Kontributor

Jumat, 26 April 2019

SEJARAH LAHIRNYA TAHLILAN DALAM UPACARA KEMATIAN, KHUSUSNYA DI TANAH JAWA, INDONESIA.



Oleh: Sangadji EM
(Tulisan ini tdk bertujuan utk menohok pihak tertentu, tapi sebagai kajian ilmu agar kita paham sejarah lahir'y Upacara Tahilan)K
Perintis, pelopor dan pembuka pertama penyiaran serta Pengembangan Islam di Pulau Jawa adlh Para Ulama/Mubaligh yg berjumlah sembilan, yg populer dgn sebuatan Wali Songo. Atas perjuangan mereka, berhasil mendirikan sebuah Kerajaan Islam pertama di Pulau Jawa yg berpusat di Demak, Jawa Tengah.
Para Ulama yg sembilan dlm menyiarkan dan Mengembangkan Islam di Tanah Jawa yg mayoritas penduduk'y Beragama Hindu dan Budha mendapat kesulitan dlm membuang Adat Istiadat Upacara Keagamaan lama bagi mereka yg telah Masuk Islam.
Para Ulama yg sembilan (Wali Songo) dlm menanggulangi masalah Adat Istiadat lama bagi mereka yg telah Masuk Islam terbagi menjadi dua aliran yaitu ALIRAN GIRI dan ALIRAN TUBAN.
ALIRAN GIRI adalah suatu aliran yg di pimpin oleh Raden Paku (Sunan Giri) dgn para pendukung Raden Rahmat (Sunan Ampel), Syarifuddin (Sunan Drajat) dan lain-lain.
Aliran ini dlm masalah ibadah sama sekali tdk mengenal kompromi dgn Ajaran Budha, Hindu, Keyakinan Animisme dan Dinamisme.
Org yg dgn suka rela Masuk Islam lewat aliran ini, harus mau membuang jauh-jauh segala Adat Istiadat lama yg bertentangan dgn Syari'at Islam tanpa reserve. Karena murni'y aliran dlm menyiarkan dan mengembangkan Islam, maka aliran ini di sebut ISLAM PUTIH.
Ada pun ALIRAN TUBAN adalah suatu aliran yang di pimpin oleh R.M. Syahid (Sunan Kalijaga) yg di dukung oleh Sunan Bonang, Sunan Muria, Sunan Kudus, dan Sunan Gunung Djati.
Aliran ini sangat Moderat, mereka membiarkan dahulu terhadap pengikut'y yg mengerjakan Adat Istiadat Upacara Keagamaan lama yg sdh mendarah daging sulit di buang, yg penting mereka mau Memeluk Islam. Agar mereka jgn terlalu jauh menyimpang dari Syari'at Islam. Maka Para Wali Aliran Tuban berusaha agar Adat Istiadat Budha, Hindu, Animisme dan Dinamisme di warnai Keislaman.
Karena Moderat'y aliran ini maka pengikut'y jauh lebih byk di bandingkan dgn pengikut Aliran Giri yg "Radikal". Aliran ini sangat di sorot oleh Aliran Giri karena di tuduh mencampur adukan Syari'at Islam dgn Agama lain. Maka aliran ini di cap sebagai Aliran ISLAM ABANGAN
Dgn ajaran Agama Hindu yg terdapat dlm Kitab Brahmana. Sebuah kitab yg isi'y mengatur tata cara Pelaksanaan Kurban, sajian-sajian utk menyembah Dewa-Dewa dan upacara menghormati Roh-Roh utk menghormati org yg telah mati (Nenek Moyang) ad aturan yg di sebut Yajna Besar dan Yajna Kecil.
Yajna Besar di bagi menjadi dua bagian yaitu Hafiryayajna dan Somayjna.
1. Somayjna adlh upacara khusus utk org-org tertentu. Ad pun,
2. Hafiryayajna utk semua org.
Hafiryayajna terbagi menjadi empat bagian yaitu : Aghnidheya, Pinda Pitre Yajna, Catur masya, dan Aghrain.
Dari empat macam tersebut ad satu yg sangat berat di buang sampai skrg bagi org yg sdh Masuk Islam adlh Upacara Pinda Pitre Yajna yaitu suatu upacara menghormati Roh-Roh org yg sdh mati.
Dalam upacara Pinda Pitre Yajna, ad suatu keyakinan bahwa manusia setelah mati, sebelum memasuki karman, yakni menjelma lahir kembali ke dunia ad yg menjadi Dewa, Manusia, Binatang dan bahkan menjelma menjadi Batu, Tumbuh-Tumbuhan dan lain-lain sesuai dgn amal perbuatan'y selama hidup, dari 1-7 hari Roh tersebut masih berada di lingkungan rumah keluarga'y. Pd hari ke 40, 100, 1000 dari Kematian'y, roh tersebut datang lg ke rumah keluarga'y. Maka dari itu, pd hari-hari tersebut harus di adakan upacara saji-sajian dan bacaan Mantera-Mantera serta Nyanyian Suci utk memohon kpd Dewa-Dewa agar roh'y si fulan menjalani Karma menjadi manusia yg baik, jgn menjadi yg lainya.
Pelaksanaan upacara tersebut di awali dgn Aghnideya, yaitu menyalakan Api Suci (Membakar Kemenyan) utk kontak dgn Para Dewa dan roh si fulan yg di tuju. Selanjut'y di teruskan dgn menghidangkan saji-sajian berupa makanan, minuman dan lain-lain utk di persembahkan ke Para Dewa, kemudian di lanjutkan dgn bacaan Mantra-Mantra dan Nyanyian-Nyanyian Suci oleh Para Pendeta agar permohonan'y di kabulkan.
Musyawarah Para Wali
Pada masa Para Wali di bawah pimpinan Sunan Ampel, pernah di adakan musyawarah antara Para Wali utk memecahkan Adat Istiadat lama bagi org yg telah Masuk Islam.
Dalam musyawarah tersebut Sunan Kali Jaga selaku Ketua Aliran Tuban mengusulkan kpd Majlis Musyawarah agar Adat Istiadat lama yg sulit di buang, termasuk di dlm'y upacara Pinda Pitre Yajna di masuki Unsur Keislaman.
Usulan tersebut menjadi masalah yg serius pd waktu itu sebab Para Ulama (Wali) tahu benar bahwa Upacara Kematian adat lama dan lain-lain'y sangat menyimpang dgn Ajaran Islam yg sebenar'y.
Mendengar usulan Sunan Kali Jaga yg penuh diplomatis itu, Sunan Ampel selaku Penghulu Para Wali pd waktu itu dan sekaligus menjadi ketua sidang/musyawarah mengajukan pertanyaan sebagai berikut :
"Ap kah tdk di khawatirkan di kemudian hari, bahwa Adat Istiadat lama itu nanti akan di anggap sebagai Ajaran Islam, sehingga kalau demikian nanti ap kah hal ini tdk akan menjadikan Bid'ah"?
Pertanyaan Sunan Ampel tersebut kemudian di jawab oleh Sunan Kudus sebagai berikut :
"Sy sangat setuju dgn pendapat Sunan Kali Jaga"
Sekali pun Sunan Ampel, Sunan Giri, dan Sunan Drajat sangat tdk menyetujui, akan tetapi mayoritas anggota musyawarah menyetujui usulan Sunan Kali Jaga, maka hal tersebut berjalan sesuai dgn keinginan'y. Mulai saat itu lah secara resmi berdasarkan hasil musyawarah, upacara dlm Agama Hindu yg bernama Pinda Pitre Yajna di lestarikan oleh Org-Org Islam Aliran Tuban yg kemudian di kenal dgn nama Nelung Dina (3 hari), Mitung Dina (7 hari), Matang Puluh (40 hari), Nyatus (100 hari) dan Nyewu (1.000 hari)
Dari akibat lunak'y Aliran Tuban, maka bukan saja upacara seperti itu yg berkembang subur, akan tetapi keyakinan Animisme dan Dinamisme serta upacara-upacara adat lain ikut berkembang subur. Maka dari itu tdk lah heran murid'y Sunan Kali Jaga sendiri yg bernama Syekh Siti Jenar merasa mendapat peluang yg sangat leluasa utk Mensinkritismekan Ajaran Hindu dlm Islam.
Dari hasil olahan'y, maka lahir suatu Ajaran Klenik/Aliran Kepercayaan yg Berbau Islam. Dan tumbuh lah ap yg di sebut "Manunggaling Kawula Gusti" yg artinya Tuhan menyatu dgn tubuh ku. Maka tata cara utk mendekatkan diri kpd Allah Ta'ala lewat Shalat, Puasa, Zakat, Haji dan lain sebagai'y tdk usah di lakukan.
Sekali pun Syekh Siti Jenar berhasil di bunuh, akan tetapi murid-murid'y yg cukup byk sdh menyebar dimana-mana. Dari itu maka kepercayaan seperti itu hidup subur sampai skrg.
Keadaan Umat Islam setelah Para Wali meninggal dunia semakin jauh dari Ajaran Islam yg sebenar'y. Para Ulama Aliran Giri yg terus mempengaruhi para Raja Islam pd khusus'y dan masyarakat pd umum'y utk menegakkan Syari'at Islam yg murni mendapat kecaman dan ancaman dari para Raja Islam pd waktu itu, karena Raja-Raja Islam mayoritas menganut Aliran Tuban. Sehingga pusat Pemerintahan Kerajaan di Demak berusaha di pindahkan ke Pajang agar terlepas dari pengaruh para Ulama Aliran Giri.
Pd masa Kerajaan Islam di Jawa, di bawah pimpinan Raja Amangkurat I, Para Ulama yg berusaha mempengaruhi Keraton dan masyarakat, mereka di tangkapi dan di bunuh/di brondong di lapangan Surakarta sebanyak 7.000 Org Ulama.
Melihat tindakan yg sewenang-wenang terhadap Ulama Aliran Giri itu, maka Trunojoyo, Santri Giri berusaha menyusun kekuatan utk menyerang Amangkurat I yg keparat itu.
Pd masa Kerajaan di pegang oleh Amangkurat II sebagai pengganti ayah'y, ia membalas dendam terhadap Truno Joyo yg menyerang pemerintahan ayah'y. Ia bekerja sama dgn VOC menyerang Giri Kedaton dan semua upala serta Santri Aliran Giri di bunuh habis-habisan, bahkan semua Keturunan Sunan Giri di habisi pula.
Dgn demikian lenyap lah sdh Ulama-Ulama Penegak Islam yg konsekwen.
Ulama-Ulama yg boleh hidup di masa itu adlh Ulama-Ulama yg lunak (Moderat) yg mau menyesuaikan diri dgn keadaan masyarakat yg ad. maka bertambah subur lah Adat-Istiadat lama yg melekat pd Org-Org Islam, terutama Upacara Adat Pinde Pitre Yajna dlm Upacara Kematian.
Keadaan yg demikian terus berjalan berabad-abad tanpa ad Seorang Ulama pun yg muncul utk mengikis habis Adat-Istiadat lama yg melekat pd Islam terutama Pinda Pitre Yajna.
Baru pd tahun 1912 M, muncul seorang Ulama di Yogyakarta bernama K.H.Ahmad Dahlan yg berusaha sekuat kemampuannya utk mengembalikan Islam dari sumber'y yaitu Al Qur'an dan As Sunnah, karena beliau telah memandang bahwa Islam dlm Masyrakat Indonesia telah byk di campuri berbagai ajaran yg tdk berasal dari Al Qur'an dan Al Hadits, dimana-mana merajalela perbuatan Khurafat dan Bid'ah sehingga Umat Islam hidup dlm keadaan Konservatif dan Tradisional.
Muncul'y K.H.Ahmad Dahlan bukan saja berusaha mengikis habis segala Adat Istiadat Budha, Hindu, Animisme, Dinamisme yg melekat pd Islam, akan tetapi jg menyebarkan fikiran-fikiran pembaharuan dlm Islam, agar Umat Islam menjadi umat yg maju seperti umat-umat lain.
Akan tetapi aneh bin ajaib, kemunculan Beliau tersebut di sambut negatif oleh sebagian Ulama itu sendiri, yg ternyata Ulama-Ulama tersebut adlh Ulama-Ulama yg tdk setuju utk membuang beberapa Adat Istiadat Budha dan Hindu yg telah di warnai Keislaman yg telah di lestarikan oleh Ulama-Ulama Aliran Tuban dahulu, yg antara lain upacara Pinda Pitre Yajna yg di isi Nafas Islam, yg terkenal dgn nama Upacara Nelung Dina (3 hari), Mitung Dina (7 hari), Matang Puluh Dina (40 hari), Nyatus (100 hari) dan Nyewu (1.000 hari).
Pd tahun 1926 para Ulama Indonesia bangkit dgn di dirikan'y organisasi yg di beri nama "Nahdhatul Ulama" yg di singkat NU.
Pd Muktamar'y di Makassar, NU mengeluarkan suatu keputusan yg antara lain :
"Setiap acara yg bersifat Keagamaan harus di awali dgn Bacaan Tahlil yg sistimatika'y seperti yg kita kenal skrg di masyarakat".
Keputusan ini nampak'y benar-benar di laksanakan oleh Org NU. Sehingga semua acara yg bersifat Keagamaan di awali dgn Bacaan Tahlil, termasuk Acara Kematian. Mulai saat itu lah secara lambat laun Upacara Pinda Pitre Yajna yg di warnai Keislaman berubah nama menjadi Tahlilan sampai skrg.
Sesuai dgn sejarah lahir'y Tahlilan dlm upacara kematian, maka istilah Tahlilan dlm Upacara Kematian hanya di kenal di Jawa saja. Di pulau-pulau lain seluruh Indonesia tdk ad acara ini. Seandai'y ad pun hanya sebagai rembesan dari Pulau Jawa saja.
Ap lg di negara-negara lain seperti Arab, Mesir, dan negara-negara lain'y di seluruh dunia sama sekali tdk mengenal Upacara Tahlilan dlm Kematian ini.
Dgn sdh mengetahui sejarah lahir'y Tahlilan dlm Upacara Kematian yg terurai di atas, maka kita tdk akan lg mengatakan bahwa Upacara Kematian adlh Ajaran Islam, bahkan kita akan bisa mengatakan bahwa org yg tdk mau membuang upacara tersebut berarti melestarikan salah satu ajaran Agama Hindu. Org-Org Hindu sama sekali tdk mau melestarikan Ajaran Islam, bahkan tdk mau kepercikan Ajaran Islam sedikit pun.
Tetapi kenapa kita Org Islam justru melestarikan keyakinan dan ajaran mereka?
Tak cukup kah bagi kita Sunnah Rasulullah Shallallahu'alaihi wa Salam yg sdh jelas terang benderang saja yg kita kerjakan. Kenapa harus di tambah-tambahin/mengada-ad. Mereka beranggapan Ajaran Rasulullah Shallallahu'alaihi wa Salam masih kurang sempurna.
Mudah-mudahan setelah kita tahu sejarah lahir'y Tahlilan dlm Upacara Kematian, kita mau membuka hati utk menerima Kebenaran yg hakiki dan kita mudah-mudahan akan menjadi Org Islam yg konsekwen terhadap Ajaran Allah Subhanahu wa Ta'ala dan RasulNya.
Daftar Literatur :
1. K.H.Saifuddin Zuhn
[Sejarah Kebangkitan Islam dan Perkembangan'y di Indonesia, Al Ma'arif Bandung 1979]

2. Umar Hasyim, [Sunan Giri, Menara Kudus 1979]
3. Solihin Salam, [Sekitar Wali Sanga, Menara Kudus 1974]
4. Drs.Abu Ahmadi, [Perbandingan Agama, Ab.Siti Syamsiyah Solo 1977]
5. Soekmono, [Pengantar Sejarah Kebudayaan Indonesia, Tri Karya, Jakarta 1961]
6. A.Hasan, [Soal Jawab, Diponegoro Bandung 1975]
Hasil wawancara dgn tokoh Agama Hindu.
Semoga Bermanfa'at..


PENDIDIKAN ISLAM SEBAGAI PARADIGMA ILMU PENDIDIKAN


Deskripsi mengenai topik ini dapat dimulai dengan pertanyaan, ”Mungkinkah Islam dapat dijadikan altematif paradigma ilmu pendidikan? Apakah masalah-masalah pendidikan yang merupakan lapangan kehidupan objektif, empiris, dan praktis manusia dapat dikaji melalui postulat Islam? Bukankah hal itu hanya akan melahirkan teori-teori yang mengambang?”
Satu sisi pertanyaan itu dapat dibenarkan, sebab kajian Islam selalu bertolak dari dogmatik Ilahi yang harus diyakini kebenarannya, bukan bertolak dari realitas sosiokultural manusia, sedangkan persoalanpersoalan pendidikan lebih merupakan persoalan praktis, empiris, dan pragmatis. N amun di sisi yang lain, pertanyaan tersebut perlu dikaji ulang. Sebab tidak semua persoalan pendidikan dapat dijawab melalui analisis objektif-empiris, tetapi justru membutuhkan analisis yang bersifat aksiomatik, seperti persoalan keberadaan Tuhan, manusia, dan alam. Masalah-masalah ini lebih mudah dikaji melalui pendekatan agama. . ‘
Islam yang memiliki sifat universal dan kosmopolit dapat merambah ke ranah kehidupan apa pun, termasuk dalam ranah pendidikan. Ketika Islam dijadikan sebagai paradigma ilmu pendidikan paling tidak berpijak pada tiga alasan. Pertama, ilmu pendidikan sebagai ilmu humaniora tergolong ilmu normatif, karena ia terkait oleh norma-norma tertentu. Pada taraf ini, nilainilai Islam sangat berkompeten untuk dijadikan norma dalam ilmu pendidikan. Kedua, dalam menganalisis masalah pendidikan, para ahli selama ini cenderung mengambil teori-teori dan falsafah pendidikan Barat. Falsafah pendidikan Barat lebih bercorak sekuler yang memisahkan berbagai dimensi kehidupan, sedangkan masyarakat Indonesia lebih bersifat religius. Atas dasar itu, nilai-nilai ideal Islam sangat memungkinkan untuk dijadikan acuan dalam mengkaji fenomena kependidikan. Ketiga, dengan menjadikan Islam sebagai paradigma, maka keberadaan ilmu pendidikan memilih ruh yang dapat menggerakkan kehidupan spiritual dan kehidupan yang hakiki. Tanpa ruh ini berarti pendidikan telah kehilangan ideologinya.
Makna Islam sebagai paradigma ilmu pendidikan adalah suatu konstruksi pengetahuan yang memungkinkan kita memahami realitas ilmu pendidikan sebagaimana Islam memahaminya. Konstruksi pengetahuan itu dibangun oleh nilai-nilai Islam dengan tujuan agar kita memiliki hikmah (wisdom) yang atas dasar itu dibentuk praktik pendidikan yang sejalan dengan nilainilai normatif Islam. Pada taraf ini, paradigma Islam menuntut adanya desain besar tentang ontologi, epistemologi, dan aksiologi pendidikan.
Fungsi paradigma ini pada dasarnya untuk membangun perspektif Islam dalam rangka memahami realitas ilmu pendidikan. Tentunya hal ini harus ditopang oleh konstruksi pengetahuan yang menempatkan wahyu sebagai sumber utamanya, yang pada gilirannya terbentuk struktur transendental se‘Jagai referensi untuk menafsirkan realitas pendidikan.
Islam sebagai paradigma ilmu pendidikan juga memiliki arti konstruksi sistem pendidikan yang didasarkan atas nilai-nilai universal Islam. Bangunan sistem ini tentunya berpijak pada prinsip-prinsip hakiki, yaitu prinsip al-tawhid, prinsip kesatuan makna kebenaran, dan prinsip kesatuan sumber sistem. Dari prinsipprinsip tersebut selanjutnya diturunkan elemen-elemen pendidikan sebagai world view Islam (pandangan dunia Islam) terhadap pendidikan.

Persoalan yang muncul kemudian adalah apakah Islam memiliki sistem pendidikan tersendiri? Ataukah sistem pendidikan Islam itu hanya mengadopsi sistem pendidikan kontemporer Barat sambil mencantumkan beberapa ayat dan hadis yang mendukungnya?
Rumusan sistem pendidikan Islam harus dikaitkan dengan pemikiran filosofis pendidikan Islam. Abd alRahman Salih Abd Allah dalam ”Education Theory: A Quranic Outlook” menyatakan bahwa perumusan sistem pendidikan Islam dapat dilakukan melalui 'dua corak.1 Pertama, corak yang menghendaki adanya keterbukaan terhadap pandangan hidup dan kehidupan non-muslim. Corak ini berusaha meminjam konsep-konsep non-Islam dan menggabungkannya ke dalam pemikiran pendidikan Islam. Kedua, corak yang berusaha mengangkat pesan besar ilahi l<e dalam kerangka pemikiran pendidikan. Konten pendidikan ini berasal dari Al-Qur’an dan hadis. Oleh karena keberadaan AlQur’an dan hadis masih bersifat global, maka konten pendidikan masih bersifat asas-asas dan prinsip-prinsip pendidikan.
Kedua corak pemikiran yang ditawarkan di atas merupakan kerangka dasar bagi bangunan paradigma pendidikan Islam. Asumsi yang mendasari kelompok pertama adalah bahwa tidak ada salahnya jika pemikir muslim meminjam atau bahkan menemukan kebenaran dari pihak lain. Nabi Muhammad SAW. dalam suatu hadisnya bersabda: ”Hikmah itu merupakan barang yang hilang, jika ditemukan dari mana saja datangnya, maka ia berhak memilikinya.”2 Hadis ini memberikan sinyalemen agar pemikir muslim tidak segan-segan mengadopsi pemikiran pendidikan non-Islam, dengan catatan bahwa pemikiran yang diadopsi tersebut mengandung suatu kebenaran.

       Sejarah telah membuktikan, bahwa kemunculan pendidikan sebagai disiplin ilmu yang mandiri berasal dari pemikir-pemikir non-muslim. Melalui metode empirisnya, mereka telah menemukan konsep dan teori pendidikan, sehingga mereka banyak memberikan kontribusi bagi berbagai disiplin ilmu lain yang
berhubungan dengan pendewasaan manusia. Apa yang mereka lakukan sebenarnya merupakan pemahaman terhadap sunnah Allah yang berkaitan dengan perilaku manusia, meskipun asumsi yang dipergunakan berlandaskan hukum alam. Di satu sisi upaya mereka merupakan pengejawantahan dari firman Allah SWT. dalam QS. Fushshilat ayat 53; ”Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segenap ufuk dun pada diri mereka sendiri (anfus), sehingga jelaslah bagi mereka bahwa Al-Qur’an itu adalah benar. Dan apakah Tuhanmu tidak cukup (bagz' kamu) bahwa sesungguhnya Dia menyaksikan segala sesuatu?” Dalam arti, mereka telah mempelajari ayat-ayat afaq dan anfus, sebagai fenomena alam.3 Namun di sisi yang lain, upaya mereka perlu mendapatkan penyucian (tazkiyah), dari yang netral etik menjadi yang sarat idiologis, melalui proses islamisasi pendidikan.
Asumsi pemikiran kelompok kedua adalah bahwa Islam merupakan sistem ajaran yang universal dan komprehenshif. Tak satu pun persoalan, termasuk persoalan pendidikan, yang luput dari jangkauan ajaran Islam. Allah SWT. berfirman dalam QS. al-An’am ayat 38 ”Tiadalah Kami alpakan sesuatu pun di dalam AlKitab, kemudian kepada Tuhanlah mereka dihimpunkan.” dan QS. an-Nahl ayat 89 ”Dan Kami turunkan kepadamu Al-Kitab (Al-Qur’an) untuk menjelaskan segala sesuatu dart petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang- orang yang bersemh diri.” Dua ayat di atas memberikan isyarat bahwa pengembangan pendidikan Islam cukup digali dari sumber autentik Islam, yaitu Al-Qur’an dan hadis. '
Corak pertama bersifat pragmatis. Artinya, corak yang lebih m'engutamakan aspek-aspek praktis dan kegunaannya. F ormulasi sistem pendidikan Islam dapat diadopsi dari sistem pendidikan kontemporer Barat yang telah mapan. Transformasi ini tentunya mendapatkan legalitas dari Al-Qur’an dan Sunnah. Iadi, nash di sini hanya berfungsi sebagai justifik'asi dan legitimasi keberadaan sistem pendidikan kontemporer belaka. Upaya ini sebenarnya bukanlah bermaksud mengadakan interpretasi adaptif, tetapi lebih jauh upaya ini berfungsi sebagai penjabaran dan operasionalisasi universitas Islam. Islam memiliki nilai universal selalu akomodatif terhadap produk peradaban, selama pro-i dul< tersebut secara asasiah tidak bertentangan dengan nilai dasar Islam.
Sistem pendidikan Islam model ini bersumber dari pemikiran filsafat aliran progresivisme, esensialisme, perenialisme, pragmatisme, dan rekonstruksionisme. Apabila pemikiran masing-masing aliran tersebut sejalan dengan nash, maka pemikirannya itu dijadikan sebagai wacana pendidikan Islam. Tetapi jika bertentangan maka pemikirannya ditolak. Model pragmatis ini banyak diminati oleh para ahli pendidikan Islam. Di samping efektif dan efisien, model ini telah teruji validitasnya dari masa ke masa.
Sedangkan corak kedua bersifat idealistik. Artinya, formulasi sistem pendidikan Islam digali dari ajaran ideal Islam sendiri. Corak ini menggunakan pola pikir deduktif, dengan membangun premis mayor (sebagai postulasi) yang dikaji dari nash. Bangunan premis mayor ini dijadikan sebagai ”kebenaran universal” untuk diterapkan pada premis minornya, yaitu pendidikan. Dari proses ini akhirnya mendapatkan teori mengenai sistem pendidikan Islam.
Model idealistik ini membutuhkan kerja ekstra, karena harus berawal dari ruang yang kosong. Prosedur mekanisme model ini adalah (1) menyelesaikan persoalan kependidikan berdasarkan nash secara langsung. Prosedur ini lazimnya menggunakan metode tematik (mawdlui); yaitu merigklasifikasikan ayat atau hadis menurut kategorinya, kemudian menyimpulkannya berdasarkan kategori tersebut. (2) menyelesaikan persoalan kependidikan berdasarkan interpretasi para filsuf muslim, seperti Ibn Sina, Ibn Rusyd, Ibnu Bajjah, Ikhwan aI-Shffah, al-Razi, dan sebagainya. Ciri utama interpretasi kelompok ini adalah mengutamakan pendidikan intelektual (al-‘aqU. (3) menyelesaikan persoalan kependidikan berdasakan interpretasi para sufi muslim, seperti al-Ghazali, Rabiah al-Adawiyah, Ibn Arabi, al-Iilli, dan sebagainya. Ciri utama interpretasi kelompok ini adalah sangat mengutamakan pendidikan intuisi (al-qalb aw al-dawq). (4) menyelesaikan persoalan pendidikan berdasarkan interpretasi para pemikir muslim kontemporer, seperti Iqbal, Muhammad Abduh, Rasyid Ridla, al-Afghani. dan sebagainya. Ciri  Utama interpretasi kelompok ini adalah jaasil interpretasi didukung oleh dat Ilmiah.
Kelebihan corak idealistik ini adalah (1) ia dapat memproyeksikan bentuknya seislami mungkin. Simbol-simbol dan substansi pendidikan diturunkan dari terminologi Islam. (2) ia didasarkan atas kerangka dasar yang diyakini mutlak kebenarannya dan mengan~ dung nilai-nilai universal. Sedangkan kelemahannya adalah umat Islam belum memiliki metodologi yang sebaik di Barat. Sehingga upaya ini dikhawatirkan mengalami kegagalan, atau paling tidak mengalami keterlambatan, sementara kemajuan sistem Barat semakin kokoh dan melaju.

Untuk menghindari fanatisme dan kelemahan suatu model, maka pendekatan terbaik dalam me~ rumuskan sistem pendidikan Islam adalah dengan pendekatan eklektik. Maksud pendekatan ini adalah mengambil suatu model yang dianggap terbaik untuk memecahkan dan mengkaji suatu persoalan, dan mengambil model yang lain untuk mengkaji persoalan yang lain jika pengambilan itu dirasa terbaik. Dengan kata lain, perumusan sistem pendidikan Islam dapat menggunakan pendekatan campuran, antara yang pragmatis dan yang idealistik.
Pendidikan Islam merupakan salah satu disiplin ilmu keislaman yang membahas mengenai objek-objek di seputar kependidikan. Pemahaman hakikat pendidikan Islam sebenarnya tercermin di dalam sejarah dan falsafah Islam sendiri, sebab setiap proses pendidikan tidak terlepas dari objek-objek keislaman. Pendidikan Islam semula mengambil bentuk sebagai:
Pertama, asas-asas kependidikan. Asas-asas ke pendidikan yang dimaksud terakumulasi di dalam AlQur’an danAs-Sunnah. Tak satu pun persoalan, termasuk persoalan pendidikan, yang luput dari jangkauan ajaran Islam, sekalipun cakupannya tidak menyentuh pada aspek-aspek teknik operasional. Allah SWT. berfirman dalam QS. al-An’aam ayat 38 ”Tiadalah Kamz' alpakan sesuatu pun di dalam Al Kitab, kemudian kepada Tuhanlah mereka dihimpunkan.” dan Q5. an-Nahl ayat 89 ”Dan Kami turunkan kepadamu Al-Kitab (Al-Qur’an) untuk menjelaskan segala sesuatu dun petunjuk serta rah“ mat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri.” Dua ayat di atas memberikan isyarat bahwa perumusan dan pengembangan pendidikan cukup digali dari sumber autentik Islam, yaitu Al-Qur’an dan hadis.

Kedua, konsep-konsep kependidikan. Konsepkonsep kependidikan yang dimaksud merupakan hasil pemikiran, perenungan dan interpretasi pada ahli yang diinspirasikan dari AI-Qur’an dan As-Sunnah, baik tentang konsep (1) ontologi pendidikan, yang membahas tentang hakikat Tuhan, manusia, dan alam yang menjadi kajian utama dalam pendidikan Islam; (2) epistemologi pendidikan, yang membahas tentang epistemologi dan metodologi dalam pendidikan Islam; dan (3) aksiologi pendidikan, yang membahas tentang sistem nilai yang dikembangkan dalam pendidikan Islam. Ketiga aspek tersebut telah terumuskan begitu rapi dari para filsuf muslim (seperti al-Kindi, al-Farabi, Ibnu Sina, Ibnu Maskawaih, dan Ibnu Rusyd) dan para sufi(seperti al-Ghazali, Rabiah al-Adawiyah, Ibnu Qayyim).
Ketiga, teori-teori kependidikan. Teori-teori kependidikan yang dimaksud merupakan hasil kerja ilmiah dalam melihat pendidikan. Para ahli tidak lagi melihat pendidikan Islam dari sudut ’yang ideal’ dan normatif yang bersumber dari asas dan konsep pendidikan Islam, tetapi lebih melihat dari sisi ’yang nyatanya.’ Sumber dari tata kerja ilmiah ini digali dari fenomena pendidikan yang berkembang pada orang atau masyarakat Islam. Apa yang terjadi di dunia empiris tentang orang atau masyarakat Islam dijadikan sebagai rujukan dalam membangun teori-teori kependidikan Islam. Dalam konteks ini, persyaratan ilmiah (seperti riset dan eksperimen) menjadi bagian integral dalam membangun teori-teori pendidikan Islam.

Kamis, 25 April 2019

5 BATU PERMATA PALING POPULER



Janis-jenis batu batu permata atau gemstone di Indonesia memang sangat variatif. Tak mengherankan jika batu mulia asal Indonesia menjadi sangat populer di dunia intemasional. Hal tersebut
seperti yang terlihat dari antusiasme pengunjung pada acara Pameran Batu Mulia Indonesia 2014.
Macam-macam batu mulia dari jenis-jenis akik sampai batuan yang lebih keras lagi memang bisa dibedakan dari berbagai sisi, misalnya dari bahan dasar pembuatan. warna-wamanya dan untuk beberapa penghobi adalah karena khasiatnya.
Saat ini. ada lima jenis batu mulia yang paling banyak dicari. Kelima batu tersebut punya keindahan yang memukau. Tak mengherankan kalau harganya melambung. “Harganya di kisaran Rp 5
juta hingga Rp50 juta,‘ ungkap kolektor batu mulia, Suwandi Gazali, di Jakarta. Berikut lima jenis batu tersebut:

1. Bacan

Batu bacan (Chrysocolla) adalah batu permata atau batu mulia yang berasai dari Pulau Kasiruta, Halmahera Seiatan, Maiuku Utara. Batu akik bacan ini sejatinya telah tersohor hingga mancanegara. Bukan hanya di masa kini, melainkan sejak abad pertengahan saat Tanah Air menjadi pusat rempah-rempah dunia.
Batu bacan dianggap ‘batu hidup' karena kemampuannya berproses menjadi lebih indah secara alami. Sebagai contoh mengapa
 

 
 
Batu ini sampai mendapat nama sebagaui “batu hidup” adalah batu bacan yang semula berwarna hitam secara bertahap mampu berubah menjadi hijau. Tldak cukup berproses sampai di situ, berikutnya batu ini masih bisa berubah Iagi dalam proses 'pembersihan' sehingga menjadi hijau bening seperti air. Untuk mempercepat proses tersebut biasanya pemilik batu bacan akan terus-menerus memakainya hingga berubah wamanya.
Nama bacan berasal dari nama pulau dan nama kerajaan di Maluku Utara. Batu bacan telah melambungkan nama daerah asalnya ke mancanegara. Sudah sejak lama penduduk di kawasan empat kerajaan Maluku (Terante, Tidore, Jailolo, dan Bacan) memanfaatkan keindahan batu yang berasal dari daerah mereka itu sebagai bahan perhiasan. Nama pulau penghasil batu bacan sendiri adalah Pulau Kasiruta. Akan tetapi, penisbahan nama bacan diawali dari tempat pertama kali batu itu diperdagangkan, yaitu Pulau Bacan yang tidak seberapa jauh jaraknya dari Pulau Kasiruta.
Dilansir indonesia.trave|, keelokan batu bacan tidak hanya pada kemampuannya untuk terus ‘hidup’ berubah warna secara alami, Namun, beberapa jenis batu bacan untuk dapat menyerap senyawa lain dari bahan yang melekatinya. Seperti sebutir batu bacan hijau doko yang dilekatkan dengan tali pengikat berbahan emas mampu menyerap bahan emas tersebut sehingga bagian dalam batunyĆ© muncul bintik-bintik emas.



Kemampuan batu bacan yang berubah warna secara alami dan mencerap bahan melekatinya itulah yang membuat pecinta batu mulia di luar negeri dari China, Arab, dan Eropa tercengang dan kagum terhadapnya. Selain itu. batu bacan juga memiliki tingkat kekerasan batu 7,5 skala Mohs seperti batu jamrud dan melebihi batu giok. Dengan keistimewaan dan keunggulan batu bacan itulah banyak pecinta batu mulia dari luar negeri memburunya sejak tahun 1994. Di Indonesia sendiri batu ini baru popular belakangan sejak 2005 dimana sekarang harganya sangat mahal serta kurang Iogis bagi orang awam.
Penambangan batu bacan sendiri di Pulau Kasiruta tidaklah mudah karena perlu penggalian tanah hingga lebih dari 10 meter. Penambang batunya perlu mencari di tanah terdalam demi mencari urat-urat galur batu bacan. Meski lebih identik dengan warna hijau, batu bacan sebenarnya memiliki ragam warna lain seperti kuning tua, kuning muda, merah, putih bening. putih susu, coklat kemerahan, keunguan, coklat, bahkanjuga beragam warna lainnya hingga 9 macam.

Batu bacan diketahui telah menjadi perhiasan hampir setiap warga sejak masa empat kesultanan (Ternate, Tidore, Jailolo, dan Bacan) di Maluku Utara, baik itu oleh pria maupun wanita. Bahkan, batu bacan terbaik menjadi penghias mahkota para sultan yang masih ada hingga saat ini seperti pada mahkota Kesultanan Ternate. Sering pula batu ini menjadi hadiah bagi tamu yang menyambangi pulaupulau di Maluku. Tahun 1960 saat Presiden Soekarno berkunjung ke Pulau Bacan dihadiahi warga di sana berupa batu bacan. Presiden SBY juga sempat menghadiahi Presiden Amerika Serikat,yaitu Barrack Obama berupa cincin batu  bacan saat berkunjung ke Indonesia.
    
      Apabila Anda menyambangi Ternate, Tidore, Jailolo, atau pun Pulau Bacan maka pastikan mendapatkannya untuk sebuah cenderamata. Akan tetapi, perlu kecermatan memilih atau mintalah saran orang yang memahaminya terkait keasliannya. Hindan‘ pula membeli batu bacan ‘mati’ yang dibentuk jadi mata kalung atau mata cincin dimana terkadang batu tersebut tidak akan mengalami proses apa-apa lagi.
Sebagai panduan singkat bahwa jenis batu bacan berkualitas yang umum dikenal dan beredar di pasaran ada dua, yaitu bacan doko dan bacan palamea. Bacan doko kebanyakan berwama hijau tua sedangkan bacan Palamea berwama hijau muda kebiruan. Nama palamea dan doko sendiri diambil dari nama desa di Pulau Kasiruta. Kedua desa tersebut memiliki deposit batu bacan cukup banyak selain di desa lmbu lmbu dan Desa Besori.
Batu bacan sendiri merupakan jenis batu krisokola yang kebanyakan berwarna hijau kebiruan. Kekerasan awal batu ini berkisar antara 3-4 pada skala Mohs. Batu Bacan berkualitas adalah yang telah mengalami proses silisiftkasi sehingga kekerasannya mencapai 7 pada skala Mohs. Batu bacan yang sudah memproses alami akan terlihat mengkilat dan keras ketika sudah diasah. Batu bacan dikenal memiliki dua jenis, yakni:
1. Batu bacan doko: Batu bacan Doko berasal dari nama desa tempat pertama kali batu ini di temukan yaitu di Desa Doko di Kepulauan Kasiruta. Batu bacan Doko memilki warna yang khas yaitu hijau tua.

2. Batu bacan Palmea: Nama ini juga diambilkan dari nama desa di pulau yang sama. Nmun demikian batu bacan palmea memiliki kekhasan tersendiri. Batu bacan palmea berwarna hijau muda kebiruan.
Bagi mereka yang percaya batu bacan juga memiliki khasiat tersendiri. Mereka percaya bahwa batu bacan memiliki kekuatan dengan pemiliknya bisa menjadi hidup Iebih makmur di samping membuat pemakainya kelihatan Iebih menarik dan berwibawa sehingga banyak disukai orang. Demikian mitos yang berkembang tantang khasiat batu bacan.