<p align="justify"> Sejarah Singkat Gorontalo
Sejarah singkat Gorontalo adalah merupakan salah satu suku bangsa yang ada di Indonesia. Menurut JGF Riedel salah satu sarjana antropologi belanda mengemukakan bahwa penduduk Gorontalo.termasuk ras melayu Polinesia yang datang dari bagian utara. Pada waktu mereka masuk didaerah Gorontalo , daerah itu sudah ada penduduk asli yang mendiaminya. Pada perkembangan selanjutnya terjadilah percampuran di kalangan mereka. Selain antara ras melayu Polesnia dengan penduduk asli Gorontalo, pada perkembangan berikutnya telah terjadi pula pembaruan antara penduduk setempat dengan penduduk yang berasal dari sebelah timur yakni daerah Ternate , Tidore, kendari selatan seperti Bugis dan Makassar. Hal ini terjadi pada saat masuknya agama Islam didaerah Gorontalo.
Menurut sejarah dan bukti yang ditemukan , dulunya Gorontalo adalah wilayah yang tergenang air, bagian dari lautan. Hal tersebut terbukti dengan Banyak ditemukan garam, karang dan kerang di puncak- puncak perbukitan Gorontalo. Ketika air surut , perlahan terbentuklah rawa dimana tola (ikan gabus) berkembang biak. Rawa yang kemudian menjadi daratan ini lalu disebut ( hulua lo tola ) atau tempat perkembangan ikan gabus. Yang kemudian peristilahkan itu di eja menjadi Hulonthalo.
Asal usul kata Hulonthalo ada beberapa versi. Disamping hulua lo tola ,ada juga pendapat bahwa kata itu berasal dari huntu langi-langi ( perbukitan yang tergenang air) ada pula yang berpendapat hulonthalo diambil dar kata hua lo ntalengo (hua adalah sebutan orang Gorontalo terhadap kerajaan Gowa di Sulawesi Selatan, lo ntalengo berarti merantau) . Hulonthalo bisa berarti " orang Goa yang merantau" bisa juga berati ' lebih mulia' Hulonthalangi ini yang menjadi nama kerajaan yang kemudian disebut Hulonthalo.
Tatkala orang Belanda menginjakkan kakinya di bumi Hulonthalo, lidah mereka kesulitan meng-eja nama daerah ini dengan tepat. Mereka menyebutnya Horontalo ( ditulis : Gorontalo). Mendapatkan mengatakan ,asal nama Gorontalo adalah" Gunung Telu " , yaitu ucapan orang -orang kerajaan Goa ketika pertama kali merqntau kederah ini , mereka melihat tiga buah tonjolan gunung , tapi pendapat ini seperti nya agak ' dipaksakan'. Demikian awal mula mayerakat Gorontalo terdapat disekitar gunung. Kerajaan tertua adalah kerajaan Wadda yang terletak dilereng Gunung Boliyohuto dengan rajanya Buniyaguguto. Versi lain mengatakan kerajaan ini terletak di Suwawa. Setelah itu muncul kerajaan Suwawa didaerah dataran tinggi baangiyo dikaki gunung Tilongkabila. Keajaan Suwawa merupakan serikat yang terdiri Suwawa, Bone dan Bintauna. Raja pertama dari kerajan ini adalah Ayudugiya.
Kerajaan Suwawa terdiri dari dua kelompok masyerakat. Pidodotiya adalah kelompok yang menetap dan Witohiya sebagai kelompok yang bebas merantau kemana- mana. Semakin air surut , wilayah perantauan kaum Witohiya makin luas yang memungkinkan mereka yang kemudian kawin mawin didaerah perantauan.
Putri Buladya, seorang keturunan kelompok Witohiya , adik raja Mooduto- raja Suwawa ke-19 dinikahi Humolanggi, pemimpin Linula ( kerajaan kecil ) Hulonthalangi. Anak ketrunan mereka bernama Matolodula yang kemudian memerintah di Hulonthalangi sebagai olongiya (pemimpin raja. Orang-orang Witohiya lainnya telah menyebar ke saentero Gorontalo dan Bolango. Bahkan diantara mereka sampai ketanah Mongondow di timur dan Buol di barat.
Pada tahun 1330 munculah kerajaan Limboto. Kerajaan ini merupakan negara serikat dari lima kerajaan kecil yang disebut Dutu. Perserikatan ini diperakarsai oleh seorang perempuan bernam Mbui Bungale yang kemudian dipilih menjadi ratu Pertama. Pada tahun 1385 Matolodula mendirikan kerajaan Gorontalo. Orang-orang Suwa menyebutnya Matonotingga yang maknanya sama dengan kata Matolodula itu sendiri. Putra Matahari maksudnya putra yang berasal dari arah matahari terbit ( Kerajaan Suwawa ). Ketika itu terdapat 17 Linula di Gorontalo, seringkali terjadi pertengkaran dan peperangan antara linula-linula yang ada. Perwatakan masyarakat ketika itu memang mudah tersinggung serta memiliki ke akuan yang terlalu tinggi , sehingga sedikit saja terjadi salah paham akan berakhir dengan peperangan. Dalam situasi yang tidak menentu itulah kepemimpinan Matolodula dimulai di linula Hulonthalangi. Matolodula resah dengan keadaan seperti ini. Bangkitlah rencana besarnya untuk mempersekutukan Linula-linula tersebut dalam sebuah peperintahan syarikat yang disebut Pohala'a.
Setelah melalui proses yang cukup berat, akhirnya Matolodula berhasil mengundang Olongiya- Olongiya dari 16 Linula lainnya untuk mengadakan rapat ditempat yang bernama Padengo Bo'idu. Disinalah ia mengemukakan usul tentang persatuan Linula- Linula yang ada. Dalam rapat itu Matolodula mengemukakan argumen- argumen tentang perlunya persatuan antara linula-linula. Menurutnya, persatuan itu ditujukan tidak hanya sebagai upaya "gencetan senjata" antara linula , tetapi lebih dari itu persatuan ini akan menambah kekuatan untuk mengatasi potensi ancamqn dari bala tentara kerajaan-kerajaan besr diluar Gorontalo.
Dengan tata bicaranya yang sopan dan amat meyakinkan, akhirnya pembetukan Pohala'a Hulonthalo ( Gorontalo ) itu disetujui. Lahirnya kerajaan Gorontalo dalam bentuk federasi. Persoalan sekarang , siapa yang memimpin syarikat kerajaan ini? Lagi-lagi naluri sosial politik Matolodula menjadikannya terpilih sebagai Olongia Lo Lipu ( pepimpin , ketua presedium, maharaja Pohalaa ). Menurut para Olongiya linula-linula yang hadir pada rapat tersebut Matolodula sangat pantas duduk sebagai Olongiya Lo Lipu karena dia dinilai paling cerdas dan relatif memiliki hubungan baik dengan seluruh pemimpin Linula yang ada.
Kecerdasan Matolodula menjadikan rapat ini disepakati pula sebagai hasil persidangan Bantayo Poboide ( dewan musyawarah). Selanjutnya hasil-hasil sidang sangr dipengaruhi oleh usulan-usulan sang raja baru ini. Sidang ini kemudian kemudian memutuskan bahwa pemerintah hanya berdasarkan musyawarah. Diputuskan pula struktur pemerintah dan jobs description berdsarkan Ungaala'a ( tatanan keluarga). Sebagai ' Nenek' adalah para Baate ( Tokoh pemangku adat). Yang secara adat berhak memilih raja ( tatanan keluarga).
Sebagai 'Nenek' adalah para baate ( tokoh /pemangku adat). Yang secara adat berhak memilih raja , melantik dan memecatnya lewat sidang musyawarah. Bertindak sebagai "orang tua" adalah para udula'a yang bertugas menjalankan dan mengendalikan pemerintah. Sebagai 'cucu' adalah para wuleya lo lipu ( staf camat sekarang). Raja Matolodula memberikan porsi kewenangan yangn cukup besar kepada lembaga-lembaga selain raja. Mungkin sekali ini harus dilakukan sebagai tindakan akomodatif atas seluruh kekuatan yang ada dalam kerajaan. Dengan cara ini dia berhasil memangkas habis kemungkinan terjaeinya pemberontakan.
Dalam rapat itu pula raja Matolodula berhasil mengelompokkan para olongiya lo linula dalam tiga golongan. Golongan pertama disebut dile ( Istri atau suami ) yang terdiri atas empat orang Olongiya lo linula yang diberi kedudukan setara dengan maharaja dan berhak secara bergantian memegang kendali pemerintah. Mereka inilah yang mula-mula dinamai Wolihi pato'o daata ( tiang- tiang negar ). Kedua, golongan tilo-tiyamo ( ibu bapak ) yang terdiri dari enam orang Olongiya Lo Linula, mereka bertugas menafkahi / memberi kesejahteraan kepada rakyat ( butu), juga bertugas merencanakan adat- istiadat dan undang-undang kerajaan ( semacam badan konstituante). Dalam upacara kerajaan mereka duduk sebelah kanan maharaja dan disebut buleme olowala ( bintara kanan ). Golongan ketiga adalah golongan yang disebut tiyombu ( kakek atau nenek ) yang terdir enam Olongiya Lo Lipu yang bertugas memelihara adat istiadat ( semacam pengawas pelaksana undang-undang). Dalam upacara kerajaan mereka duduk disebelah kiri maharaja dan disebut buleme oloyihi ( bintara kiri ).
Pada tahun 1427 setelah 45 tahun memerintah di pohala'a Gorontalo Matolodula turun tahta dan digantikan oleh anaknya Uloli. Sebetulnya yang berhak menggantikan Matolodula adalah Lihawa, Olongiya Lo Linula Hunggina , anggota golongan dile. Tetapi diluar dugaan yang menjadi Maharaja adalah Uloli, Putra Matolodula dari permaisurinya Tilabungga. Tidak ada protes , tidak pula bangkit oposisi atas keputusan tersebut. Semua diterima dengan lapang ada oleh sgenap pembesar kerajaan. Ada dua hal ya g mendasarinya. Pertama, semua orang menghargai jasa-jasa besar Matolodula sebagai Maharaja yang berhasil menjadikan Gorontalo maju dalam segala bidang. Kedua, dalam sidang Banthayo Pobo'ide ( Dewan Musyawarah). Lihawa sendiri yang menampik sebagai Maharaja. Lihawa berpidato sembari mengucapkan tujai ( sajak ) " Hunggidu Oli Uloli, didu ito otoboli , lo mani wawu totoli , ami wawu timongoli, meyi lo du'u de toli." ( kecenderungan pada Uloli , jangan kita beroposisi, karena mani sudah berubah , kami adalah kamu, sudah bercampur mendalam ).
Tidak banyak yang ditulis/diketahui orang tentang Uloli yang memerintah sekitar tahun 1427-1442. Beliau menikah dengan putri raja dari kerajaan Limboto beroleh Putra Wolango yang kemudian menjadi maharaja dan memerintah tahun 1442-1470. Raja Wolango menikah dengan raja Limboto Ratu Moliye I dan beroleh seorang putra bernama Polamolo. Ketika ia dewasa kedua orang tuanya pergi mengadakan penaklukan besar-besaran untuk memperluas daerah keteluk Tomini/ Sulawesi Tengah. Pemerintah atas Gorontalo dan Limboto diserahkan kepada Polamolo (1470-1481). Dengan demikian Polamolo menjadi raja pertama yang memerintah kedua kerajaan dengan gelar Olongiya Mobaalanga yang artinya raja yang berpindah-pindah kesana kemari tujuh hari dikerajaan Limboto dan tujuh hari di kerajaan Gorontalo.
Ada dua peristiwa penting yang terjadi pada zaman Wolango dan Polamolo. Pertama Ratu Moliye berzina dengan Hilibala Luntudulungo (penunjuk jalan / pimpinan rombongan) Hulonthalo sepulang dari penaklukan dibteluk Tomini/ Sulawesi Tengah. Kedua, dibunuhnya raja Polamolo (olongiya lo baalanga) oleh pembese pembesar kerajaan Limboto di perbatasan antara kerajaan Limboto dan Gorontalo, yaitu ditempat bernqmq Dehuwalolo. Pembunuhan itu terjadi karena para pembesar kerajaan Limboto, raja Polamolo telah menghina kerajaan mereka. Penghinqqn itu terjadi mungkin masih berkaitan dengan tuduhan perzinahan yang dilakukan Moliye. Kedua peristiwa ini menjadi bagian dari penyebab utama lobiyonga ( perang seudara) antara kerajaan Limboto dan Gorontalo yang berlangsung selama lwbih kurang 200 tahun.
Putri Ntihedu; saudara Wolango menggantikan Polamolo. Masa pemerintahanya(1481-1490) menandai dua hal, yakni berakhirnyan masa kepemimpinan raja tunggal dan dan perang antara kerajaan Limboto dan kerajaan Gorontalo makin menjadi. Pada tahun 1490 Ntihedu digantikan oleh putranya , Detu. Masa pemerintahan Detu sampai tahun 1503 dan kemudian dia digantikan oleh anaknya Amai. Putra Detu Ini memperbesar wilayah taklukan di Teluk Tomini. Dipalasa dia jatuh cinta kepada Owutango, putri raja Bonenato dari kerajaan Gomonjolo. Orang tua putri menerima pinangan sang raja Amai. Putri raja Owutango mensyaratkan kepada Amai agar anak keturunanya dan seluruh rakyat Gorontalo harus memeluk Agama Islam.
Setelah segala persyarran dipenuhi , diboyonglah Owutango ke Gorontalo (1525). Putri ini dikawal raja-raja kecil dari Gomonjolo. Mereka tiba di Hunto ( sekarang masuk kelurahan Biawu ) Kecamatan Kota Selatan Kota Gorontalo. Dan ditempat ini pula mereka membangun mesjid pertama di Gorontalo. Mulai saat ini mulailah Syiar Islam dikerajaan Gorontalo. Amai berusaha memasuki Masyarakat hampir pada tiap sisi kehidupan mereka. Lembaga-lembaga pendidikan , hukum keluarga , seni dan budaya dimanfaatkan dengan serius untuk mensosialisasikan Islam. Dikalangan generasi muda, Islam diperkenalkan lewat tarian antara lain ; tidi lopolopalo yang mengandung ajaran bahwa manusia sama derajatnya dihadapan Tuhan Yang Maha Esa, tidak mengenal ras ,bangsa , golongan ,kaum jelata dan bangsawan. Yang membedakan manusia hanya pada keluhuran akhlak.
Dengan metode yang kurang lebih sama dengan apa yang dilakukan oleh Wali Songo dipulau Jawa , raja Amai menjadikan Islam ditrima sedikit demi sedikit di Gorontalo. Ia tidK langsung menghapuskan hukum- hukum adat yang sudah ada , tapi mengintroduksi nilai-nilai Islam kedalam hukum-hukum adat tersebut. Prinsip Amai ; Syara'a hulo-hulo'a to adati ( syara' bertumpu pada adat ). Disini ditekankan bahwa sumber hukum utama adalah hukum adat. Dari Owutango , Amai beroleh putra yang diberi nama Matolodulakiki yang dinobatkan menjadi raja Gorontalo pada tahun 1550. Perjuangan pertama yang utamanya salah menjadikan Islam sebagai Agama kerajaan. Keimanan Islam yang ditanamkan dengan mantap oleh ibundanya dan para raja kecil dari Gomonjolo menjadikan sebagai pejuang Ispam sejati. Melalui perjuangan yang berat , pada tahun 1563 ( tigabelas tahun setelah beliau memerintah ), Matolodulakiki berhasil menjadikan Islam sebagai agama resmi kerajaan yang diyakini oleh seluruh rakyat. Pandangan hidup "Syara'a hulo-hulo'a to Syara'a, Syara'a hulo-hulo'a to adati" (Syara' bertumpu pada Syara' , Syara' bertumpu pada adat). Prinsip hidup ini menempatkan hukum Islam menjadi setara dengan hukum adat.
Perang antara kerajaan Limboto dan Gorontalo yang dipicu oleh terbunuhnya raja Polamolo masih berkecamuk pada masa pemerintah raja Matolodulakiki ini. Perang ini berlangsung sampai dengan raja Pongoli'uda'a memerintah Gorontalo Bumulo mengirim Khatibida"a (Khatib Agung) Eyato bernegosiasi dengan pembesar-pembesar kerajaan ) Limboto. Pengiriman utusan ini dimaksudkan untuk mengakhiri perang saudara antara dua kerajaan yang telah berlangsung kurang lebih sekitar 200 tahun. Diplomasi Eyato yang luar biasa lihainya mengantarkan kedua kerajaan untuk membetuk persekutuan. Limboto pada saat itu mengutus Popa , seorang pembesar kerajaan yang berpangkat Jogugu. Selama tujuh hari lamanya mereka merundingkan kesepakatan tersebut , yqng akhirnya dituliskan bahwa Gorontalo dan Limboto dalah satu, tiada lagi ' engkau' dan ' aku', yang ada hanyalah 'kita'. Daerah orang Gorontalo adalah daerah orang Limboto, dan sebaliknya. Tertulis pula bahwa perserikatan ini berlaku untuk selamanya , sampai hari kiamat. Kesepatan perserikatan dua kerajaan tersebut tertuang dalam tuja'i sebagai berikut :
Wallahi- wallahi otutu: Dengan nama Allah yang benar
Hulonthalo Limutu. : Gorontalo Limboto
U Tutuwawuwa otutu: Yang sama dan serasi
Dahayi bolo moputu. : Jangan sampai terputus
Ode janji to buku. : Seperti janji yang terputus
Billahi, billahi, billahi. : Dengan nama Allah (3x)
Limutu Hulonthalo. : Limboto Gorontalo
Dahayi Maawalo. : Jangan sampai retak
Wonu bolo maawalo: Jika sampai retak
Mowali mobunggalo: Akan menjadi hancur berantakan.
Makna dari tuja'i tersebut menjelaskan sebab akibat, yaitu apabila jika tidak memelihara kerukunan kedua negeri , maka negeri tersebut akan hancur dan Masyarakat akan menjadi liar kembali. Limboto dan Gorontalo bukan bersaing dengan penonjolan, tetapi saling mendukung dalam pembangunan. Perbedaan pendapat mesti dimusyawarahkan dalam lingkaran rasa perseudaraan yang kokoh.
Pada tanggal 12 Sya'ban 1084 H ( akhir November 1673 M), naskah perjanjian itu dibawa ketengah Danau Limboto. Seluruh pembesar kedua kerajaan berdiri hikmah diatas perahunya , lalu membacakan naskah tersebut sebagai sumpah suci yang tiada bakal pernah berubah sepanjang masa. Sepasang huangga ( pedang perang ) dan dua buah cincin emas yang saling bertautan ditenggelamkan kedasar danau sebagai pertanda perseudeaan. Inilah yang disebut sebagai janji Lo Uduluwo Limolo PohalaA ( Persatuan dari dua dan Lima Kerajaan ). Maka berakhirlah perang sauadra yang telah berlangsung selama 200 tahun. Sebagai penghargaan atas prestasinya dan dalam penandatanganan naskah tersebut , Eyato sebagai pimpinan delegasi kerajaan Gorontalo diangkat menjadi Jogugu.
Pasca perundingan di atas Eyato menikah dengan ratu Moliye III yang selanjutnya minta berhenti untuk digantikan suaminya pada tahun 1673. Naiknya Eyato ketahta kerajaan merupakan monumen terputusnya dinasti MatolodulaA. Dia tidak hanya cerdas dan ahli tata negara , tetapi juga dia punya Kharisma ,karir dan Ilomata (karya) yang memikat. Dia adalah pembuat Undang-undang , diplomat ulung , juru damai pemerintahnya tergolong bagus. Dalam menjalankan pemerintahan , Eyato mempraktekan demokrasi, baik menurut warisan sejarah Gorontalo maupun kreasinya sendiri. Ciri ajaran demokrasi tersebut antara lain: Pertama , kedaulatan rakyat. Jika dalam pelantikan ada musyawarah raja-raja sebelum Eyato dikenal pernyataan huidu lohunthu data ( gunung menjunjung dataran ) , maka pada masa Eyato datahu lohuntu huidu ( dataran menjunjung gunung ). Artinya rakya yang memilih dan menentukan pimpinan/penguasa. Kedua, pembatasan kekuasaan. Dalam menjalankan ulipu ( pemerintahan ) kekuasaan terbatas dicirikan oleh hal- hal sebagai berikut: (1) Tugas maharaja adalah ' membatu' Tuhan dan Nabi untuk menciptakan segala kebaikan bagi rakyat. (2) Dalam memakmurkan rakyat, maharaja harus bertindak sesuai dengan sifrat Tuhan yang maha Pengasih dan Penyayang seperti dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW. Agama menjadi patokan utama dalam mengendalikan kerajaan. (3) Pemerintah dipimpin oleh dewan permusyawaratan.
Hukum dasar dicanangkan oleh Matolodulakiki "Aadati Hulo-Hulo'a to Syara'a, Syara'a Hulo-Hulo'a to Aadati" ( Adat Bertumpu pada Syara', Syara' bertumpu pada Adat ). Pada masa Eyato disempurnakan menjadi " Aadati Hulo-Hulo'a to Syara'a, Syara' a Hulo-Hulo'a to Quru'ani" ( Adat Bertumpu pada Syara' , Syara' bertumpu pada Al-Qur'an ). Eyato menjadikan hukum Islam menjadi satu-satunya sumber hukum dikerajaan Gorontalo. Denagn demikian, sejak masuknya Islam hingga menjadi Agama resmi kerajaan sampai hari ini telah menyatu dan menjadi identitas Masyarakat Gorontalo. Kejayaan pemerintah raja Eyato diteruskan oleh raja Botutihe (1728-1755). Sambil meneruskan tradisi Gorontalo yang diwariskan dari Eyato, dia membangun bandar Gorontalo sebagai pusat pemerintah menurut rencana penataan kota yang matang. Ditengah tengah pusat pemerintahan dibangun mesjid Baiturrahim (mesjid agung sekarang). Dibuatkan pula saluran-saluran air untuk mengairi sawah-sawah yang baru di buka, jalan-jalan dibangun , pasar bahkan kompleks pekuburan juga ditentukan.
Hampir dipastikan penduduk asli Gorontalo seluruhnya memeluk agama Islam ( meskipun sulit memastikan seberapa besar kadar ke Islamannya ). Jika tiba-tiba kedapatan ada diantara mereka yang tidak beragama Islam maka hampir dapat dipastikan mereka dari kalangan murtad atau keturunannya. Karena itu ( waktu masih bergabung dengan Sulawesi Utara ) dikenal bahwa Gorontalo dari segi agama identik Islam sedangkan Manado/ Minahasa identik dengan Kristen.
Pandangan hidup adat istiadat yang berlandasan Islam yang telah menyatu dalam kehidupan mereka ( maalotombowata ), menyebabkan penduduk asli Gorontalo malu jika disebut bukan Islam ( diila tiiluna ). Bahkan mereka merasa dihina dan tak jarang bisa mengakibatkan pembunuhan. Sedangkan mereka yang menjadi murtad sebagian besar ( tidak menyebut seluruhnya ) harus pindah kedaerah lain.
Bagi masyerakat Gorontalo, tanggal 23 Januari 1942 adalah tanggal yang dikenal sebagai momentum yangn sangat sarat nilai historisnya. Pada tanggal tersebut Gorontalo dibawah pimpinan Nani Wartabone bersama masyarakat memproklamirkan kemerdekaan Gorontalo dari penjajah bangsa Belanda. Peristiwa pada tanggal tersebut kemudian dijadikan hari kemerdekaan Gorontalo yang diperingati setiap tahunya.
Sumber : Makalah Islam Dan Budaya Lokal ; Oleh Moh. Ihsan Husnan
Ditulis Kembali
Oleh : Haris Ismail
</p>