Kontributor

Jumat, 26 Oktober 2018

Task Listening Discussion 4 : What do you think about telephone conversation?

1. What do you think about telephone conversation?
2. What are the differences in the conversation between telephone conversation and mobile phone conversation?
3. What are the differences between telephone conversation and face-to-face conversation?



Answer:
  1. A telephone is a communication tool used to convey voice message, especialllymessage in the form of conversations so that  telephone conversations are conversation that use an intemadiary throgh a device that transmitted by an electric curent that is converted in to an audio signal. so that caller and respons to the voice delivered by the telephone from a distance. Phone perception make  it easier if we cannot  talk directly with  the coleagues we invite or respon to,
  2. teephone conersations are conversation bektwen the speaker and the interlocutor throug a commnication device  that uses acable, while a celuler telephone conversation ia a conversation betwen the speaker and the interocutor through a communication device that uses cellular credit as devices that connects the caller and the telphone.
  3. the difference betwen telephone conversations and face to face conversations. telephone conversation is a conversation cariied out by the speaker and the speaker is not in one place or means different places. While face to face conversation  or face to face communication.

Read, Understand, and Remember, Improve, Your Reading Skills With The KWL Method




















Read, Understand, and Remember, Improve, Your Reading Skills With The KWL Method
 DOWNLOAD

Writting Skill : The Paragraph



 Writting Skill : The Paragraph
DOWNLOAD
WATCH NOW

Learn Grammer: The Sentences

















Learn Grammer: The Sentences
DOWNLOAD
WATCH NOW

Kamis, 25 Oktober 2018

pengaruh aliran progresivisme ini dalam pendidikan nasional kita

Tentang pengaruh aliran progresivisme ini dalam pendidikan nasional
Menurut saya aliran progresivisme ini, sangat baik juga bila diterapakan dalam pedidikan nasional kita, karena adanya aliran progresivisme pendidikan menjadi memiiki strategi   yang baik. Karean filsafat progesivisme berpendapat bahwa pengetahuan yang benar pada masa kini mungkin tidak benar dimasa mendatang. Karenanya, cara terbaik mempersiapkan para siswa untuk suatu masa depan yang tidak diketahui adalah membekali mereka mengatasi tantangan-tantangan baru dalam kehidupan untuk menemukan kebenaran-kebenaran yang relevan pada saat ini. Melalui analisis diri dan refleksi yang berkelanjutan, individu dapat mengientifikasi nilai-nilai yang tepat dalam waktu yang dekat. 
Berikut juga  implikasi filsafat progresivisme terhadap pendidikan    
– Menurut progesivisme proses pendidikan mempunyai dua segi, yaitu psikologis dan sosiologis. Dari segi psikologis, pendidik harus dapat mengetahui tenaga-tenaga atau daya-daya yang ada pada anak didik yang akan dikembangkan. Dari segi sosiologis, pendidik harus mengetahui ke mana tenaga-tenaga itu harus dibimbingnya
– Guru dalam melakukan tugasnya dalam praktek pendidikan berpusat pada anak, mempunyai peranan-peranan sebagai ‪Fasilitator, Motivator, ‪Konselor siswa dallam kegiatan belajar sendiri.
– Guru perlu mempunyai pemahaman yang baik tentang katakteristik siswa, dan teknik-teknik memimpin perkembangan siswa, serta kecintaan kepada anak, agar dapat melaksanakan peranan-peranan yang baik.
– Dalam prinsip-prinsip pendidikan peranan guru tidak langsung, melainkan memberi petunjuk kepada siswa. Kebutuhan dan minat siswa akan menentukan apa yang mereka pelajari. Anak harus diizinkan untuk merencanakan perkembangan diri sendiri, dan guru harus membimbing kegiatan belajar

Maka dengan demikian dengan adanya pengaruh aliran  progresivisme  didalam pendidikan nasional , maka pendidikan yang membina dan berdaarakan minat belajar yang  mencakup seluruh pengalaman sosial anak dan orang dewasa sekaligus menaruh perhatian kepada minat anak secara individual. Aliran ini lebih memusatkan perhatian pada proses yang continue dari pada interaksi antar pribadi dengan masyarakat dibandingkan dengan ketentuan – ketentuan normatif yang sesungguhnya adalah produk interaksi itu sendiri.

Pendidikan

Berbagai referensi menyatakan bahwa pendidikan merupakan upaya penting yang harus dilakukan oleh sebuah bangsa untuk membangun dan meningkatkan kesejahteraan masyarakatnya. Pada berbagai seminar dan pertemuan ilmiah lainnya, sering dikemukakan bahwa pendidikan harus diperhatikan jika sebuah bangsa berkeinginan untuk mencapai cita-citanya yang tertinggi seperti meningkatkan keimanan dan ketaqwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, mencerdaskan kehidupan bangsa, meningkatkan budi pekerti, menguasai  kemampuan keterampilan hidup, dan lain-lain. Sehubungan dengan itu maka mata kuliah Pengantar Pendidikan ini merupakan mata kuliah yang wajib Anda tempuh. Mata kuliah ini, akan membekali Anda berbagai konsep, sejarah, dan implementasi pendidikan nasional sehingga Anda dapat menjalankan tugas sehari-hari sebagai pendidik atau praktisi pendidikan dengan lebih baik, sejalan dengan falsafah negara yaitu Pancasila, dan sesuai dengan hakikat manusia, dan hakikat pendidikan bagi kehidupan umat manusia. Melalui mata kuliah ini Anda akan mendapat kesempatan untuk mengkaji hakikat manusia dan pendidikan, baik pendidikan formal, non formal maupun in formal; antropologi pendidikan, landasan dan asas-asas pendidikan, proses, situasi, dan sistem pendidikan nasional; pembangunan dan perubahan sosial; serta inovasi pendidikan. Dengan menguasai materi mata kuliah Pengantar Pendidikan, diharapkan Anda akan memiliki wawasan pendidikan yang lebih baik sehingga dapat menjalankan profesi sebagai pendidik atau praktisi pendidikan yang sejalan dengan situasi dan perkembangan pendidikan.  Setelah mempelajari mata kuliah ini, Anda diharapkan mampu:
 1. mendeskripsikan hakikat manusia dan kaitannya dengan eksistensi pendidikan;
 2. menyatakan karakteristik sosial manusia Indonesia sebagai manusia berkualitas dan kompetitif;
 3. mengintegrasikan landasan dan asas-asas pendidikan; 4.  menjelaskan pendidikan sebagai proses; 5. menjelaskan kondisi pendidikan di Indonesia, termasuk sejarah singkat pendidikan sejak masa sebelum dan sesudah kemerdekaan, baik pendidikan formal, non formal, maupun informal; 6. menjelaskan pendidikan non formal sebagai aliran pokok pendidikan nasional; B
x
7. menjelaskan peran antropologi pendidikan, kebudayaan, dan unsur-unsur kebudayaan; 8.  menjelaskan hakikat kebudayaan dan karakteristik-karakteristik pokok kebudayaan; 9.  menjelaskan eksistensi perubahan sosial dan hubungannya dengan pendidikan formal, non formal, dan informal; 10. menjelaskan eksistensi perubahan sosial dan hubungannya dengan globalisasi, ilmu pengetahuan dan teknologi, serta demokrasi pendidikan; 11. menjelaskan sistem pendidikan nasional, serta pokok-pokok sistem pendidikan nasional; 12. menjelaskan inovasi pendidikan, termasuk difusi inovasi, faktor yang mempengaruhi, faktor pendukung, dan faktor penghambat inovasi pendidikan. 
Agar tujuan mata kuliah Pengantar Pendidikan dapat Anda kuasai secara sistimatis maka materi mata kuliah ini disajikan dalam 9 modul, yang disusun sebagai berikut. Modul 1 :  Hakikat Manusia dan Pendidikan. Modul 2 :  Landasan Pendidikan. Modul 3 :  Lingkungan Pendidikan. Modul 4 :  Gerakan-gerakan Pendidikan. Modul 5 :  Kondisi pendidikan di Indonesia. Modul 6 :  Antropologi Pendidikan. Modul 7 :  Perubahan Sosial Hubungannya Dengan Pendidikan Formal, Non Formal, dan Informal. Modul 8 :  Sistim Pendidikan Nasional.  Modul 9 : Inovasi Pendidikan. 
Selanjutnya, agar Anda dapat menguasai materi secara optimal, sebaiknya Anda mempelajari secara cermat setiap modul secara berurutan sesuai dengan petunjuk yang ada pada setiap modul. Selesaikan semua latihan dan tugas dengan sungguh-sungguh, baik yang bersifat mandiri maupun kelompok sesuai dengan Petunjuk Jawaban Latihan. Kerjakan tes formatif untuk mengukur penguasaan Anda terhadap materi modul ini. Semakin rajin Anda berlatih dan menyelesaikan tugas dengan sungguh-sungguh, semakin besar peluang yang dapat Anda raih untuk  menjadi pendidik yang kompeten dan kompetitif. Ingatlah bahwa peluang itu dicari, bukannya ditunggu. Peluang yang terbaik itu
xi
berasal dari diri Anda sendiri, bukan berasal dari orang lain. Ingatlah bahwa menjadi seorang pendidik sejati, dapat dipelajari dan dikembangkan, asalkan kita punya tekad yang kuat untuk meraihnya dan punya pedoman pengetahuan tentang Ilmu Pendidikan untuk memulai dan menjalankannya dengan benar dan profesional seperti sebuah peta bagi Anda pada saat bepergian.   Semoga Anda berhasil mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan dan semoga Anda mampu memotivasi diri Anda sendiri untuk selalu belajar dan memperbaiki diri dengan wawasan baru yang Anda peroleh dari mata kuliah ini.

Diskusi.4 Sosiolinguistik

Please, explain your position about the following issues:
1. There is no relationship among nature, culture, and language.
2. Language variation occurs by nature, not by cultural process.
3. Negative face is better than positive face.
Jelaskan posisi kamu (setuju atau tidak setuju) terhadap pernyataan-pernyataan di bawah ini:
1. Tidak ada hubungan antara alam, budaya, dan bahasa.
2. Variasi bahasa terjadi karena kehendak alam (terjadi begitu saja), bukan karena proses budaya.
3. Wajah/kesantunan negatif itu lebih baik daripada wajah/kesantunan positif.


Jawab:
1. Tidak ada hubungan antara alam, budaya, dan bahasa.
Saya tidak setuju sebab ada berbagai teori  mengenai hubungan bahasa dan kebudayaan. Ada yang mengatakan bahasa itu merupakan bagian dari kebudayaan, tetapi ada pula yang mengatakan bahwa bahasa dan kebudayaan merupakan dua hal yang berbeda, namun mempunyai hubungan yang sangat erat, sehingga tidak dapat dipisahkan.
Menurut Koentjaraningrat sebagaimana dikutip Abdul Chaer dan Leonie dalam bukunya Sosiolinguistik bahwa bahasa bagian dari kebudayaan. Jadi, hubungan antara bahasa dan kebudayaan merupakan hubungan yang subordinatif, di mana bahasa berada dibawah lingkup kebudayaan.10 Namun pendapat lain ada yang mengatakan bahwa bahasa dan kebudayaan mempunyai hubungan yang koordinatif, yakni hubungan yang sederajat, yang kedudukannya sama tinggi.
Dengan demikian hubungan bahasa dan kebudayaan seperti anak kembar siam, du buah fenomena sangat erat sekali bagaikan dua sisi mata uang, sisi yang satu sebagai sistem kebahasaan dan sisi yang lain sebagai sistem kebudayaan.

Manusia memiliki peran utama bagi alam, budaya dan sejarah. Sejarah memiliki peran untuk menjernihkan jiwa dan pemikiran manusia dalam menempuh fase kehidupan menuju kearah yang lebih baik dan sempurna. Sejarah mengajarkan manusia untuk berpikir arif dan bijaksana. Alam mengajarkan manusia untuk hidup bertanggung jawab dan berkasih sayang. Sedangkan budaya mengajarkan manusia untuk hidup berbudi, beradab, dan memiliki pengetahuan yang komprehensip dalam menghadapi kehidupan yang penuh dengan lika-liku dan tantangan.
Demikian  hubungan antara alam, budaya, dan bahasa.
2. Variasi bahasa terjadi karena kehendak alam (terjadi begitu saja), bukan karena proses budaya.
Ini saya juga tidak setuju, sebab Variasi Bahasa disebabkan oleh adanya kegiatan interaksi sosial yang dilakukan oleh masyarakat atau kelompok yang sangat beragam dan dikarenakan oleh para penuturnya yang tidak homogen. Dalam hal variasi bahasa ini ada dua pandangan. Pertama, variasi itu dilihat sebagai akibat adanya keragaman sosial penutur bahasa itu dan keragaman fungsi bahasa itu. Jadi variasi bahasa itu terjadi sebagai akibat dari adanya keragaman sosial dan keragaman fungsi bahasa. Kedua, variasi bahasa itu sudah ada untuk memenuhi fungsinya sebagai alat interaksi dalam kegiatan masyarakat yang beraneka ragam. Kedua pandangan ini dapat saja diterima ataupun ditolak. Yang jelas, variasi bahasa itu dapat diklasifikasikan berdasarkan adanya keragaman sosial dan fungsi kegiatan didalam masyarakat sosial. Namun Halliday membedakan variasi bahasa berdasarkan pemakai (dialek) dan pemakaian (register). Berikut ini akan dibicarakan variasi-variasi bahasa tersebut, dimulai dari segi penutur ataupun dari segi penggunanya
Dari pemahaman diatas dapat di simpulkan bahwa variasi bahasa terjadi karena proses budaya serta interaksi sosial yang dilakukan oleh masyarakat atau kelompok yang sangat beragam  dan dikarenakan oleh para penuturnya yang tidak homogen.
3. Wajah/kesantunan negatif itu lebih baik daripada wajah/kesantunan positif.
Untuk menjawab ini saya merujuk  ke konsep dan prinsip dari para pakar sebagai bahan referensi.
Konsep atau prinsip kesantunan dikemukakan oleh banyak ahli. Dasar pendapat ahli tentang konsep kesantunan itu berbeda-beda. Ada konsep kesantunan yang dirumuskan dalam bentuk kaidah, ada pula yang diformulasi dalam bentuk strategi. Konsep kesantunan yang dirumuskan di dalam bentuk kaidah membentuk prinsip kesantunan, sedangkan konsep kesantunan yang dirumuskan di dalam bentuk strategi membentuk teori kesantunan (Rustono, 1999:67-68).

Prinsip kesantunan yang dikemukakan oleh Brown dan Levinson berkisar pada nosi muka, yaitu muka positif dan muka negatif.

a.Muka positif yaitu muka yang mengacu pada citra diri orang yang berkeinginan agar apa yang dilakukannya, apa yang dimilikinya, atau apa yang merupakan nilai-nilai yang diyakininya diakui orang sebagai suatu hal yang baik, menyenangkan, patut dihargai, dan seterusnya.

Contoh:

(1)Saya senang dengan kejujuran Anda.
(2)Sekarang kejujuran itu tidak menjamin kesuksesan.

Tuturan (1) merupakan tuturan yang santun karena menghargai apa yang dilakukan mitra tuturnya, sedangkan tuturan (2) kurang santun karena tidak menghargai apa yang dilakukan mitra tuturnya.

b.Muka negatif adalah muka yang mengacu pada citra diri orang yang berkeinginan agar ia dihargai dengan jalan penutur membiarkannya bebas melakukan tindakannya atau membiarkannya bebas dari keharusan mengerjakan sesuatu.

Contoh:

(3)Jangan tidur terlalu malam, nanti bangunnya kesiangan!

Tuturan (3) merupakan tuturan yang tidak santun karena penutur tidak membiarkannya mitra tuturnya bebas melakukan apa yang sedang dikerjakannya. Ketidaksantunan tuturan (3) itu menyangkut muka negatif. Kesantunan yang berkenaan dengan muka negatif dinamakan kesantunan negatif.

Di samping itu, prinsip kesantunan Brown dan Levinson itu tidak berkenaan dengan kaida-kaidah, tetapi menyangkut strategi-strategi. Ada lima strategi kesantunan yang dapat dipilih agar tuturan penutur santun. Kelima strategi itu adalah:

a.Melakukan tindak tutur secara apa adanya, tanpa basa basi, dengan mematuhi prinsip kerjasama Grice.
b.Melakukan tindak tutur dengan menggunakan kesantunan positif.
c.Melakukan tindak tutur dengan menggunakan kesantunan negatif.
d.Melakukan tindak tutur secara off records; dan
e.Tidak melakukan tindak tutur atau diam saja.


The Tanslate


Answer:
1. There is no relationship between nature, culture and language.

I do not agree because there are various theories regarding the relationship between language and culture. Some say that language is part of culture, but there are also those who say that language and culture are two different things, but have very close relationships, so they cannot be separated.
According to Koentjaraningrat, as quoted by Abdul Chaer and Leonie in his Sociolinguistics book, language is part of culture. So, the relationship between language and culture is a subordinate relationship, where language is under the scope of culture.10 However, there are other opinions that say that language and culture have a coordinative relationship, namely the relationship that is equal, which has equal height.
Thus the relationship between language and culture such as conjoined twins, two phenomena very closely like two sides of a coin, one side as a linguistic system and the other as a cultural system.

Human has a major role in nature, culture and history. History has a role to clear the soul and mind of man in taking the phase of life towards a better and perfect. History teaches people to think wisely and wisely. Nature teaches humans to live responsibly and affectionately. While culture teaches people to live virtuous, civilized, and have comprehensive knowledge in facing a life full of twists and turns.
This is the relationship between nature, culture and language.
2. Language variations occur because of the will of nature (just happens), not because of cultural processes.
I also disagree, because Language Variation is caused by the existence of social interaction activities carried out by the community or groups that are very diverse and due to the non-homogeneous speakers. In terms of variations in this language there are two views. First, the variation was seen as a result of the social diversity of the speakers of the language and the diversity of functions of the language. So language variations occur as a result of the existence of social diversity and diversity of language functions. Second, the variety of languages ​​already exists to fulfill its function as a means of interaction in diverse community activities. Both of these views can be accepted or rejected. Clearly, variations in language can be classified based on the existence of social diversity and the function of activities in the social community. But Halliday distinguishes language variations based on user (dialect) and usage (register). The following will discuss the variations of the language, starting with the speakers or users
From the above understanding it can be concluded that language variations occur because the cultural processes and social interactions carried out by the community or groups are very diverse and are caused by non-homogeneous speakers.
3. Face / negative politeness is better than positive face / politeness.
To answer this I refer to the concepts and principles of experts as reference material.
The concept or principle of politeness was put forward by many experts. The basis of expert opinion about the concept of politeness is different. There are politeness concepts that are formulated in the form of rules, some are formulated in the form of strategies. The concept of politeness formulated in the form of rules forms the principle of politeness, while the concept of politeness formulated in the form of a strategy forms the theory of politeness (Rustono, 1999: 67-68).

The politeness principle put forward by Brown and Levinson revolves around the face, namely the positive face and the negative face.

a Positive face is a face that refers to the self image of a person who desires what he does, what he has, or what values ​​are believed to be recognized by people as a good, pleasant, worthy of respect, and so on.

Example:

(1) I am happy with your honesty.
(2) Now honesty does not guarantee success.

Speech (1) is polite speech because it respects what the partner is doing, while utterances (2) are not polite because they do not appreciate what their partner is doing.

b. A negative face is a face that refers to the self-image of a person who desires that he be rewarded by the way the speaker allows him to freely act or let him be free from having to do something.

Example:

(3) Don't sleep too late, later wake up late!

Speech (3) is a speech that is not polite because the speaker does not let his partner be free to do what he is doing. Speech impropriety (3) involves negative faces. The modesty with regard to negative faces is called negative politeness.

In addition, Brown and Levinson's courtesy principle is not related to rules, but involves strategies. There are five politeness strategies that can be chosen so that the speech of the speaker is polite. The five strategies are:

a. Do speech acts as they are, without further ado, by obeying the principle of cooperation between Grice.
b. Do speech acts using positive politeness.
c. Do speech acts using negative politeness.
d. Do speech acts off records; and
e. Do not do speech acts or just keep quiet.