Kontributor

Kamis, 18 Mei 2017

Pedoman Penulisan Karya Ilmiah

BAB I
PENDAHULUAN
A.     Pengertian dan macam karya ilmiah
Karya Ilmiah  adalah karya tulis yang disusun oleh seorang penulis berdasarkan hasil-hasil penelitian ilmiah yang telah dilakukannya dalam bentuk makalah, skripsi, tesis, atau disertasi.
1. Makalah
Makalah  adalah karya ilmiah yang membahas suatu pokok persoalan, sebagai hasil penelitian atau sebagai hasil kajian yang disampaikan dalam suatu pertemuan ilmiah (seminar) atau yang berkenan dengan tugas-tugas perkuliahan yang diberikan oleh dosen yang harus diselesaikan secara tertulis oleh mahasiswa. Tebalnya antara lima sampai lima belas halaman.
2. Skripsi
   Skripsi  Adalah karya ilmiah yang ditulis betdasarkan hasil penelitian lapangan atau kajian pustaka yang dipertahankan didepan sidang ujian (munqasyah) dalam rangka penyelesaian studi tingkat Strata Satu  (S1) untuk memperoleh gelar sarjana. Tebal skripsi minimal enam puluh halaman jika ditulis dalam bahasa Indonesia dan empat puluh halaman bila ditulis dalam bahasa asing (Inggris dan  Arab).
3. Tesis
Tesis  Adalah karya ilmiah yang ditulis dalam rangka penyelesaian studi pada tingkat Starata Dua  (S2), yang diajukan untuk dinilai oleh tim penguji untuk memperoleh gelar Magister. Pembahasan dalam tesis mencoba mengungkapkan persoalan ilmiah tertentu dan memecahkan secara analisis kritis. Tebal tesis minimal seratus halaman.
4. Disertasi
   Disertasi  adalah karya ilmiah yang ditulis dalam rangka penyelesaian studi pada tingkat strata tiga  (S3) yang dipertahankan didepan sidang ujian promosi untuk memperoleh gelar Doktor (Dr.). Pembahasan dalam disertasi harus analisis kritis, dan merupakan upaya pendalaman dan pengembangan pengetahuan keagamaan yang diketahui oleh mahasiswa yang bersangkutan. Untuk itu pembahasan harus menggunakan pendekatan multidisipliner yang dapat memberikan suatu kesimpulan dan berimplikasi filosofis dan mencakup beberapa bidang ilmiah. Tebalnya minimal 150 halaman.

B. Bahasa Karya Ilmiah
Karya imiah ditulis dalam bahasa Indonesia. Untuk jurusan Bahasa dan Sastra Arab Fakultas Adab dan jurusan Bahasa Arab Fakultas Tarbiyah. Skripsi dapat ditulis dalam bahasa Arab dengan persetujuan Dekan Fakultas.

C. Tujuan dan Kegunaan
Penulisan karya ilmiah (makalah . skripsi, tesis dan disertasi) berujuan:
1. Melatih mahasiswa mengungkapkan pemikiran atau hasil penelitiannya dalam bentuk tulisan ilmiah yang sistematis dan metodologis.
2. Menumbuhkan etos ilmiah dikalangan mahasiswa. Sehingga tidak hanya menjadi konsumen ilmu pengetahuan. Tetapi juga mampu menjadi producen ( penghasil ) pemikiran dan karya tulis dalam bidang ilmu, terutama setelah penyelesaian studinya.
3. Karya ilmiah yang telah ditulis itu diharapkan menjadi wahana transportasi pengetahuan antara Mahasiswa serta masyarakat atau orang-orang yang berminat membacanya.
4. Membuktikan potensi dan wawasan ilmiah yang dimiliki mahasiswa dalam menghadapi dan menyelesaikan masalah dalam bentuk karya Ilmiah setelah yang bersangkutan memperoleh pengetahuan dan pendidikan dari fakultasnya.
















BAB II
PENYUSUNAN RENCANA PENELITIAN
(DRAFT SKRIPSI DAN SINOPSIS TESIS DISERTASI)
    
    A. Prosedur Penusunan Rencana Penelitian.
    1. Draft Skripsi
a. Permasalahan dan judul yang akan diajukan harus sesuai dengan disiplin ilmu ( program studi ) yang didalami oleh mahasiswa dan jurusan/fakultas masing-masing. Dalam hal ini. Ketua jurusan dibantu oleh Sekretaris jurusan hendaknya sejak awal meneliti unsur relefansi ini, untuk menghindari pemborosan tenaga dan waktu mahasiswa. Untuk itu sangat penting menekankan agar mahasiswa mengajukan permasalahan pokok dalam rencana penelitian yang diajukan sedangkan judul dapat disesuaikan kemudian.
b. Untuk pengajuan rencana penelitian skripsi mahasiswa  yang bersangkutan melakukan konsultasi awal dengan ketua jurusan. Dalam hal ini . Prosedurnya diatur sebagai berikut:
1) mahasiswa diminta mengajukan tiga judul yang masing masing disertai sebuah permasalahan pokok yang dirinci secara logis kedalam lbeberapa sub masalah. Sekretaris jurusan memeriksa apakah judul dan masalah pokok yang diajukan bukan duplikasi dari pembahasan yang pernah dilakukan orang lain.
2)  Ketua jurusan meneliti rancangan  tersebut  dan jika dipandang perlu, ia dapat berkonsultasi dengan dosen ahli dalam permasalahan yang diangkat.
3) Ketua jurusan memberikan disposisi setelah mempertimbangkan bahwa judul dan permasalahannya memungkinkan dibahas dalam bentuk skripsi. Selanjutnya Ketua jurusan mengajukan calon pembimbing bagi mahasiswa yang bersangkutan untuk kemudian di pertimbangkan oleh Dekan.
4) Berdasarkan usul dari Ketua Jurusan. Dekan mengirimkan surat permintaan kesediaan menjadi pembimbing kepada dosen yang direkomondasikan oleh Ketua Jurusan atau dosen lainnya dengan melampirkan rencan penelitian mahasiswa.
5) Dosen pembimbing yang bersangkutan dapat melaksanakan seminar guna mengetahui tingkat penguasaan mahasiswa yang bersangkutan serta kelayakan permasalahan untuk dikaji.
6) Setelah rencana penelitian itu mendapat persetujuan dari Dosen Pembimbing dan ketua jurusan. Dengan membubuhkan tanda tangan masing-masing. Maka rencana penelitian dan penulisan skripsi secara resmi dapat dimulai.
2 Tesis dan Disertasi
a. Judul dan permasalahan yang diajukan harus sesuai dengan disiplin ilmu yang dikaji dalam Program Pasca Sarjana dengan memperhatikan spesifikasi kajian Program. Dan disiplin ilmu yang diminati oleh mahasiswa yang bersangkutan.
b. Untuk mengajukan rencana penelitian tesis dan disertasi. Mahasiswa yang bersangkutan melakukan konsultasi awal dengan Direktur Program Pasca Sarjana atau pejabat yang diserahi tugas. Untuk itu mahasiswa diminta menyiapkan tiga judul tesis/disertasi yang masing-masing disertai dengan permasalahan yang dirinci secara logis .
c. Setelah Direktur atau pejabat yang ditunjuk menyetujui judul dan permasalahan yang akan dibahas maka mahasiswa yang bersangkutan mempersiapkan sinopsis selengkapnya untuk diseminarkan dalam kelas.
d. Direktur kemudian menyampaikan surat permintaan kesediaan pemandu seminar sinopsis dan kesediaan menjadi pembimbing penulisan tesis/disertasi kepada dosen yang dipandang memiliki keahlian yang relevan dengan objek permasalahan tersebut.
e. Sinopsis yang sudah diseminarkan dan sudah dipandang layak untuk ditulis dalam bentuk tesis/disertasi. Disahkan oleh Direktur.
3. Makalah
    Untuk penulisan makalah rencana penelitian tidak diperlukan. Mengingat sifatnya yang sederhana dibanding dengan karya ilmiah lainnya.

B. Materi rencana penelitian
Rencana penelitian yang diajukan harus berisikan materi pokok sebagai berikut:
1. Latar belakang masalah
2. Rumusan dan batasan masalah.
3. Hipotesis
4. Pengertian judul:
5. Tinjauan pustaka:
6. Metode penelitian:
7. Tujuan dan kegunaan.
8. Kepustakaan.
9. Kerangka isi karangan (Outline)
Materi pokok rencana penelitian diatas dapat diuraikan sebagai berikut:
1. Latar belakang masalah mengandung uaraian tentang hal-hal yang melatar belakangi munculnya masalah pokok yang akan dikaji dalam skripsi tesis dan disertasi. Uraian tersebut berisikan tinjauan teoritis dan faktual mengenai hal-hal yang berkaitan dengan masalah pokok baik berdasarkan hasil telaah atau pengamatan sendiri. Karena bobot tesis yang dituntut melebihi bobot skripsi. Maka latar belakang masalah untuk penulisan tesis harus lebih luas. Lebih-lebih lagi untuk penulisan disertasi. Dalam hal ini. Diperlukan uraian penjelasan yang lebih luas dan mendasar.
Latar belakang Permasalahan  yang harus berisi deskripsi mengenai pentingnya tulisan. Dan alasan-alasan merupakan masalah pokok yang dipilih untuk diteliti dan dikaji.
2. Rumusan dan bahasan masalah dimaksudkan sebagai penegasan atas masalah pokok yang akan dikaji. Yang diformulasikan dalam wujud pertanyaan yang memerlukan jawaban. Untuk kedalaman pembahasan. Maka pembahasan yang akan dikaji utuk lebih dari satu masalah pokok. Tetapi harus dianalisis secara logis kedalam bebeapa sub masalah. Jika ternyata masalah pokok itu mempunyai ruang lingkup yang luas maka masalah yang akan diteliti harus diatasi dengan mengidentifikasi dan menjelaskan aspek-aspe apa saja dari sekian masalah itu yang akan diteliti dan  dibahas.
Untuk penulisan tesis dan disertasi diperlukan identifikasi segala permasalahan yang muncul sekitar tema yang diangkat ini dimaksudkan sebagai demonstrasi keluasan wawasan dan kemampuan calon menghadapi sebuah fenomena ke ilmuan. Kemudian diantara masalah yang di identifikasikan itu dipilih dan dirumuskanlah sebuah maslah pokok yang akan dikaji. Pemilihan masalah hendaknya memperhatikan ketentuan-ketentuan yang terdapat dalam metodologi penelitian yang bersifat eksploratif.
Unsur lain yang perlu ditegaskan dalam pernyataan hipotesis ini adalah alat yang menguji hipotesis. Dalam hal ini, teknik tersebut adalah:
a. tes dengan logika
b. tes dengan informasi: dan
c. tes dengan percobaan.
Penyusunan hipotesis yang harus dilandasi kerangka teori seperti yang dituntut dalam metodologi penelitian.
4. Pengertian judul dimaksudkan utuk menghindari terjadinya penafsiran yang keliru dari pembaca dalam memahami maksud yang terkandung dalam judul. Selain itu dia berfungsi menggambarkan ruang lingkup pembahasan. Oleh sebab itu dalam penjelasan judul ini kata-kata yang sudah dipahami dan disepakati pengertiannya secara umum tidak perlu dijelaskan. Kata-kata yang perlu dijelaskan adalah kata -kata yang menunjukkan variabel penelitian dan kata-kata lainnya yang bermakna ganda yang dapat menimbulkan kekeliruan pembaca.
Pengertian judul mencakup penjelasan secara harfiah ( etimologis) dan leksikal dan istilah ( terminologi ) kata-kata yang perlu dijelaskan. Serta mengandung penegasan tentang pengertian yang dipergunakan (definisi operasional) oleh penulis dalamnkarya ilmiahnya. Akhirnya penulis harus merumuskan pengertian judul secara utuh dan memberikan batasan mengenai ruang lingkup pembahasannya.
Perlu ditegaskan bawa pejelasan terminologis dan leksikal saja, yang dikutip dari kamus, tidaklah memadai.
5. Tinjauan Pustaka. Untuk penelitian lapangan, tinjauan pustaka dimaksud untuk :
a. menjelaskan bahwa masalah yang akan diteliti mempunai relevansi ( sesuai atau tidak seauai ) dengan sejumlah teori yang ada dalam buku:
b. menjelaskan bahwa pokok masalah yang akan diteliti belum pernah diteliti dan dibahas oleh penulis lain sebelumya.
Sedangkan untuk peneliti kepustakaan ,tinjauan pustaka dimaksudkan untuk :
1) Menjelaskan bahwa pokok masalah yang akan diteliti dan dibahas belum pernah dibahas oleh penulis lain sebelumnya: atau mungkin telah disinggung oleh penulis lain. Namun tidak berdasar pada hasil penelitian dan belum merupakan pembahasan yang mendalam:
2) Menjelaskan bahwa teori-teori yang sudah ada dalam buku tentang maslah yang akan dikaji dan tidak relevan lagi dan akan dibuktikan kekeliruannya, sehingga tampak jelas pentingnya penelitian ang akan dilakukan oleh penulis.
6. Metode penelitian adalah metode-metode yang digunakan dalam penelitian. Metode ini mencakup metode-metode pelaksanaan penelitian metode pendekatan, pengumpulan data dan pengolahan / analisis data.
a. Metode pelaksanaan penelitian
Metode pelaksanaan penelitian relevan dengan bentuk penelitian yang dilakukan yakni salah satu bentuk berikut :
1) Studi Historis ( diraasat tariikhiyah ) yang menelusuri yang merekonstruksi jejak sejarah objek pembahasan dengan jalan menoleh kemasa lampau. Perlu diperhatikan bahwa unsur yang menentukan bentuk studi historis ini bukan uraian pengenalan tentang sejarah suatu objek tetapi ditentukan oleh permasalahan yang dimajukan.
2) Studi Kasus ( diraasat al-halah ) yang membahas kenyataan atau kejadian yang terdapat dalam masyarakat dengan uraian secara mendetail dan mendalam.
3) Studi perbandingan ( dirasat muqaranah ) yang membandingkan dua objek dengan menunjunkkan persamaan dan perbedaan disertai argumentasi latar belakang, akibat/dampak, dan hikmah persamaan dan perbedaan kedua objek belaka tidak memadai.
b. Metode pendekatan
Metode pendekatan mengungkapkan pola pikir yang digunakan untuk membahas objek penelitian. Pola pikir tersebut relevan dengan fakultas dengan jurusan. Karena itu misalnya pendekatan kebahasaan dan pendekatan kesejarahan merupakan pendekatan utama penulisan karya ilmiah dalam lingkungan fakultas adab; pendekatan komunikasi dan sosiologis bagi fakultas Dakwah; pendekatan syar'iy dan yuridis bagi Fakultas Syari'ah: serta pendekatan filosofis, teologis dan eksegesisbagi Fakultas Tarbiyah : sera pendekatan filosofis teologis dan eksegesis bagi Fakultas Ushuluddin . Penggunaan pendekatan sekunder tetap terbuka sesuai dengan pembahasan Misalnya Judul " Kompilasi hukum Islam Sebagai Fiqih Kontemporer" dapat dikaji dengan pendekatan kesejarahan dan pendekatan sosiologis. Karena itu judul tersebut diberi anak judul! " sebuah kajian sejarah" atau sebuah "Kajian Sosiologis".
Untuk program pasca sarjana. Pendekatan yang diperlukan adalah pendekatan multidisipliner atau interdisipliner.
c. Metode pengumpulan data
Metode ini mencakup teknik-teknik yang dipergunakan untuk mengumpulkan data. Untuk itu perlu ditegaskan:
1) Jenis-jenis data yang dicari ( Kuantitatif atau Kualitatif ) dan sumber- sumbernya, baik dari kepustakaan ( library research ) dan ataubdari lapangan ( field research ). Dalam hal objek penelitian memiliki populasi maka perlu ditegaskan ciri-ciri dan batasan populasi sera proses samplingnya.
Selain itu perlu pula ditegaskan judul buku-buku utama dan dokumen-dokumen yang menjadi sumber data. Demikian pula sumber data lain yang diperlulan dalam penelitian lapangan sperti instansi dan pribadi-pribadi yang terkait
2) Teknik-teknik ang dipergunakan dalam pengumpulan data seperti observasi, intervew, angket, atau kartu data. Perlu pula disebutkan alasan penggunaan teknik-teknik tersebut. Proses yang ditempuh dan data yang dicari.
d. Metode pengelahan dan analisis data.
Disini dikemukakan jenis metode pengolahan data yang dipergunakan, yakni metode kuantitatif atau metode kualitatif disertai alasan penggunaannya. Penggunaan metode kuantitatif lebih lanjut menghendaki penegasan model penyajian dalam bentuk tabel atau grafik dan penegasan penggunaan analisis statistik.



BAB III
KOMPOSISI KARYA ILMIAH

A. Pengertian komposisi karya ilmiah.
    Komposisi karya ilmiah yang dimaksud disini adalah struktur penempatan uraian dan pembahasan yang sistematis dan logis. Ini berarti perlunya keterkaitan antara satu bagian karya ilmiah itu dengan bagiannya  yang lain, sehingga karangan itu menjadi karya ilmiah yang utuh.
B. Sistematika
Secara umum, komposisi penulisan karya ilmiah terdiri atas tiga bagian utama yaitu: bagian awal, bagian pokok atau isi dan bagian akhir. Sesuai dengan sifat dan tujuan masing-masing karya ilmiah maka sistematika skripsi, tesis dan disertasi dibedakan dari sistematika makalah.
1. Skripsi, Tesis dan Disertasi
Komposisi penulisan skripsi, tesis, dan disertasi  disusun secara sistematis sebagai berikut:
Komposisi penulisan skripsi, tesis, dan disertasi disusun secara sistematis sebagai berikut:
a.  Bagian Awal:
1) Halaman Sampul
2) Halaman Judul:
3) Abstak:
  4) Halaman Persetujuan Pembimbing:
  5) Halaman Pernyataan Penulis:
  6) Halaman Pengesahan :
  7) Kata Pengantar
  8) Daftar isi
  9) Daftar tabel (kalau ada)
10) Daftar Ilustrasi ( Kalau ada)
11) Transliterasi
b. Bagian Pokok atau Isi:
1) Bab Pendahuluan
2) Bab-bab pembahasan yang mencakup tiga bagian
    a) Bab yang berisi kajian teori
    b) Bab yang memuat deskripsi hasil penelitian.
    c) Bab yang berisi analisis masalah
3) Bab Penutup, yang berisi kesimpulan dan implikasi/ rekomondasi.
c. Bagian akhir
1) Daftar Pustaka
2) Lampiran atau Apendiks ( kalau ada ):
3) Riwayat hidup singkat penulis
2) Makalah
Sistematika makalah dapat disusun sebagai berikut:
a. Pendahuluan, meliputi
1) Latar belakang dan signifikan masalah :
2) Rumusa masalah
3) Sistematika pembahasan
b. Pembahasan sesuai dengan Submasalah yang ada .
c. Penutup yang mengandung kesimpulan dan implikasi.
C . Uraian Komposisi
1. Skripsi, Tesis dan Disertasi.
a. Bagian Awal:
1) Halaman sampul berisikan kalimat-kalimat tentang:
a) judul karya ilmiah ( skripsi, tesis disertasi );
b) Kata " oleh"
c) Nama penulis dan dibawahnya diterakan NIM:
d) Kalimat peruntukan skripsi, tesis dan disertasi:
e) Tahun penyelesaian Karya tulis. yakni tahun persetujuan pembimbing.
2) Halaman judul berwarna putih (HVS) isinya sama dengan halaman sampul.
3) Abstrak.
Abstrak (bukan abstraksi) adalah intisari kandungan skripsi yang ditulis secara esai tanpa sub judul. Abstraksi sebaiknya ditulis dalam satu halaman, maksimal dua halaman dengan jarak spasi. Abstrak hanya memuat bagian-bagian yang penting, yaitu tema. Maksud dan kesimpulan yang dengan pengungkapannya, kandungan skripsi ,tesis atau disertasi dapat tergambar secara ringkas dan cukup jelas. Abstrak bukanlah kesimpulan-kesimpulan yang didapatkan pada bagian awal  skripsi, tesis atau disertasi atau ringkasan rumusan masalah.
4) Halaman persetujuan pembimbing, berisi:
a) Judul halaman PERSETUJUAN PEMBIMBING ditetapkan secara simetris dibagian atas
b) Teks persetujuan
c) Tanggal persetujuan
d) Tanda tangan. nama dan NIP pembimbing.

Setelah skripsi dipertahankan maka halaman ini tidak perlu ikut terjilid
5) Halaman Pernyataan Penulis Skripsi Tesis atau disertasi bahwa jika  skripsi tesis dan disertasi yang ditulisnya itu ternyata merupakan duplikat tiruan plagiat dan buatan orang lain baik seluruhan atau sebagiannya. Maka skripsi tesis atau disertasi dan gelar yang diperoleh penyusun berdasarkan karya tulis tersebut batal demi hukum.
Unsur-unsur halaman ini adalah :
a. Judul halaman HALAMAN PERNYATAAN KEASLIAN SKRIPSI Judul disesuaikan dengan tesis atau disertasi
b. Teks pernyataan
Dengan penuh kesadaran penyusun yang bertanda tangan di bawah ini menyatakan bahwa skripsi ( Tesis / disertasi ) ini benar adalah hasil karya penyusun sendiri. Jika kemudian hari terbukti bahwa ia merupakan duplikat tiruan atau plagiat dibantu atau dibuat oleh orang lain secara keseluruhan atau sebagian, maka skripsi ( tesis dan disertasi ) dan gelar yang diperoleh karenanya. batal demi hukum.
c) Tanggal pernyataan
d) Tanda tangan penyusun
e) Nama/ NIP penyusun.
f) kertas berwarna merah jambu.
    6) Halaman pengesahan ( Hanya skripsi yaiu halaman yang berisi
a) Kalimat PENGESAHAN SKRIPSI, sebagai judul.
b) Teks pengesahan
c) Tanggal pengesahan ( sesuai tanggal lulus ).
d) Nama anggota Tim Penguji disertai jabatannya . dan tanda tangan asli.
e) Diketahui oleh Dekan Fakultas.

7) Kata pengantar yang berisi ungkapan rasa syukur kepada Allah SWT dan pernyataan terimakasih kepada semua pihak yang turut memberi dukungan moril dan materil atas selesainya skripsi atau tesis/disertasi, dan yang dinilai telah berjasa besar kepada penulis selama menempuh pendidikan di Kampus. Sebaiknya kata pengantar ditulis dalam satu halaman, dan tidak lebih dari dua halaman.
Selanjutnya ucapan terimakasih hanya ditujukan kepada:
a)  Rektor/ Pimpinan Institut
b)  Dekan dan ketua jurusan.
c)   Pembimbing.
d) Instansi yang memberikan fasilitas tempat/ rekomondasi bagi pelaksana penelitian.
e) Pimpinan perpustakaan yang telah menyediakan fasilitas untuk keperluan studi kepustakaan.
f) Dosen atau pihak tertentu yang secara kongkrit memberikan bantuannya.
g) Orang tua dan keluarga lain yang benar-benar memberikan bantuan kepada penulis dalam rangka penyelesaian studi.
Ucapan terimakasih hendaknya memakai kalimat yang wajar. Tidak berlebihan dalam menghargai pihak lain dan tidak terlalu merendahkan diri. Sebaiknya dihindari pernyataan yang mengungkapkan kekurangan-kekurangan dalam skripsi, sehingga karya ilmiah tersebut tetap memiliki wibawa ilmiah yang objektif
8) Daftar isi memuat keterangan secara rinci dan sistematis. Tentang keseluruhan kandungan karya tulis ilmiah, meliputi bagian awal, bagian tengan dan bagian akhir. Didalam dicantumkan judul bab dan subnya,  yang masing- masing diberi nomor urut dan nomor halaman awal pemuatannya .
Judul- judul  dihubungkan oleh titik-titik ke nomor halaman.
Cara penulisan daftar isi sebgai berikut:
a) kata: DAFTAR ISI Ditempatkan sebagai judul halaman dibagian atas tengah dengan huruf kapital tanpa garis bawah dan tanpa titik
b) Unsur-unsur dari bagian awal skripsi yakni Halaman Judul. Abstrak, Halaman pernyataan. Halaman pengesahan. Kata pengantar, Daftar isi, Daftar Tabel, dan seterusnya ditulis dengan huruf kapital. Nomor halaman pemuatan dalam angka Romawi kecil ditempatkan di ujung baris.
c) Bab - bab diketik berurut dengan indikator  angka Romawi besar. Diikuti denga judul bab yang ditulis secara keseluruhan  dengan huruf kapital tanpa garis bawah. Subbab  ditulis dengan huruf kapital pada setiap huruf awal kata, kecuali huruf awal kata sandang, kata depan dan kata penghubung yang ditulis dengan huruf kecil.
d) Skripsi  yang ditulis dalam bahasa Arab/Asing. Prinsipnya sama dengan ketentuan diatas. Namun disesuaikan dengan ketentuan dalam bahasa Arab/ Asing.

9) Daftar Tabel dan ilustrasi. Kalau dalam skripsi atau tesis/disertasi terdapat lima buah tabel atau ilustrasi, maka perlu dibuatkan daftar tersendiri dengan teknik seprti pembuatan Daftar isi dengan judul DAFTAR TABEL atau DAFTAR ILUSTRASI. Demikian pula peta, diagram grafik dan sebagainya. Jika ada dibuat seperti teknik pembuatan DAFTAR TABEL dan Ilustrasi.
b. Bagian Pokok atau Isi Skripsi dan Tesis
1) Pendahuluan.
    Pendahuluan mencakup penjelasan-penjelasan yang erat sekali hubungannya dengan masalah yang dibahas dalam bab-bab selanjutnya. Jadi pendahuluan dimaksudkan untuk mengantar pembaca memasuki uaraian-uraian tentang masalah yang diangkat dalam skripsi, tesis, dan disertasi. Penjelasan-penjelasan itu dirinci sebagai berikut :
a) Latar belakang masalah ( sudah dijelaskan )
b) Rumusan dan batasan masalah (sudah dijelaskan)
c) Hipotesis ( sudah dijelaskan )
d) Pengertian Judul ( Sudah dijelaskan )
e) metode penelitian ( sudah dijelaskan )
f) Tinjauan pustaka ( Sudah dijelaskan)
g) Tujuan dan kegunaan ( sudah dijelaskan)
h) Garis- garis besar isi (sudah dielaskan )
Uaraian setiap item tersebut pada bab pendahuluan harus dikembangkan dari materi yang diuraikan dalam rencana penelitian. Terutama karena bab pendahuluan isi berisi deskripsi pelaksananaan penelitian. Dengan kata lain meskipun materi keduannya memiliki kesamaan namun tidak berarti rencana penelitian serta merta menjadi bab pendahuluan.
2) Bab-bab penguraian
Uraian dalam karya ilmiah (skripsi tesis, dan disertasi ). Harus memuat tapsiran-tapsiran dan analisis terhadap  data yang telah dikumpulkan yang merupakan jawaban terinci atas persoalan yang berhubungan dwngan pokok pembahasan dan sub-sub masalah.
Bab -bab pengurain disusun secara logis. Dalam hal ini, diawali denan pembahasan yang bersiat umum yakni kajian teoritis yang relevan  dan merupakan kerangka teori. Kemudian disusul dengan pembahasan masalah yang lebih khusus yakni deskripsi objek penelitian dan analisis masalah.
Karya ilmiah tidak terlepas dari sifatnya sebagai laporan penelitian. Oleh karena itu bab-bab penguaraian dapat pula disusun dengan mengikuti pola laporan penelitian, terutama untuk penulisan yang berdasarkan riset lapangan. Dalam hal ini bab-bab penguraian mencakup pembahasan landasan teoritis metodologi penelitian dan hasil penelitian.
3) Bab penutup
Bab ini berisi kesimpulan dan implikasi atau saran . kesimpulan diambil dari pembahasan yang telah dikemukakan dalam bab-bab sebelumnya. Kesimpulan harus merupakan jawaban yang tegas terhadap pokok masalah. Kesimpulan bukanlah  ringkasan  dari uraian- uraian seelumnya. Melainkan seagai hasil pemecahan terhadap apa yang dipermasalahkan dalam skripsi, tesis atau disertasi. Yang dirumuskan menurut proses berpikir secara sistematis dan metodologis.
Dalam bab penutup ini. Dimuat pula implikasi dan penelitian dan pembaasan yang telah dilakukan. Berupa saran-saran ang dirasa perlu. Saran-saran sebaiknya realistis dan argumentatif. Sehingga tidak tampak  sebagai daftar usul belaka.
e. Bagian akhir
Bagian akhir skripsi , tesis atau disertasi berisi:
1) Daftar Pustaka
Daftar pustaka adalah dafar rujukan baik berupa buku-buku majalah. Terbitan khusus, artikel undang- undang dan peraturan dan sebagainya yang banar menjadi rujukan dalam menyusun skripsi tesis atau disertasi. Oleh karena itu yang akan dimasukkan dalam Daftar Pustaka ini hanyalah yang dijadikan sebagai sumber kutipan. Buku majalah, surat kabar dan lain- lain dikutip, meskipun berguna bagi penyusun skripsi, tesis, dan disertasi. Tidak perlu dimasukkan dalam Daftar Pustaka.
Daftar Pustaka merupakan salah satu persyaratan bagi setiap karya ilmiah. Dengan Daftar Pustaka pembaca akan dapat dengan mudah mengetahuai keseluruhan sumber rujukan yang digunakan dalam penulisan karya ilmiah. Sehingga ia dapat pula memperkirakan kualitas atau bobot ilmiah skripsi tesis dan disertasi tersebut. Lebih dari itu, pembaca juga dapat menelusuri lebih jauh validitas uraian lewat daftar pustaka yang isinya telah dikutip.
Cara pembuaan dafar pustaka dapat dilihat  dalam bab IV tentang teknik penulisan.
Lampiran
Lampiran berisi hal-hal yang merupakan kelengkapan yang mendukung validitas atau keahlian suatu uraian, misalnya gambar-gambar (foto) tentang suatu objek. Peraturan-peraturan surat (keputusan) silsilah model angket dan model sesuatu yang telah diterangkan dalam bab-bab isi skripsi tesis atau disertasi. Peempatan lampiran ini. Harus diurut sesuai dengan urut-urutan uraian dalam karya ilmiah.
Daftar Riwaat hidup penyusun
Daftar ini berisikan:
a) judul halaman DAFTAR RIWAYAT HIDUP Diketik simetris ditepi margin atas .
b) data riwayat hidup penyusun tempat dan tanggal lahir. Jabatan/pangkat (kalau ada) orang tua istri/anak (kalau ada) riwayat pendidikan, riwayat pekerjaan (kalau ada). Dan karya tulis ( kalau ada ).
4) Transliterasi
Transliterasi adalah daftar yang menyatakan peralihan huruf arab ke huruf latin. Transliterasi diperlukan untuk kemudahan komunikasi dengan tetap memperhatikan agar unsur makna bahasa asal yang tidak berobah. Daftar transliterasi huruf arab ke huruf latin dilampirkan dalam pedoman ini dan harus digunakan secara konsisten.


BAB IV
TEKNIK PENULISAN

Teknik penulisan yang dimaksud adalah cara-cara penulisan Unsur-unsur karya ilmiah yang mencakup pengetikan teks atau tubuh tulisan, catatan kaki, dan daftar pustaka.
A. Teks (Tubuh Tulisan )
1. Pengaturan Margin
a. Margin kiri dan atas untuk penulisan huruf lathin. Serta margin kanan dan atas untuk penulisan huruf Arab Bagi yang di IAIN masing-masing selebar 4 cm  dari pinggir kertas.
b. Margin kanan dan bawah untuk penulisan huruf latin. Serta margin kiri dan bawah untuk penulisan huruf Arab Bagi di IAIN masing-masing selebar 3 cm dari pinggir kertas.
Baris pertama setiap alinea dimuliai setelah tujuh ketukan dari margin kiri untuk penulisan huruf lathin dan margin kanan untuk penulisan huruf Arab.
d. Setiap ketikan dimulai ke margin numerasi (penomoran) dan baris baru (prinsip margin tunggal).
e. Setiap lembar kertas hanya digunakan setiap satu halaman (tidak timbal balik).
2. Jarak spasi antara baris dan ketukan antara kata.
a. Jarak antara nomor bab dengan judul bab dengan baris berikut nya ( jika lebih dari satu Baris) adalah dua spasi.
b. Jarak judul bab dengan subbab (jika langsung diiringi subbab). Dengan baris pertama teks adalah tiga spasi.
c. Teks diketik dengan jarak dua spasi, kecuali:
1) Kutipan langsung sepanjang tiga baris atau lebih yang diketik dengan jarak atau spasi dan dalam format terpisah dari teks biasa. Untuk penulisan huruf Arab satu setengah spasi atau penyesuaian.
2) Terjemahan ayat Al-Qur'an. Hadis atau terjemahan dari sumber bahasa asing diketik dengan jarak satu spasi jika mencapai tiga baris. 

    

Senin, 10 April 2017

Mengenal Medan : Out door / In door

Melakukan shooting berarti mewakili
orang lain untuk memilihkan adegan-
adegan apa yang akan disaksikan. Dengan
kata lain kita “mewakili” mata orang lain.
Hal ini juga berarti mewakili selera
pemirsa. Oleh karena itu pengambilan
gambar yang baik adalah pengambilan
gambar yang dapat memuaskan pemirsa.
Sebagai contoh :alangkah kecewanya
pemirsa jika melihat hasil liputan anda
tentang tertangkapnya seorang
pembunuh, jika yang dapat mereka
saksikan hanya gambar punggung
pembunuh di antara kerumunan orang-
orang yang menangkapnya, karena anda
mengambil gambar dari belakang si
pembunuh, mengikuti orang-orang yang
menggiringnya dari belakang.
Atau sebaliknya : anda mengambil si
pembunuh dari bagian depannya, namun
menghadap matahari (back light),
sehingga sipembunuh cuma terlihat
sebagai bayangan hitam yang berjalan
kearah anda.
Oleh karena itu pengambilan gambar atau
shooting harus dilakukan dengan
“persiapan” pengetahuan
tentangmedan.
Pengambilan gambar dapat secara
mudah dikenali sebagai INDOOR (dalam
sebuah ruangan,studio, maupun
auditorium yang luas) dan OUTDOOR ( di
alam bebas,lapangan maupun di jalanan.
Secara teknis perbedaan lapangan
tersebut menyebabkan adanya
perbedaan perlakuan di sana-sini.
Umumnya pada pengambilan gambar
INDOOR, para kameramen biasanya selalu
menggunakan tripod. Sebaliknya
pengambilan gambar di lapangan seperti
NEWS jarang menggunakan tripod,
melainkan hand held alias dipanggul saja
dibahu. Bahkan dengan handycam cukup
digenggam saja. Namun untuk
pengambilan gambar pada pembuatan
film, penggunaan tripod justru sangat
wajib. Bahkan crane, jimmy jib, dolly
tripod sangat diperlukan.
Pada pengambilan gambar INDOOR
penggunaan lighting atau pencahayaan
sangat diperlukan, karena pada umumnya
cahaya dari lampu ruangan kurang
memadai. Sebaliknya pada pengambilan
gambar untuk liputan NEWS di lapangan,
kameramen jarang memerlukan lampu
tambahan, kecuali pada situasi malam
atau dalam tempat gelap. Sedangkan
pada pembuatan film, penggunaan lampu
sangat diperlukan, baik untuk membuat
effect maupun untuk menghasilkan
gambar yang baik.
II. PERGERAKAN KAMERA : HARUS
BERALASAN.
Dalam sebuah tugas pengambilan gambar
yang paling sederhana, hanya ada
seorang saja yang bekerja, yaitu
kameramen. Dia memutuskan hal-hal apa
saja yang perlu diambil gambarnya
dengan kamera, sesuai dengan tema
liputannya. Namun dalam dunia
pertelevisian, khususnya di bagian NEWS
(pemberitaan), setidak-tidaknya harus
ada dua orang professional yang pergi ke
lapangan untuk meliput berita, yaitu
seorang reporter dan seorang
kameramen.
Reporter bertugas mengumpulkan berita
dan data-data yang diperlukan,
sedangkan kameramen bertugas
mengambil gambar-gambar yang sesuai
dengan kebutuhan liputan. Kemudian
reporter dan kameramen bekerjasama
melakukan wawancara pada tokoh-tokoh
yang menjadi pusat berita,
ataunarasumber yang dianggap penting
untuk kelengkapan sebuah berita.
Reporter mempunyai hak untuk meminta
kameramen mengambil gambar-gambar
khusus dari obyek tertentu, sampai
kepada detail shot dan angle yang
dikehendaki.
Pada saat kameramen mengambil gambar
pada sebuah liputan peristiwa, pada saat
itulah dia harus terus menyesuaikan
pergerakan kamera dengan situasi.
Dalam hal ini, pergerakan kamera yang
tidak beralasan justru akan membuat hasil
pengambilan gambar jadi buruk dan
kehilangan makna
Pada bab sebelumya telah dijelaskan
jenis-jenis pergerakan kamera, namun
kegunaannya ataupun kapan harus
menggunakan gerakan-gerakan tersebut,
belum tuntas kita bahas.
Dibawah ini beberapa tips pergerakan
kamera dalam pengambilan gambar :
a. Jangan menggerakkan secara PAN
kamera pada suatu adegan atau benda
yang statis, hanya dengan tujuan untuk
memperlihatkan sebuah titik yang
menarik kepada titik yang lain. PAN hanya
digunakan pada orang yang bergerak
atau obyek bergerak.
Mengapa demikian ? Sebab jika kamera
digerakkan secara PAN maka akan
menarik perhatian dan mengacaukan
pikiran dari pemirsa pada pokok materi.
Gerakan PAN seperti itu tidak mempunyai
motif, jadi malah membuyarkan perhatian
pada obyek . Lagi pula secara
natural,dalam kenyataan mata manusia
tidak melakukan gerakan PAN ketika
melihat obyek yang diam.
Gerakan PAN juga digunakan untuk
memperlihatkan suatu panorama yang
luas seperti pegunungan dan
lembah,suatu obyek yang panjang atau
lebar .Karena keterbatasan frame kamera,
maka dalam satu pengambilan hanya
dapat dihasilkan sepotong dari obyek
atau panorama yang sempit saja. Oleh
karena itu dilakukan gerakan
pengambilan gambar PAN agar seluruh
obyek / panorama terlihat
Gerakan PAN yang sangat lambat pada
sebuah lansekap (pemandangan luas) bisa
ditolerir,karena mata juga bisa
melakukannya tanpa membuat obyek jadi
tak jelas(blur).
Jadi jika mengambil gambar obyek diam
pada sebuah ruangan atau di sebuah
panggung, jangan menggunakan gerakan
PAN, kecuali ingin mengambil back drop
atau spanduk-spanduk / caption-caption
yang berisikan tulisan bersambungan
Apalagi fast pan, atau gerakan pan secara
cepat, sangat kurang baik, karena akan
mengakibatkan efek coretan
Seperti juga untuk semua jenis gerakan
kamera, ketika memulai mengambil
sebuah shot, janganlah tiba-tiba
melakukan gerakan PAN atau TRACK,
CRAB, dan zoom. Setelah kamera dalam
posisi record, biarkan selama beberapa
detik ( 4 sampai 5 detik) sebelum
melakukan gerakan. Demikian juga ketika
ingin menghentikan record, tunggulah
beberapa detik setelah berhenti bergerak.
Waktu still beberapa detik ini berguna
dalam editing , sehingga pemirsa
mempunyai kesempatan untuk ‘mengerti’
sejenak apa yang akan disaksikan,
sebelum kamera bergerak.
b. Jangan melakukan gerakan PAN ke
kanan lalu PAN ke kiri berulang-ulang
pada sebuah obyek. Cukup sekali saja
gerakan PAN ke suatu arah dilakukan.
Contohnya : ketika anda mengambil
gambar serombongan orang bergerak
menuju pintu ke luar di sebelah kiri, maka
kamera anda mengikutinya dengan
melakukan gerakan PAN ke kiri.Tetapi
setelah kamera anda sampai ke muka
pintu, kemudian anda langsung
melakukan gerakan PAN ke kanan, ke arah
sisa rombongan yang berada di bagian
belakang, lalu ketika sudah sampai pada
rombongan yang paling belakang, kamera
anda gerakkan lagi PAN ke kiri. Hal ini
hanya membuat pemirsa merasa anda
kebingungan dalam memilih. Hasilnya
seperti orang mengecat tembok: dikuas
ke kanan, lalu kekiri, lalu ke kanan lagi.
Sangat tidak enak dinikmati.
Begitu juga untuk gerakan TILT UP dan
TILT DOWN. Hindari melakukan
pergerakan kamera TILT UP lalu TILT
DOWN berulang-ulang. Membuat pemirsa
pusing dan bosan.
Anda boleh saja merekam secara seperti
di atas untuk keperluan kelengkapan
pendokumentasian, namun nantinya
dalam hasil ahir, harus diedit, dipotong,
dipisahkan, agar gerak PAN kanan PAN kiri
yang berulang-ulang tidak tersajikan
dalam hasil akhir.
c)Jangan melakukan track back (gerakan
kamera bersama tripod mundur
kebelakang) kecuali dengan obyek
manusia yang bergerak menuju kamera.
Pada intinya, ini merupakan perluasan
dari aturan nomor a) di atas, yaitu jangan
membuat pergerakan kamera tanpa
alasan yang jelas bagi pemirsa.
Gerakan track back pada orang yang
bergerak menuju arah kamera adalah
untuk tetap menjaga jarak . Juga ketika
mengambil sekelompok orang yang
bergerak , gerakan track back mempunyai
alasan,yaitu menjaga agar tidak ada
anggota dari kelompok yang hilang dari
frame..
Juga ketika sedang mengambil gambar
seseorang yang duduk dengan shot
medium close up ,tiba-tiba orang tersebut
bangkit berdiri, maka kamera bisa
melakukan gerakan track back, atau zoom
out ,agar orang tersebut masih tetap
masuk dalam frame camera. Gerakan track
back berkesan meninggalkan lokasi.
Contoh lain adalah ketika kita mengambil
gambar awal seorang guru yang sedang
duduk di depan kelas memberi penjelasan
pada murid-murid. Pada shot awal kita
mungkin menggunakan medium shot,
tapi ketika kemudian guru tersebut
berdiri dan menulis di papan tulis di
belakangnya, kamera sudah selayaknya
track back, agar tetap dapat “mewadahi”
guru yang telah berdiri tersebut. Pada
gerakan track back ini, jangan terjadi
terlalu awal atau terlambat, namun harus
pas dengan gerakan si obyek. Hal ini juga
yang kita lakukan dengan mata kita,yaitu
selalu mengikuti dan menyesuaikan
bidang penglihatan agar obyek tetap
terus terlihat dengan baik.
d)Bedakanlah ukuran-ukuran shot (size)
jika mengambil suatu obyek bergerak
berulang-ulang. Minimal dua ukuran shot
yang berbeda.
Contohnya : jika anda mengambil gambar
peristiwa demonstrasi di sebuah tempat
misalnya, ambilah gambar adegan-
adegan disanadengan beberapa type
ukuran shot. Misalnya anda mengambil
sekelompok demonstran yang sedang
mengelilingi seorang demonstran yang
sedang berorasi dengan full shot(FS),
maka usahakan pada shot berikutnya
anda mengambil sang orator itu sendiri
dalam close up (CU) atau medium close up
(MCU)
Setelah itu jika anda menyambung lagi
dengan mengambil sekelompok
demonstran dari posisi pertama, dengan
shot yang pertama lagi, tidak akan terjadi
suatu “lompatan” (jumping) akibat ukuran
gambar sama, tetapi posisi pasti tidak bisa
persis sama .
“Lompatan” atau jumping terjadi jika dua
buah adegan yang sama diambil dengan
size shot yang sama, disambung dalam
editing. Apalagi untuk shot berukuran
besar seperti close up (CU) .Akan terasa
gambar itu seperti meloncat sekejap,
akibat posisi obyek yang sama , hanya
sedikit berbeda jaraknya.
Demikian juga angle pengambilan,
usahakanlah tidak hanya statis dari satu
sudut saja. Dengan mengambil gambar-
gambar bervariasi ukuran shot-nya, anda
telah menyediakan stock shot untuk
keperluan transisi pada saat pengeditan
nanti.
III.FILOSOFI TELEVISI ADALAH CLOSE UP
Dalam pemilihan ukuran shot, jangan
segan-segan memilih ukuran besar untuk
wajah seseorang. Ukuran close up (CU)
atau big close up (BCU) sangat sering
digunakan . Pengambilan wajah
seseorang dengan ukuran besar tersebut
akan menimbulkan karakter dan emosi
obyek lebih muncul.
Cobalah mengambil profil wajah seorang
obyek yang sedang marah dengan CU,
bedakan dengan pengambilan berukuran
MCU (Medium Close up)yang diambil dari
depan obyek.
Pada dasarnya tayangan di televisi lebih
menyukai pengambilan gambar dengan
size close up, karena pengaruh ekspresi
tokoh dalam televisi menjadi lebih kuat.
Kita hanya harus menghindari kesalahan
pengambilan gambar dari sudut yang
mengakibatkan secara psikologis justru
berlawanan.
Contohnya : untuk menampilkan seorang
obyek yang berkedudukan tinggi atau
gagah dan berwibawa, ambilah obyek
tersebut dengan low angle, maka obyek
tersebut akan berkesan lebih berwibawa.
Namun juga harus diamati lebih dulu,
apakah si orang yang menjadi obyek itu
mempunyai lubang hidung yang besar
mendongak atau tidak, memiliki gigi
menjorok (tonggos) atau tidak, Sebab jika
demikian, maka sudut low angle yang kita
ambil untuk merekamnya justru akan
mempermalukan sang obyek, karena sisi
kekurangannya justru akan terekspose.
Demikian juga untuk orang yang botak,
sebaiknya kita tidak mengambilnya
dengan high angle.
Tujuan pemilihan angle adalah
memperoleh kesan maksimal yang sebaik-
baiknya dapat dilakukan dengan kamera.
Sebaliknya jika kita mengambil obyek
yang patut dikasihani atau seorang
“pecundang”, maka pengambilan obyek
tersebut dengan high angle akan lebih
menampakkan kesan tersebut. Sekali lagi,
hal tersebut hanyalah kesan secara
psikologis, yaitu mengumpamakan diri
kita sebagai “mata” dari kamera.
Selain itu high angle sangat baik untuk
mengambil situasi ditempat kejadian
sebuah peristiwa, misalnya sebuah
karnaval sedang berlangsung di jalan.
Sedangkan untuk meliput suatu daerah
yang baru saja dilanda tsunami sebaiknya
di liput dari udara (dengan helicopter
misalnya), dengan suatu angle yang
disebut sebagai bird’s eye, yaitu
pandangan seekor burung yang
menyaksikan pemandangan dari udara
sambil terbang.
IV.FOCUS & ZOOM
Salah satu hal yang paling menjengkelkan
ketika menyaksikan hasil pengambilan
gambar adalah TIDAK FOCUS.
Semua camcorder modern sekarang ini
dilengkapi dengan fitur AUTO FOCUS.
Apalagi handycam. Dengan auto focus,
kamera langsung mengatur titik focus
pada obyek yang ada di depan lensa
kamera pada saat itu. Otomatis ketika
kamera bergerak ke lain obyek atau
berpindah posisi, focus nya otomatis
berubah lagi, disesuaikan dengan obyek
baru yang berada di depan lensa, artinya
obyek-obyek lain yang tidak berada pada
titik focus kamera akan tidak jelas.
Akibatnya banyak orang yang tidak
mengerti kapan menggunakan fitur auto
focus akan menghasilkan gambar yang
buruk dan mengecewakan.
Oleh karena itu gunakanlah pengaturan
focus manual sebelum pengambilan
obyek-obyek yang berada pada tempat
terbuka, apalagi dengan banyak latar
belakang. Caranya adalah: Pada saat
kamera mulai di ‘ON’ kan(belum RECORD,
masih PAUSE), tekan tombol zoom (in)
sampai mentok pada sebuah obyek yang
cukup jauh, katakanlah seekor kerbau.
Setelah kerbau tersebut terlihat sangat
focus (jelas), silahkan menekan zoom out
menuju obyek lain yang ingin diambil. Jika
sudah sesuai size shot dari obyek yang
akan diambil, barulah pencet tombol
RECORD. Dengan cara itu focus dari obyek-
obyek yang diambil lebih dekat jaraknya
dari obyek kerbau akan terekam dengan
jelas,focus.
Yang juga tidak kalah menjengkelkan
adalah penggunaan zoom yang
sembarangan. Handycam sekarang ada
yang mempunyai pembesaran digital
sampai 300 X (300 kali) Hal ini
menyebabkan obyek gambar yang
diambil dengan zoom terbesar akan
sangat bergetar, karena sedikit saja
tangan kita yang memegang kamera itu
bergerak, obyek yang sangat jauh tapi
sedang ‘didekatkan menjadi sangat dekat’
itu akan berguncang hebat. Gerakan
sebesar 1 di tangan kameramen akan
diperbesar sebanyak 300 kali pada obyek,
akibatnya obyek menjadi sangat
berguncang.
Untuk mengurangi guncangan seperti itu,
jangan melakukan zoom in terlalu besar
pada obyek yang terlalu jauh. Kecuali anda
menggunakan sebuah tripod.
Jangan melakukan zoom in atau zoom out
dengan tersendat-sendat. Sangat tidak
enak disaksikan. Ajrut-ajrutan. Juga
jangan membuat shot dengan zoom in
lalu zoom out berulang-ulang. Memang
ada jenis shot yang dikenal dengan
sebutan PUMPING SHOT (seperti orang
memompa) ,yaitu penggunaan zoom in –
zoom out secara cepat dilakukan
beberapa kali. Namun itu adalah dengan
suatu kesengajaan untuk menimbulkan
effect kreatif atau ‘becanda’
Untuk sementara rasanya sudah cukup.
Dengan telah mengetahui berbagai tips
pengambilan gambar di atas, maka
rasanya anda telah mempunyai cukup
bekal untuk melakukan pengambilan
gambar. Nah tunggu apa lagi ? segeralah
mencari peristiwa untuk melatih
ketrampilan dan memulai jam terbang
anda yang pertama!
V.BAHASA GAMBAR
Tak ubahnya seperti bahasa verbal yang
kita gunakan sehari-hari untuk
berkomunikasi, para pembuat karya
rekam tayang juga harus
‘mengkomunikasikan’ karya mereka
melalui sebuah bahasa yang dikenal
sebagai bahasa gambar. Sebuah film
menunjukkan cara seorang sineas
bertutur melalui bahasa gambar.
Bertutur melalui bahasa gambar
merupakan keahlian tersendiri bagi setiap
sineas. Jika seorang penulis novel
menuturkan kisahnya melalui
tulisan,maka seorang sineas menuturkan
kisah melalui gambar,yang disebut film .
Oleh karena itu film yang baik harus
mampu menyuguhkan cerita dalam
adegan-adegan ataupun shot-shot yang
mampu bicara, mampu memperlihatkan
dan menggugah emosi.
Seperti juga para penulis yang memiliki
gaya bahasa-gaya bahasa masing-masing,
setiap sineas juga memiliki gaya bertutur
melalui bahasa gambar yang sesuai
dengan gaya mereka masing-masing.
Contoh puisi karya Chairil Anwar di
bawah ini,dapat menjelaskan gaya
seorang penyair mengungkapkan
perasaan.
AKU
Oleh : Chairil Anwar S
Kalau sampai waktuku
Ku mau tak seorang kan merayu
Tidak juga kau
Tak perlu sedu sedan itu
Aku ini binatang jalang
Dari kumpulannya terbuang
Biar peluru menembus kulitku Aku tetap
meradang menerjang
Luka dan bisa kubawa berlari Berlari
hingga hilang pedih peri
Dan aku akan lebih tidak peduli. Aku mau
hidup seribu tahun lagi
Tentu saja seorang yang awam , tak
dapat mengungkapkan deskripsi diri
sehebat Chairil Anwar . Mungkin dengan
gaya bahasanya sendiri, jika dia diberi
tema yang sama untuk mendeskripsikan
dirinya yang sedang sekarat, bahasanya
kurang lebih akan seperti di bawah ini:
AKU
Oleh : Orang Awam
Kalau nanti aku sudah tua dan sakit-
sakitan,mendekati ajal, maka aku ingin
jangan ada seorangpun dari kalian yang
mencoba-coba untuk berdoa atau
memohon kepada Tuhan YME
agar sakitku
disembuhkan dan umurku
dipanjangkan.
Kamu
juga jangan ya sayangku,kekasih
hatiku…
janganlah
engkau nanti menangisi kematianku, aku
ini orang yang tak berguna, parah dan
banyak dosa, aku penghianat yang
dibenci kawan-kawanku
semua….
dsb dsb dst dst…
Dapat kita rasakan bersama bahwa gaya
bahasa orang awam terasa ‘kurang
tajam’ ,tidak menggigit, kurang keren,
sehingga berkesan sebagai ungkapan
yang ‘biasa-biasa saja’. Dalam bahasa
gambar,seorang sineas juga harus
berusaha agar filmnya tidak biasa-biasa
saja,sehingga ia harus memeras imajinasi
dan sense of art nya.Jika kita saksikan
sebuah film yang dibuat oleh seseorang
amatiran, pasti gambar-gambar yang
disajikan kurang menarik,seringkali lebay
(berlebih-lebihan).Hal ini disebabkan
orang awam/amatiran tidak mengenal
gaya bahasa gambar.Tentu saja acting
para pemain ikut menentukan kualitas
sebuah film, namun secara lebih kongkrit,
seorang sineas harus mengerti dengan
baik teknik-teknik dan gaya pengambilan
gambar. Hal ini dapat dipelajari secara
umum melalui pemahaman tentang apa
itu komposisi gambar, filosofi sudut-sudut
pengambilan gambar dan pergerakan
kamera. Selain itu seorang sineas (dalam
hal ini adalah sutradara) harus mampu
mengarahkan gaya (men- direct /
menyutradarai) pemain, sehingga
tercapai adegan yang diinginkan, sesuai
dengan tuntutan cerita dan emosi yang
hendak dicapai. Bukan membiarkan
pemain melakukan acting sendiri-sendiri
semaunya.Sebelum melakukan
pengambilan gambar,sutradara sering
meminta seorang juru gambar membuat
story board terlebih dahulu, untuk
menggambarkan ide pengambilan
gambarnya nanti, agar cameraman dan
para pemain tahu persis apa keinginan
sutradara dalam mewujudkan bahasa
gambarnya.
contoh-contoh story board
Para pekerja film / film maker yang terdiri
dari produser,
sutradara,cameraman,lightingman,
audioman,penulis naskah,pembangun set,
juru make up, juru tata busana, juru efek,
dll.bekerja sama dalam pembuatan film
agar dapat membuat sebuah film yang
mampu bertutur dalam bahasa gambar
yang sebaik-baiknya.
Untuk sedikit lebih menjelaskan,
perhatikanlah video-video promo dari
film-film yang akan diputar di televisi.
Disitu seorang pembuat video promo
sudah berhasil mengumpulkan dan
menemukan adegan-adegan terhebat
dalam sebuah film, yaitu adegan-adegan
yang secara sangat kuat mampu
berbicara dalam bahasa gambar.
sumber: MODUL SINEMATOGRAFI Pak
KUKUH HENDRIAWAN
Share this:
Twitter Facebook 15
0

Sabtu, 18 Februari 2017

Nada Dering Unik

I talked into an Android and the magical app Songify transformed my unremarkable speech into a song to which all mankind can now dance. http://khu.sh/songify_58a85533e5509&v2