Kontributor

Jumat, 16 November 2018

Tugas 3 Structure Nama : Haris Ismail NIM: 031052192


Tugas 3  Structure
Nama : Haris Ismail
NIM: 031052192


My best friend
In campus in one class I have some of the most familiar friends, we also live in a boarding house, we always study together, go to campus always together, take a walk together, have dinner together, play Volly together with what we are do it always together, well, just the name of a close friend is always together. My one friend is named Tony and the other is Jono. Tony preferred the humorous attitude of the quiet Jono.
With his quiet attitude Jono always covered what he knew to Tony, whom he considered to be a lot of talking. Or maybe he doesn't like Tony's attitude.
Our age is not much different, Tony is 2 years older than me, while Jono is 2 years younger than me. Thus Jono was more reluctant to Tony because he was considered older than all of us. Even though we remain close friends we don't look at each other's age in terms of friends.
          We always go to the volleyball field every week and at night we always play badminton, badminton courts not far from campus. We always hang out there before we start to play, even though our campus has the same field but there is wider and more crowded than on our campus location.
Besides volleyball and badminton, there are also other types of sports such as swimming, table tennis, soccer. There also provides measurements for height and weight scales for each sport participant. Before we play we always measure height and weigh weight. Tony was taller than Jono while Jono was shorter than me as well as Tony's weight was heavier than Jono because Tony was taller and heavier while I was lighter than Jono because Jono was fatter than me.


ooOOOoo

Sabtu, 27 Oktober 2018

Cerita_ Nelayan Eretan

“Ia jatuh dilaut.”
 “Oh.” 
“Anak nakal. 
     
      Kerjanya hanya bergelantungan ditepi perahu. Untuk jurumudi sigap. Ia langsung memutar haluan. Ketika, Kasim diangkat diatas perahu, tubuhnya berwarna biru.” Karsita menatap muka pamannya agak lama. Tidak sebuah perkataan pun keluar dari mulutnya. 
       “Ini oleh –oleh untuk emakmu,” kata Pak Sapingi kemudian. Ia menyorongkan enam ekor ikan tenggiri. Seudah itu dia membelok kekiri. Masih lama Karsita memikirkan pengalaman Pak Liknya. Dan selama kakinya melangkah maju diatas pasir yang panas, angan –angan mencoba menggambarkan kejadian yang sebenarnya. Dalam hal ini ia gagal sebab ia belum pernah pergi kelaut. Aneh sebetulnya tetapi itulah kenyataanya. Setiap anak kampung Nelayan Eretan mengenal laut dan pernah pergi kelaut. Hanya dirinya yang merupakan pengecualian. Ia mengluh panjang dan melayangkan pandangannya kelaut. Pada saat matanya menangkap ombak berkepala putih yang bergulung-gulung dengan suara gemuruh kearah pantai, perutnya terasa mulas. Rasa takut memenuhi dirinya, ia merasa seolah olah ada tangan besar yang ingin menangkap dirinya. Dengan tubuh gemetaran ia membelok kekiri menjauhi pantai. Ia tidak melihat ombak lagi. Ia tidak mau ditangkap raksasa penguasa laut utara seperti yang selalu diseritakan ibunya.
       
         “Ada apa, Kar?” tanya sebuah suara dari sebalah kiri. Karsita tersirap lalu menoleh” saya dikejar anjing,” jawabnya bohong. Dadanya turun naik tak karuan. “tentu anjing Pak Saman,” seru mustafa, anak yang besar. “Memang kata Karsita lega, “Ikut?” Karsita balik beranya. “Mengail.” “Dilaut?” “Ya.” “segan.” Kedua temannya tertawa 

         “Mengapa kamu takut pergi kelaut, Ta?” tanya Mustafa polos. Karsita tidak menyahut. “ sebagai anak nelayan seharusnya kamu malu” tambah Ropingi Temanya masih tetap bungkam “Pada waktu kecil saya takut kepada air,” Kata Mustafa. “tetapi kini seminggu saja tidak pergi kelaut, membuat saya panas dingin.” Karsita merasa terpojok. “Apakah nanti malam kalian ada dirumah ?” Tanyanya mengalihkan pembicaraan. “Ada apa?” Ropingi balik bertanya. “Saya dengar Pak Susila menangkap Tarling.” “Betul?” Ropingi menoleh kearah Mustafa. “saya tidak tahu, jawab temannya. “benar .” seru Karsita. “Jika begitu kita harus melihat ,” ajak Ropingi. “Bukankah besok kita sekolah ?” Tukas Mustafa. 

         “Alaaaa. Kita tidak akan lama berada disana. Disamping itu kita masuk sore.” “Lebih baik kita berangkat sekarang. Kemudian Mustafa menoleh kearah Karsita. “jangan lupa mampir Dirumah saya nanti mala,” Tambahnya . Karsita berjanji. Didalam hati ia merasa bersyukur bisa melopaskan diri dari olok-olok temannya. Mengapa ia takut pergi kelaut? Ibunya selau bercerita bahwaa ditengah laut bediam seorang raksasa jahat. Dan ia percaya kepadanya. Bukan tidak sedikit nelayan yang tidak pulang kampung halamannya? Saya harus cepat pulang katanya kemudian. Setelah melihat letak matahari sebentar, dengan segera ia memperceat langkahnya. Ia tahu ibunya memerlukan dirinya.

Cerita_ Nelayan Eretan

“Delapan belas ribu,” seru seorang laki –laki pendek berseragam itam. Sekali lagi Pak Somad melakukan tugasnya. Baru ketika seorang menawar sembilan belas ribu,” tidak ada seorang lain yang berani mengajkan tawaran lebih tinggi. 

       “Bayar harga ikan itu kepada kasir, Min,” kata Pak Somad kepada orang itu. Tidak lama kemudian ia menunjukan tumpukan ikan tongkol sebalah kiri. “milik Saleh,” teriaknya. “beratnya 52 kg. Dua puluh ribu rupiah.” Ia mulai menyebutkan sebuah harga. Apa yang terjadi kemudian merupakan ulangan apa yang terjadi sebelumnya. Harga makin lama makin tinggi. Sehingga pada suatu ketika tidak ada orang lain yang berani mengajukan tawaran. Dlam kedaan demikian penawar paling akhirnya yang menang. Ikan tongol itu terjual dengan harga Rp 40.000,- “Ta,”teriak Pak Somad suatu ketika. Sekali lagi Karsita maju kedepan “Ambilkan air teh saya.” Anak itu menurut.

        Karena pada pagi itu banyak ikan yang harus di jual, barulah satu setengah jam kemudian pelelangan usai. Pada waktu itu kemaja Pak Somad basah kuyup da mukanya berkeringat. Suaranya pun serak. Kini setiap pembeli berusaha untuk membawa ikannya keluar dari tempat pelelangan. “Ta,” panggil Bu Wirya yan gberdiri termangu –mangu didepan keranjang ikan ekor kuning. Karsita yang sedang melihat orang memilkul seekor ikan hiu besar dengan segera ia mendekat. “bawa ikan saya ke becak, Ta,” perintah Bu Wirya “ baik Bu,” jawab Karsita senang. Dengan segera ia mengangkat keranjang penuh ikan didepannya. Rupanya keranjang itu berat. Sebab beberapa kali ia meringis. Meskipun demikian, ketika Bu Wirya menyerongkan selembar uang ratusan mulutnya tersenyum kembali. Dan ini untuk sarapan dirumah,” kata Bu Wirya sambil menambahkan seekor ikan ekor kuning kecil. Tiga kali Karsita disuruh mengangkat keranjang serupa. Itulah sebabnya, ketika pelataran pelelangan kosong, didalam sakunya tersimpan uang sebanyak Rp.400. lumayan pikirnya senang sementara itu, sudut matanya melirik kearah dua ekor ikan ditangannya. 
 “Ta”’. 
         Seperti tersengat lebah Karsita membalik. “Lik,” serunya heran. Seorang laki –laki berumur sekitar 30 tahun dan mengenakan celana pendek serta kaos oblong tersenyum masam. Dengan segera ia menghampiri keponakannya. Apakah ayahmu tidak pergi kelaut?” tanyanya menyelidik. “Ayah sakit, Lik,”jawab Karsita. “Dari sebab itu, tadi malam saya tidak bertemu dengannya. “ “ Apakah biasanya Pak Lik bertemu dengan ayah ditengah laut?” Pak Sapingi mengiyakan. “Jika mencari ikan ayahmu tidak pernah berpindah temapat,” ujarnya sambil melihat kedepan tadi malam hampir mati, tambahnya geram. Mulut Karsita menganga. “Kasim?” tanyanya sambil menahan nafas. “Siapa lagi?” “Apa terjadi, Lik?” 
Baca selanjutnya.... 

Cerita _ Nelayan Eretan

           “Ta!” teriak Pak Somad tiba-tiba. Seorang laki –laki yang bertubuh ceking, berumur sekitar 12 tahun dan berwajah kehitam -hitaman maju kedepan. “ya, Pak ,” ujarnya begitu ia berdiri didepan juru lelang. “Dimana tongkat peninjuk saya?” Karsita melihat keliling sejenak. Sesaat kemudian ia membalik guna menorobos lingkaran orang. 
           Ketika kembali ditangannya ia membawa sebatang tongkat penjalin panjang. “ ini, Pak,’’ sambil menyorongkan benda tersebut kearah Pak Somad. Sekulum senyum menghias bibir orang itu. Sebentar kemudian ia memukul batang relnya kembali’ “teng, teng, teng, teng,” “Kita mulai.”teriaknya sesudah melihat jam tangannya. Beberapa orang yang tadinya berjongkok berdiri. Pak Somad menunjukkan sejumlah udang didepan. Udang ini milik Ramli. Beratnya 10,5 kg. Harganya Rp.10.000, - teriaknya nyaring. 

           Kemudian sambil melihat keliling ia terus merocos. Sepuluh ribu, sepuluh ribu, sepuluh ribu, sebelas ribu, sebelas ribu. Perlahan –lahan ia meningkatkan harganya. Tak seorang pun menjawab. Tiba –tiba ketika ia menyebut angka “enam belas ribu, seorang berteriak enam belas ribu limaratus.” Pak Somad menatap orang itu sebentar lalu meneruskan lelangnya. Enam belas ribu limaratus, enam belas ribu lima ratus, enam belas ribu lima ratus.” “tujuh belas ribu,” teriak seorang perempuan berbaju biru. Pak Somad mulai menyebutkan tawaran yang baru.
 Baca selanjutnya.... 

Jumat, 26 Oktober 2018

Buku Cerita _ Nelayan Eretan

Buku Cerita _ Nelayan Eretan

1. PELELANGAN IKAN

          “Teng, teng, teng, teng.” Pak Somad, juru lelang tempat pelelangan ikan Misaya Mina di Eretan Indramayu, memukul kuat kuat bagian rel kereta api yang menggantung didepannya. “Teng, teng, teng, teng.” Sekali lagi ia memukul. Sesudah itu ia sambil melintir kumisnya yang tebal, pandangannya dilayangkan keruang pelelangan ikan didepan. Ruangan itu luas dan atapnya terbuat dari genteng.

            Karena sering terkena air laut yang berasal dari ikan yang dibawa kesana sehingga sebagian lantainya menjadi basah. Ditempat itu kini akan dilelang ikan hasil tangkapan tadi malam. Pada umunya ikan dalam jumlah kecil ditempatkan dalam keranjang, peti sabun atau tempayan. Kemudian diatasnya diberi secaris kertas. Disitu ditulis berapa beratnya dan siapa pemiliknya. Ikan besar seperti hiu, tongkol, ekor kuning dan belanak diletkkan begitu saja diatas lantai. Disini pun disetrakan kertas sepert iyang diterangkan diatas. Sementara itu puluhan orang berdiri ditepi ruangan. Meraka adalah para pembeli yang akan ikut melelang ikan pada Minggu pagi itu. 

Enam Cara Mempengaruhi

Mengapa orang mengatakan "Ya"?

Karena mereka terpengaruh oleh lawan bicaranya. Dan dalam berbicara, Anda akan sangat berkepentingan untuk mempengaruhi orang lain. Anda ingin audience Anda mengatakan "ya".

David Palmer yang pakar pengembangan organisasi dan pemasaran mengatakan, "Beruntunglah kita, karena orang cenderung mengatakan 'ya' atau menyetujui sesuatu dalam banyak hal. Orang cenderung mengatakannya tanpa banyak berpikir, karena kata itu bisa membuat hidup mereka menjadi lebih sederhana dan lebih lunak pada diri mereka. Apa yang menjadi masalah, adalah setiap orang yang terlanjur memprogram dirinya untuk cenderung mengatakan 'tidak', tanpa memikirkannya terlebih dahulu."

Enam tips berikut ini sangat efektif untuk mempengaruhi audience Anda. Enam hal inilah yang bisa menjadi pemicu emosi audience, sebagaimana disebutkan dalam buku Robert Cialdini "Influence, Science and Practice" (Allyn & Cacon, 2000).

1. RESIPROKAL

Kita semua, seperti gambaran di atas, telah diajar sejak kecil untuk membalas kebaikan orang dengan kebaikan pula. Setidaknya, kita diajar untuk mengucapkan terimakasih hampir dalam segala hal. Dengan bekal yang menjadi karakteristik rata-rata itu, maka hidup kita kini dipenuhi dengan berbagai interaksi resiprokal (saling balas) yang sangat positif.

Hidup adalah memberi dan menerima. Dan untuk menjadikan fenomena itu tetap sebagai fenomena yang positif, kita semua dianjurkan untuk menjadi pihak yang pertama dalam memberi. Dengan memberi, kita akan menerima.

Hal yang sama juga berlaku untuk fenomena berbicara. Sampaikanlah apa-apa yang bernilai positif untuk audience Anda, maka Anda akan mendapatkan apa yang Anda inginkan sebagai pembicara. Mengapa? Karena dagangan yang paling laris di dunia saat ini, adalah "informasi yang berguna".

Bagaimana jika Anda tidak mendapatkan balasannya?

Di sinilah kegunaan dari rasa ikhlas bagi Anda. Berilah, dan ikhlaslah. Setidaknya, apa yang Anda berikan bisa menjadi sedekah, dan pastilah Anda akan mendapatkan balasannya "nanti" dan "di sana".

Jadilah pemberi, maka audience akan menyediakan diri.

2. KOMITMEN DAN KONSISTENSI

Setiap kali orang membuat pilihan, menentukan posisi, atau membuat komitmen, mereka akan dikontrol secara internal dan sekaligus eksternal, oleh keharusan untuk bersikap konsisten dengan pilihan dan komitmennya tersebut.

Kata-kata Anda sebagai pembicara, sangat powerful untuk menciptakan aspek kontrol itu. Untuk membuat audience menentukan posisi, membuat pilihan, dan mengatakan "ya!".

Jika Anda sebagai pembicara bisa membuat audience berkomitmen dan mengatakan "ya" secara verbal, maka kemungkinannya sangat besar bahwa mereka memang benar-benar akan melakukannya.

Bangun komitmen dan konsistensi, Anda akan diikuti.

3. PEMBUKTIAN SOSIAL

Secara umum kita akan membenarkan sesuatu, jika kita mengetahui bahwa orang lain juga membenarkannya. Lebih spesifik lagi, fenomena ini erat sekali kaitannya dengan aspek perilaku manusia. Bahkan, jika ada banyak sekali orang yang mengatakan "ya", maka kita cenderung untuk beranggapan bahwa apa yang di-"ya"-kan itu adalah sesuatu yang benar adanya. Apalagi, jika mereka adalah para influencer seperti orang terkenal, tokoh panutan, orang yang berhasil dan sebagainya. Fenomena ini akan menciptakan efek yang jauh lebih besar, dalam situasi yang serba tak pasti.

Sebagai pembicara, Anda harus bisa mendapatkan legitimasi dan referensi sebanyak-banyaknya. Pengaruh Anda akan makin besar dan makin tumbuh. Jika Anda penjual, sampaikanlah referensi dari para pengguna produk Anda. Jika Anda pembicara seminar, ceritakanlah berbagai hal positif yang terjadi dalam seminar-seminar Anda. Jika Anda pemimpin, ceritakanlah berbagai keberhasilan dari orang-orang yang Anda pimpin.

Ciptakan referensi, maka Anda akan menjadi preferensi.

4. RASA SUKA

Orang cenderung mengatakan "ya" pada orang yang disukainya. Jika isi bicara Anda menuntut orang lain untuk mengatakan "ya", maka Anda harus bertanya, "Apakah mereka menyukai pribadi Saya?" Untuk bisa disukai, Anda harus bisa menyamakan banyak hal dengan mereka. Kesamaan adalah sumber kesukaan. Kesukaan akan membuat mereka mengatakan "ya".

Trik yang ini sedikit nakal. Orang pada dasarnya senang dipuji. Maka, banyak-banyaklah memuji orang. Mereka akan senang kepada Anda, mau mendengarkan Anda dan akhirnya akan mengatakan "ya!".

Untuk bisa disukai, Anda juga harus sering-sering melakukan kontak dengan mereka. Dalam bahasa bisnis ini namanya networking, dalam bahasa agamis disebut silaturahim.

Jadilah orang yang disukai, maka Anda akan menjadi orang yang ingin didengar dan bisa mempengaruhi.

5. OTORITAS

Otoritas bisa berarti realitas (sebagai pemimpin struktural) atau implikasi (menjadi orang yang disegani). Otoritas akan mempengaruhi.

Masukkan aspek otoritas ke dalam sesi bicara Anda. Kutipkan kata-kata orang besar dan terkenal, sampaikanlah apa yang disampaikan para pemimpin, dan ungkapkanlah apa yang dicapai pebisnis yang memimpin. Ini juga akan ikut membangun otoritas Anda.

Lebih dari itu, bangun otoritas Anda sendiri secara unik. Tampil dan bertindaklah sebagai otoritas. Maka Anda akan mempengaruhi.

6. KELANGKAAN

Jadilah orang yang langka, Anda akan dicari orang dan bisa mempengaruhi. Kelangkaan mencerminkan potensi untuk kehilangan. Potensi kehilangan sesuatu lebih bisa memotivasi dari pada potensi mendapatkan sesuatu. Jadilah diri Anda sendiri, karena hanya ada 1 Anda di dunia ini. Andalah yang paling langka. Dan logikanya, Andalah yang semestinya paling bisa mempengaruhi.

So, kurang apa lagi Anda sebagai pembicara?

Terjemahan bebas dari "6 Weapons of Influence" oleh:
Patricia Fripp, CSP, CPAE and David Palmer, Ph.D, CPA
Fripp Public Speaking School
Milis Bicara 
Sumber : Kursus Bicara

7 Cara Untuk Menjadi Pembicara hebat



1. JADILAH DIRI SENDIRI

Melihat pembicara lain yang hebat, melihat bagaimana mereka bekerja dan melakukannya, adalah sesuatu yang menarik dan menggoda. Untuk menjadi pembicara yang hebat dan tetap menjadi diri sendiri, Anda harus mengembangkan gaya Anda sendiri, untuk berbicara dengan suara Anda sendiri. Jadilah diri sendiri saat berbicara dan Anda akan sukses.

2. JADILAH ANAK BANDEL

Anda mungkin berpikir bahwa Anda sudah cukup bandel dengan hanya berdiri dan mulai bicara. Memang, tapi Anda bisa melihat sendiri bahwa banyak pembicara hanya berhenti di situ. Jadilah lebih bandel, percayalah pada kemampuan Anda sendiri. Berlatih setiap hari, bicaralah di setiap kesempatan. Tapi ingat, bicara baik atau diam.

3. JADILAH ORANG YANG BERBEDA

Pembicara yang sukses tidak sama dengan orang lain. Ada sesuatu yang membuat mereka berbeda. Membuat mereka menonjol. Merka adalah orang yang melakukan lebih dari sekedar berdiri di depan dan berbicara kepada Anda.

4. JADILAH ORANG YANG LUCU

Pembicara sukses tahu bagaimana menjadi lucu, artinya: mereka tahu kapan dan di mana harus menggunakan humor dalam presentasinya... dan mereka tidak takut melakukannya.

5. JADILAH ORANG YANG TERLIBAT

Mendengarkan orang lain berbicara, bagi sebgian besar orang adalah aktivitas yang pasif. Pembicara yang sukses melibatkan audience dan bercakap-cakap dengan mereka, sehingga yang terjadi adala percakapan dan bukan ceramah.

6. JADILAH ORANG YANG POSITIF

Apapun subyek pembicaraannya, pembicara yang sukses selalu bersikap positif terhadap audience. Mereka menolong audience belajar tentang melakukan sesuatu dan bukan TIDAK melakukan sesuatu. Mereka berfokus pada yang baik dan bukan yang buruk.

7. JADILAH PENANTANG

Terakhir, pembicara hebat selalu menantang audience untuk melakukan hal-hal hebat. Lagi-lagi, tak peduli apapun subyeknya. Pembicara sukses memberi Anda know-how dan menantang Anda untuk menciptakan hidup yang lebih baik dan memperkaya lehidupan itu sendiri.

7 Cara Untuk Menjadi Pembicara hebat
Terjemahan bebas dari materi oleh:Jim Allen
Pembicara, Penulis, Life Coach
Milis Bicara 
 
Sumber : Kursus Bicara