Kontributor

Senin, 10 April 2017

Mengenal Medan : Out door / In door

Melakukan shooting berarti mewakili
orang lain untuk memilihkan adegan-
adegan apa yang akan disaksikan. Dengan
kata lain kita “mewakili” mata orang lain.
Hal ini juga berarti mewakili selera
pemirsa. Oleh karena itu pengambilan
gambar yang baik adalah pengambilan
gambar yang dapat memuaskan pemirsa.
Sebagai contoh :alangkah kecewanya
pemirsa jika melihat hasil liputan anda
tentang tertangkapnya seorang
pembunuh, jika yang dapat mereka
saksikan hanya gambar punggung
pembunuh di antara kerumunan orang-
orang yang menangkapnya, karena anda
mengambil gambar dari belakang si
pembunuh, mengikuti orang-orang yang
menggiringnya dari belakang.
Atau sebaliknya : anda mengambil si
pembunuh dari bagian depannya, namun
menghadap matahari (back light),
sehingga sipembunuh cuma terlihat
sebagai bayangan hitam yang berjalan
kearah anda.
Oleh karena itu pengambilan gambar atau
shooting harus dilakukan dengan
“persiapan” pengetahuan
tentangmedan.
Pengambilan gambar dapat secara
mudah dikenali sebagai INDOOR (dalam
sebuah ruangan,studio, maupun
auditorium yang luas) dan OUTDOOR ( di
alam bebas,lapangan maupun di jalanan.
Secara teknis perbedaan lapangan
tersebut menyebabkan adanya
perbedaan perlakuan di sana-sini.
Umumnya pada pengambilan gambar
INDOOR, para kameramen biasanya selalu
menggunakan tripod. Sebaliknya
pengambilan gambar di lapangan seperti
NEWS jarang menggunakan tripod,
melainkan hand held alias dipanggul saja
dibahu. Bahkan dengan handycam cukup
digenggam saja. Namun untuk
pengambilan gambar pada pembuatan
film, penggunaan tripod justru sangat
wajib. Bahkan crane, jimmy jib, dolly
tripod sangat diperlukan.
Pada pengambilan gambar INDOOR
penggunaan lighting atau pencahayaan
sangat diperlukan, karena pada umumnya
cahaya dari lampu ruangan kurang
memadai. Sebaliknya pada pengambilan
gambar untuk liputan NEWS di lapangan,
kameramen jarang memerlukan lampu
tambahan, kecuali pada situasi malam
atau dalam tempat gelap. Sedangkan
pada pembuatan film, penggunaan lampu
sangat diperlukan, baik untuk membuat
effect maupun untuk menghasilkan
gambar yang baik.
II. PERGERAKAN KAMERA : HARUS
BERALASAN.
Dalam sebuah tugas pengambilan gambar
yang paling sederhana, hanya ada
seorang saja yang bekerja, yaitu
kameramen. Dia memutuskan hal-hal apa
saja yang perlu diambil gambarnya
dengan kamera, sesuai dengan tema
liputannya. Namun dalam dunia
pertelevisian, khususnya di bagian NEWS
(pemberitaan), setidak-tidaknya harus
ada dua orang professional yang pergi ke
lapangan untuk meliput berita, yaitu
seorang reporter dan seorang
kameramen.
Reporter bertugas mengumpulkan berita
dan data-data yang diperlukan,
sedangkan kameramen bertugas
mengambil gambar-gambar yang sesuai
dengan kebutuhan liputan. Kemudian
reporter dan kameramen bekerjasama
melakukan wawancara pada tokoh-tokoh
yang menjadi pusat berita,
ataunarasumber yang dianggap penting
untuk kelengkapan sebuah berita.
Reporter mempunyai hak untuk meminta
kameramen mengambil gambar-gambar
khusus dari obyek tertentu, sampai
kepada detail shot dan angle yang
dikehendaki.
Pada saat kameramen mengambil gambar
pada sebuah liputan peristiwa, pada saat
itulah dia harus terus menyesuaikan
pergerakan kamera dengan situasi.
Dalam hal ini, pergerakan kamera yang
tidak beralasan justru akan membuat hasil
pengambilan gambar jadi buruk dan
kehilangan makna
Pada bab sebelumya telah dijelaskan
jenis-jenis pergerakan kamera, namun
kegunaannya ataupun kapan harus
menggunakan gerakan-gerakan tersebut,
belum tuntas kita bahas.
Dibawah ini beberapa tips pergerakan
kamera dalam pengambilan gambar :
a. Jangan menggerakkan secara PAN
kamera pada suatu adegan atau benda
yang statis, hanya dengan tujuan untuk
memperlihatkan sebuah titik yang
menarik kepada titik yang lain. PAN hanya
digunakan pada orang yang bergerak
atau obyek bergerak.
Mengapa demikian ? Sebab jika kamera
digerakkan secara PAN maka akan
menarik perhatian dan mengacaukan
pikiran dari pemirsa pada pokok materi.
Gerakan PAN seperti itu tidak mempunyai
motif, jadi malah membuyarkan perhatian
pada obyek . Lagi pula secara
natural,dalam kenyataan mata manusia
tidak melakukan gerakan PAN ketika
melihat obyek yang diam.
Gerakan PAN juga digunakan untuk
memperlihatkan suatu panorama yang
luas seperti pegunungan dan
lembah,suatu obyek yang panjang atau
lebar .Karena keterbatasan frame kamera,
maka dalam satu pengambilan hanya
dapat dihasilkan sepotong dari obyek
atau panorama yang sempit saja. Oleh
karena itu dilakukan gerakan
pengambilan gambar PAN agar seluruh
obyek / panorama terlihat
Gerakan PAN yang sangat lambat pada
sebuah lansekap (pemandangan luas) bisa
ditolerir,karena mata juga bisa
melakukannya tanpa membuat obyek jadi
tak jelas(blur).
Jadi jika mengambil gambar obyek diam
pada sebuah ruangan atau di sebuah
panggung, jangan menggunakan gerakan
PAN, kecuali ingin mengambil back drop
atau spanduk-spanduk / caption-caption
yang berisikan tulisan bersambungan
Apalagi fast pan, atau gerakan pan secara
cepat, sangat kurang baik, karena akan
mengakibatkan efek coretan
Seperti juga untuk semua jenis gerakan
kamera, ketika memulai mengambil
sebuah shot, janganlah tiba-tiba
melakukan gerakan PAN atau TRACK,
CRAB, dan zoom. Setelah kamera dalam
posisi record, biarkan selama beberapa
detik ( 4 sampai 5 detik) sebelum
melakukan gerakan. Demikian juga ketika
ingin menghentikan record, tunggulah
beberapa detik setelah berhenti bergerak.
Waktu still beberapa detik ini berguna
dalam editing , sehingga pemirsa
mempunyai kesempatan untuk ‘mengerti’
sejenak apa yang akan disaksikan,
sebelum kamera bergerak.
b. Jangan melakukan gerakan PAN ke
kanan lalu PAN ke kiri berulang-ulang
pada sebuah obyek. Cukup sekali saja
gerakan PAN ke suatu arah dilakukan.
Contohnya : ketika anda mengambil
gambar serombongan orang bergerak
menuju pintu ke luar di sebelah kiri, maka
kamera anda mengikutinya dengan
melakukan gerakan PAN ke kiri.Tetapi
setelah kamera anda sampai ke muka
pintu, kemudian anda langsung
melakukan gerakan PAN ke kanan, ke arah
sisa rombongan yang berada di bagian
belakang, lalu ketika sudah sampai pada
rombongan yang paling belakang, kamera
anda gerakkan lagi PAN ke kiri. Hal ini
hanya membuat pemirsa merasa anda
kebingungan dalam memilih. Hasilnya
seperti orang mengecat tembok: dikuas
ke kanan, lalu kekiri, lalu ke kanan lagi.
Sangat tidak enak dinikmati.
Begitu juga untuk gerakan TILT UP dan
TILT DOWN. Hindari melakukan
pergerakan kamera TILT UP lalu TILT
DOWN berulang-ulang. Membuat pemirsa
pusing dan bosan.
Anda boleh saja merekam secara seperti
di atas untuk keperluan kelengkapan
pendokumentasian, namun nantinya
dalam hasil ahir, harus diedit, dipotong,
dipisahkan, agar gerak PAN kanan PAN kiri
yang berulang-ulang tidak tersajikan
dalam hasil akhir.
c)Jangan melakukan track back (gerakan
kamera bersama tripod mundur
kebelakang) kecuali dengan obyek
manusia yang bergerak menuju kamera.
Pada intinya, ini merupakan perluasan
dari aturan nomor a) di atas, yaitu jangan
membuat pergerakan kamera tanpa
alasan yang jelas bagi pemirsa.
Gerakan track back pada orang yang
bergerak menuju arah kamera adalah
untuk tetap menjaga jarak . Juga ketika
mengambil sekelompok orang yang
bergerak , gerakan track back mempunyai
alasan,yaitu menjaga agar tidak ada
anggota dari kelompok yang hilang dari
frame..
Juga ketika sedang mengambil gambar
seseorang yang duduk dengan shot
medium close up ,tiba-tiba orang tersebut
bangkit berdiri, maka kamera bisa
melakukan gerakan track back, atau zoom
out ,agar orang tersebut masih tetap
masuk dalam frame camera. Gerakan track
back berkesan meninggalkan lokasi.
Contoh lain adalah ketika kita mengambil
gambar awal seorang guru yang sedang
duduk di depan kelas memberi penjelasan
pada murid-murid. Pada shot awal kita
mungkin menggunakan medium shot,
tapi ketika kemudian guru tersebut
berdiri dan menulis di papan tulis di
belakangnya, kamera sudah selayaknya
track back, agar tetap dapat “mewadahi”
guru yang telah berdiri tersebut. Pada
gerakan track back ini, jangan terjadi
terlalu awal atau terlambat, namun harus
pas dengan gerakan si obyek. Hal ini juga
yang kita lakukan dengan mata kita,yaitu
selalu mengikuti dan menyesuaikan
bidang penglihatan agar obyek tetap
terus terlihat dengan baik.
d)Bedakanlah ukuran-ukuran shot (size)
jika mengambil suatu obyek bergerak
berulang-ulang. Minimal dua ukuran shot
yang berbeda.
Contohnya : jika anda mengambil gambar
peristiwa demonstrasi di sebuah tempat
misalnya, ambilah gambar adegan-
adegan disanadengan beberapa type
ukuran shot. Misalnya anda mengambil
sekelompok demonstran yang sedang
mengelilingi seorang demonstran yang
sedang berorasi dengan full shot(FS),
maka usahakan pada shot berikutnya
anda mengambil sang orator itu sendiri
dalam close up (CU) atau medium close up
(MCU)
Setelah itu jika anda menyambung lagi
dengan mengambil sekelompok
demonstran dari posisi pertama, dengan
shot yang pertama lagi, tidak akan terjadi
suatu “lompatan” (jumping) akibat ukuran
gambar sama, tetapi posisi pasti tidak bisa
persis sama .
“Lompatan” atau jumping terjadi jika dua
buah adegan yang sama diambil dengan
size shot yang sama, disambung dalam
editing. Apalagi untuk shot berukuran
besar seperti close up (CU) .Akan terasa
gambar itu seperti meloncat sekejap,
akibat posisi obyek yang sama , hanya
sedikit berbeda jaraknya.
Demikian juga angle pengambilan,
usahakanlah tidak hanya statis dari satu
sudut saja. Dengan mengambil gambar-
gambar bervariasi ukuran shot-nya, anda
telah menyediakan stock shot untuk
keperluan transisi pada saat pengeditan
nanti.
III.FILOSOFI TELEVISI ADALAH CLOSE UP
Dalam pemilihan ukuran shot, jangan
segan-segan memilih ukuran besar untuk
wajah seseorang. Ukuran close up (CU)
atau big close up (BCU) sangat sering
digunakan . Pengambilan wajah
seseorang dengan ukuran besar tersebut
akan menimbulkan karakter dan emosi
obyek lebih muncul.
Cobalah mengambil profil wajah seorang
obyek yang sedang marah dengan CU,
bedakan dengan pengambilan berukuran
MCU (Medium Close up)yang diambil dari
depan obyek.
Pada dasarnya tayangan di televisi lebih
menyukai pengambilan gambar dengan
size close up, karena pengaruh ekspresi
tokoh dalam televisi menjadi lebih kuat.
Kita hanya harus menghindari kesalahan
pengambilan gambar dari sudut yang
mengakibatkan secara psikologis justru
berlawanan.
Contohnya : untuk menampilkan seorang
obyek yang berkedudukan tinggi atau
gagah dan berwibawa, ambilah obyek
tersebut dengan low angle, maka obyek
tersebut akan berkesan lebih berwibawa.
Namun juga harus diamati lebih dulu,
apakah si orang yang menjadi obyek itu
mempunyai lubang hidung yang besar
mendongak atau tidak, memiliki gigi
menjorok (tonggos) atau tidak, Sebab jika
demikian, maka sudut low angle yang kita
ambil untuk merekamnya justru akan
mempermalukan sang obyek, karena sisi
kekurangannya justru akan terekspose.
Demikian juga untuk orang yang botak,
sebaiknya kita tidak mengambilnya
dengan high angle.
Tujuan pemilihan angle adalah
memperoleh kesan maksimal yang sebaik-
baiknya dapat dilakukan dengan kamera.
Sebaliknya jika kita mengambil obyek
yang patut dikasihani atau seorang
“pecundang”, maka pengambilan obyek
tersebut dengan high angle akan lebih
menampakkan kesan tersebut. Sekali lagi,
hal tersebut hanyalah kesan secara
psikologis, yaitu mengumpamakan diri
kita sebagai “mata” dari kamera.
Selain itu high angle sangat baik untuk
mengambil situasi ditempat kejadian
sebuah peristiwa, misalnya sebuah
karnaval sedang berlangsung di jalan.
Sedangkan untuk meliput suatu daerah
yang baru saja dilanda tsunami sebaiknya
di liput dari udara (dengan helicopter
misalnya), dengan suatu angle yang
disebut sebagai bird’s eye, yaitu
pandangan seekor burung yang
menyaksikan pemandangan dari udara
sambil terbang.
IV.FOCUS & ZOOM
Salah satu hal yang paling menjengkelkan
ketika menyaksikan hasil pengambilan
gambar adalah TIDAK FOCUS.
Semua camcorder modern sekarang ini
dilengkapi dengan fitur AUTO FOCUS.
Apalagi handycam. Dengan auto focus,
kamera langsung mengatur titik focus
pada obyek yang ada di depan lensa
kamera pada saat itu. Otomatis ketika
kamera bergerak ke lain obyek atau
berpindah posisi, focus nya otomatis
berubah lagi, disesuaikan dengan obyek
baru yang berada di depan lensa, artinya
obyek-obyek lain yang tidak berada pada
titik focus kamera akan tidak jelas.
Akibatnya banyak orang yang tidak
mengerti kapan menggunakan fitur auto
focus akan menghasilkan gambar yang
buruk dan mengecewakan.
Oleh karena itu gunakanlah pengaturan
focus manual sebelum pengambilan
obyek-obyek yang berada pada tempat
terbuka, apalagi dengan banyak latar
belakang. Caranya adalah: Pada saat
kamera mulai di ‘ON’ kan(belum RECORD,
masih PAUSE), tekan tombol zoom (in)
sampai mentok pada sebuah obyek yang
cukup jauh, katakanlah seekor kerbau.
Setelah kerbau tersebut terlihat sangat
focus (jelas), silahkan menekan zoom out
menuju obyek lain yang ingin diambil. Jika
sudah sesuai size shot dari obyek yang
akan diambil, barulah pencet tombol
RECORD. Dengan cara itu focus dari obyek-
obyek yang diambil lebih dekat jaraknya
dari obyek kerbau akan terekam dengan
jelas,focus.
Yang juga tidak kalah menjengkelkan
adalah penggunaan zoom yang
sembarangan. Handycam sekarang ada
yang mempunyai pembesaran digital
sampai 300 X (300 kali) Hal ini
menyebabkan obyek gambar yang
diambil dengan zoom terbesar akan
sangat bergetar, karena sedikit saja
tangan kita yang memegang kamera itu
bergerak, obyek yang sangat jauh tapi
sedang ‘didekatkan menjadi sangat dekat’
itu akan berguncang hebat. Gerakan
sebesar 1 di tangan kameramen akan
diperbesar sebanyak 300 kali pada obyek,
akibatnya obyek menjadi sangat
berguncang.
Untuk mengurangi guncangan seperti itu,
jangan melakukan zoom in terlalu besar
pada obyek yang terlalu jauh. Kecuali anda
menggunakan sebuah tripod.
Jangan melakukan zoom in atau zoom out
dengan tersendat-sendat. Sangat tidak
enak disaksikan. Ajrut-ajrutan. Juga
jangan membuat shot dengan zoom in
lalu zoom out berulang-ulang. Memang
ada jenis shot yang dikenal dengan
sebutan PUMPING SHOT (seperti orang
memompa) ,yaitu penggunaan zoom in –
zoom out secara cepat dilakukan
beberapa kali. Namun itu adalah dengan
suatu kesengajaan untuk menimbulkan
effect kreatif atau ‘becanda’
Untuk sementara rasanya sudah cukup.
Dengan telah mengetahui berbagai tips
pengambilan gambar di atas, maka
rasanya anda telah mempunyai cukup
bekal untuk melakukan pengambilan
gambar. Nah tunggu apa lagi ? segeralah
mencari peristiwa untuk melatih
ketrampilan dan memulai jam terbang
anda yang pertama!
V.BAHASA GAMBAR
Tak ubahnya seperti bahasa verbal yang
kita gunakan sehari-hari untuk
berkomunikasi, para pembuat karya
rekam tayang juga harus
‘mengkomunikasikan’ karya mereka
melalui sebuah bahasa yang dikenal
sebagai bahasa gambar. Sebuah film
menunjukkan cara seorang sineas
bertutur melalui bahasa gambar.
Bertutur melalui bahasa gambar
merupakan keahlian tersendiri bagi setiap
sineas. Jika seorang penulis novel
menuturkan kisahnya melalui
tulisan,maka seorang sineas menuturkan
kisah melalui gambar,yang disebut film .
Oleh karena itu film yang baik harus
mampu menyuguhkan cerita dalam
adegan-adegan ataupun shot-shot yang
mampu bicara, mampu memperlihatkan
dan menggugah emosi.
Seperti juga para penulis yang memiliki
gaya bahasa-gaya bahasa masing-masing,
setiap sineas juga memiliki gaya bertutur
melalui bahasa gambar yang sesuai
dengan gaya mereka masing-masing.
Contoh puisi karya Chairil Anwar di
bawah ini,dapat menjelaskan gaya
seorang penyair mengungkapkan
perasaan.
AKU
Oleh : Chairil Anwar S
Kalau sampai waktuku
Ku mau tak seorang kan merayu
Tidak juga kau
Tak perlu sedu sedan itu
Aku ini binatang jalang
Dari kumpulannya terbuang
Biar peluru menembus kulitku Aku tetap
meradang menerjang
Luka dan bisa kubawa berlari Berlari
hingga hilang pedih peri
Dan aku akan lebih tidak peduli. Aku mau
hidup seribu tahun lagi
Tentu saja seorang yang awam , tak
dapat mengungkapkan deskripsi diri
sehebat Chairil Anwar . Mungkin dengan
gaya bahasanya sendiri, jika dia diberi
tema yang sama untuk mendeskripsikan
dirinya yang sedang sekarat, bahasanya
kurang lebih akan seperti di bawah ini:
AKU
Oleh : Orang Awam
Kalau nanti aku sudah tua dan sakit-
sakitan,mendekati ajal, maka aku ingin
jangan ada seorangpun dari kalian yang
mencoba-coba untuk berdoa atau
memohon kepada Tuhan YME
agar sakitku
disembuhkan dan umurku
dipanjangkan.
Kamu
juga jangan ya sayangku,kekasih
hatiku…
janganlah
engkau nanti menangisi kematianku, aku
ini orang yang tak berguna, parah dan
banyak dosa, aku penghianat yang
dibenci kawan-kawanku
semua….
dsb dsb dst dst…
Dapat kita rasakan bersama bahwa gaya
bahasa orang awam terasa ‘kurang
tajam’ ,tidak menggigit, kurang keren,
sehingga berkesan sebagai ungkapan
yang ‘biasa-biasa saja’. Dalam bahasa
gambar,seorang sineas juga harus
berusaha agar filmnya tidak biasa-biasa
saja,sehingga ia harus memeras imajinasi
dan sense of art nya.Jika kita saksikan
sebuah film yang dibuat oleh seseorang
amatiran, pasti gambar-gambar yang
disajikan kurang menarik,seringkali lebay
(berlebih-lebihan).Hal ini disebabkan
orang awam/amatiran tidak mengenal
gaya bahasa gambar.Tentu saja acting
para pemain ikut menentukan kualitas
sebuah film, namun secara lebih kongkrit,
seorang sineas harus mengerti dengan
baik teknik-teknik dan gaya pengambilan
gambar. Hal ini dapat dipelajari secara
umum melalui pemahaman tentang apa
itu komposisi gambar, filosofi sudut-sudut
pengambilan gambar dan pergerakan
kamera. Selain itu seorang sineas (dalam
hal ini adalah sutradara) harus mampu
mengarahkan gaya (men- direct /
menyutradarai) pemain, sehingga
tercapai adegan yang diinginkan, sesuai
dengan tuntutan cerita dan emosi yang
hendak dicapai. Bukan membiarkan
pemain melakukan acting sendiri-sendiri
semaunya.Sebelum melakukan
pengambilan gambar,sutradara sering
meminta seorang juru gambar membuat
story board terlebih dahulu, untuk
menggambarkan ide pengambilan
gambarnya nanti, agar cameraman dan
para pemain tahu persis apa keinginan
sutradara dalam mewujudkan bahasa
gambarnya.
contoh-contoh story board
Para pekerja film / film maker yang terdiri
dari produser,
sutradara,cameraman,lightingman,
audioman,penulis naskah,pembangun set,
juru make up, juru tata busana, juru efek,
dll.bekerja sama dalam pembuatan film
agar dapat membuat sebuah film yang
mampu bertutur dalam bahasa gambar
yang sebaik-baiknya.
Untuk sedikit lebih menjelaskan,
perhatikanlah video-video promo dari
film-film yang akan diputar di televisi.
Disitu seorang pembuat video promo
sudah berhasil mengumpulkan dan
menemukan adegan-adegan terhebat
dalam sebuah film, yaitu adegan-adegan
yang secara sangat kuat mampu
berbicara dalam bahasa gambar.
sumber: MODUL SINEMATOGRAFI Pak
KUKUH HENDRIAWAN
Share this:
Twitter Facebook 15
0