negatif itu lebih baik daripada wajah/kesantunan positif.
Untuk menjawab ini saya merujuk ke konsep dan prinsip dari para pakar sebagai
bahan referensi.
Konsep atau prinsip kesantunan
dikemukakan oleh banyak ahli. Dasar pendapat ahli tentang konsep kesantunan itu
berbeda-beda. Ada konsep kesantunan yang dirumuskan dalam bentuk kaidah, ada
pula yang diformulasi dalam bentuk strategi. Konsep kesantunan yang dirumuskan
di dalam bentuk kaidah membentuk prinsip kesantunan, sedangkan konsep
kesantunan yang dirumuskan di dalam bentuk strategi membentuk teori kesantunan
(Rustono, 1999:67-68).
Prinsip kesantunan yang dikemukakan oleh Brown dan Levinson berkisar pada nosi
muka, yaitu muka positif dan muka negatif.
a.Muka positif yaitu muka yang mengacu pada citra diri orang yang berkeinginan
agar apa yang dilakukannya, apa yang dimilikinya, atau apa yang merupakan
nilai-nilai yang diyakininya diakui orang sebagai suatu hal yang baik,
menyenangkan, patut dihargai, dan seterusnya.
Contoh:
(1)Saya senang dengan kejujuran Anda.
(2)Sekarang kejujuran itu tidak menjamin kesuksesan.
Tuturan (1) merupakan tuturan yang santun karena menghargai apa yang dilakukan
mitra tuturnya, sedangkan tuturan (2) kurang santun karena tidak menghargai apa
yang dilakukan mitra tuturnya.
b.Muka negatif adalah muka yang mengacu pada citra diri orang yang berkeinginan
agar ia dihargai dengan jalan penutur membiarkannya bebas melakukan tindakannya
atau membiarkannya bebas dari keharusan mengerjakan sesuatu.
Contoh:
(3)Jangan tidur terlalu malam, nanti bangunnya kesiangan!
Tuturan (3) merupakan tuturan yang tidak santun karena penutur tidak
membiarkannya mitra tuturnya bebas melakukan apa yang sedang dikerjakannya.
Ketidaksantunan tuturan (3) itu menyangkut muka negatif. Kesantunan yang
berkenaan dengan muka negatif dinamakan kesantunan negatif.
Di samping itu, prinsip kesantunan Brown dan Levinson itu tidak berkenaan
dengan kaida-kaidah, tetapi menyangkut strategi-strategi. Ada lima strategi
kesantunan yang dapat dipilih agar tuturan penutur santun. Kelima strategi itu
adalah:
a.Melakukan tindak tutur secara apa adanya, tanpa basa basi, dengan mematuhi
prinsip kerjasama Grice.
b.Melakukan tindak tutur dengan menggunakan kesantunan positif.
c.Melakukan tindak tutur dengan menggunakan kesantunan negatif.
d.Melakukan tindak tutur secara off records; dan
e.Tidak melakukan tindak tutur atau diam saja.
The Tanslate
Answer:
1.
There is no relationship between nature, culture and language.
I
do not agree because there are various theories regarding the relationship
between language and culture. Some
say that language is part of culture, but there are also those who say that
language and culture are two different things, but have very close
relationships, so they cannot be separated.
According
to Koentjaraningrat, as quoted by Abdul Chaer and Leonie in his
Sociolinguistics book, language is part of culture. So,
the relationship between language and culture is a subordinate relationship,
where language is under the scope of culture.10 However, there are other
opinions that say that language and culture have a coordinative relationship,
namely the relationship that is equal, which has equal height.
Thus
the relationship between language and culture such as conjoined twins, two
phenomena very closely like two sides of a coin, one side as a linguistic
system and the other as a cultural system.
Human has a major role in nature, culture and
history. History
has a role to clear the soul and mind of man in taking the phase of life
towards a better and perfect. History
teaches people to think wisely and wisely. Nature
teaches humans to live responsibly and affectionately. While
culture teaches people to live virtuous, civilized, and have comprehensive
knowledge in facing a life full of twists and turns.
This
is the relationship between nature, culture and language.
2.
Language variations occur because of the will of nature (just happens), not
because of cultural processes.
I
also disagree, because Language Variation is caused by the existence of social
interaction activities carried out by the community or groups that are very
diverse and due to the non-homogeneous speakers. In terms of variations
in this language there are two views. First,
the variation was seen as a result of the social diversity of the speakers of
the language and the diversity of functions of the language. So
language variations occur as a result of the existence of social diversity and
diversity of language functions. Second,
the variety of languages already exists to fulfill its function as a means of
interaction in diverse community activities. Both of these
views can be accepted or rejected. Clearly,
variations in language can be classified based on the existence of social
diversity and the function of activities in the social community. But
Halliday distinguishes language variations based on user (dialect) and usage
(register). The
following will discuss the variations of the language, starting with the
speakers or users
From
the above understanding it can be concluded that language variations occur
because the cultural processes and social interactions carried out by the
community or groups are very diverse and are caused by non-homogeneous
speakers.
3.
Face / negative politeness is better than positive face / politeness.
To
answer this I refer to the concepts and principles of experts as reference
material.
The
concept or principle of politeness was put forward by many experts. The
basis of expert opinion about the concept of politeness is different. There
are politeness concepts that are formulated in the form of rules, some are
formulated in the form of strategies. The
concept of politeness formulated in the form of rules forms the principle of
politeness, while the concept of politeness formulated in the form of a
strategy forms the theory of politeness (Rustono, 1999: 67-68).
The
politeness principle put forward by Brown and Levinson revolves around the
face, namely the positive face and the negative face.
a
Positive face is a face that refers to the self image of a person who desires
what he does, what he has, or what values are believed to be recognized by
people as a good, pleasant, worthy of respect, and so on.
Example:
(1) I am happy
with your honesty.
(2)
Now honesty does not guarantee success.
Speech
(1) is polite speech because it respects what the partner is doing, while
utterances (2) are not polite because they do not appreciate what their partner
is doing.
b.
A negative face is a face that refers to the self-image of a person who desires
that he be rewarded by the way the speaker allows him to freely act or let him
be free from having to do something.
Example:
(3)
Don't sleep too late, later wake up late!
Speech
(3) is a speech that is not polite because the speaker does not let his partner
be free to do what he is doing. Speech
impropriety (3) involves negative faces. The
modesty with regard to negative faces is called negative politeness.
In
addition, Brown and Levinson's courtesy principle is not related to rules, but
involves strategies. There
are five politeness strategies that can be chosen so that the speech of the
speaker is polite. The
five strategies are:
a.
Do speech acts as they are, without further ado, by obeying the principle of
cooperation between Grice.
b.
Do speech acts using positive politeness.
c.
Do speech acts using negative politeness.
d. Do speech
acts off records; and
e.
Do not do speech acts or just keep quiet.